Sekali berarti. Sudah itu mati. – Chairil Anwar.

Di sela-sela penghormatan terakhir, seorang kawan mengutarakan larik sajak sang pujangga. Hidup berarti memang akan menarik sesuatu yang di luar prediksi. Semacam beberapa anak muda yang kemudian masih bersedia turun ke jalan, sebuah tempat peristirahatan semasa hidup seseorang.

Anak-anak muda yang tergabung dalam siklus sampurasun – raamfest, merasa telah kehilangan sosok yang mengabdikan diri pada hidup sedemikian mengalir. Barangkali, mereka merasa menjadi Ronin, para samurai yang kehilangan tuannya. Hidup sekali lagi harus berarti agar dikenang abadi, tidak ingin dikasihani, dan hahahihi. Pelajaran terbaik bagi mereka semasa Pak Mmelmi ada dan tiada adalah satu frekuensi bukan sekadar kata-kata. Akan tetapi, bergerak tanpa henti hingga malaikat maut menghampiri. Satu hal yang tidak akan musnah dalam kehidupan dan kematian adalah bermanfaat sepanjang hayat.

alt
Night to Remember

Tepat tujuh hari setelah kepergian Pak Mmelmi yang meninggalkan duka mendalam terkhusus untuk anak-anak muda yang terlibat garapan sampurasun – raamfest, (Rabu, 7/3/2018). Gerakan yang sempat mati suri beberapa bulan karena fokus pada garapan masing-masing. Namun, almarhum Pak Mmelmi kemudian mengingatkan semua anak muda dengan kematiannya. Semua pihak yang terlibat dalam garapan raamfest kemudian berinisiatif berkumpul lagi. Menyamakan suara dalam doa dan menerjemahkan ajaran Pak Mmelmi tetang hidup yang tidak berandai-andai.

Pergola x Tangkal Kopi Jalan Mohammad Hatta Nomor 54, sebuah kedai kopi sebagai tempat awal seluruh gerakan dimulai. Tempat tersebut adalah saksi hidup pertemuan anak-anak muda yang menanam benih-benih harapan dalam melahirkan multikarya dari Tasikmalaya.

“Aku tidak ingin dibantu dan meminta bukan karena tidak membutuhkannya, tetapi masih sanggup berusaha dengan kemampuan dua bahasa,” pesan Pak Mmelmi suatu hari yang ditirukan Aria dalam epitaf di hadapan anak-anak muda. Aria berharap agar spirit Pak Mmelmi tidak pernah mati.

alt
Penghormatan Terakhir

Setelah panjang lebar mengenang berbagai kisah Pak Mmelmi ternyata almarhum seorang yang multitafsir. Tidak hanya ‘Sebuah Tafsir’ seperti judul lagu Supercharger dalam album kompilasi “Satu Frekuensi”. Paling tidak, Pasukan Raamfest dapat menerjemahkan satu tafsir yang bermakna untuk memilih satu tujuan.

Meto, bungsu almarhum Pak Mmelmi turut hadir yang memiliki saudara bernama Meti, Metu, dan Meta. Ia pun ikut mengisi acara yang barangkali baru mengetahui tentang keajaiban sosok ayahnya. Betapa tidak, anak-anak muda tergerak menyelenggarakan acara dengan menjual kaos untuk dipersembahkan kepada keluarganya.

alt
Persembahan Bimo

The Little Lizard, Tiger Work dan Hi Band mempersembahkan lagu-lagu untuk dinikmati Meto yang mewakili keluarga almarhum. Termasuk Inggri Dwi Rahesi dari Konde Sartika yang membacakan puisi yang ditulisnya seketika dalam waktu lima menit. Penggalan puisinya dapat dihayati Meto dan keluarga seperti di bawah:

Untuk Meto. Kehilangan adalah asah pisau yang tajam. Membelah antara asa dan pertanyaan. Tapi perpisahan bukan hukuman. Kesunyian bukan penjara. Meto, kau tak perlu tenggelam di dalam kesendirian. Lari saja! Pada arah yang lebih terang. Percayalah! Jarum jam akan bergerak tenang. Sebab waktu akan menggantikan yang hilang. Seperti kenangan dari bapakmu yang tak akan pernah pulang. Meto, kami sayang.

Napak tilas menutup acara dan kegiatan pada pukul 22.30 di perempatan Citapen, tepat di bawah lampu stopan, sebuah tempat perisitirahatan almarhum selama menjadi penerjemah keliling semasa hidupnya. Karangan bunga dengan kalimat, “Beristirahatlah dengan tenang Pak Mmelmi, terima kasih telah menginspirasi dari Raamfest Movement”.

Dokumentasi: Yudha Sunandar dan Raizal.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here