Dua tahun terakhir, sang Oemar menempuh perjalanan ke delapan arah mata angin. Termasuk menepi ke berbagai tempat singgah juga. Selama bercengkerama dengan beragam rupa wajah dan karakter orang-orang, satu per satu dekat dengan mereka. Berbagi tempat itu bisa sesaat, tetapi berbagi tali kekerabatan itu abadi. Meskipun setiap bertemu hanya menggelar gelak tawa yang langka hadir di meja-meja. Inilah hidup, tertawa lepas tanpa menghakimi sesiapa. Maafkan para malaikat, beberapa namamu menjadi topik yang membahagiakan di atas meja pertemuan. Ini juga bagian dari rembuk nasional paling kecil lingkarannya. Paling tidak, saling memberi kebahagiaan meski dengan sebotol kopi coolbrew. Pada akhirnya, si Bibi dari Betawi menagih setiap pesanan yang telah selesai dinikmati sang Oemar dan kawan-kawannya. Sebab pertemuan kecil itu dilaksanakan di sebuah warteg gedung milik negara. Intinya adalah berbahagialah karena siapa pun di seluruh dunia mencarinya.

Apakah mungkin? Iya, tentu sajalah karena selama gravitasi masih bekerja, apa pun dapat terjadi. Tidak akan dapat melawan kekuatannya. Coba saja lawan, ia tetap akan menarik tanpa henti. Artinya, antarmakhluk saling tarik-menarik. Apalagi antarmanusia. Pada suatu ruang, orang-orang dengan beragam keilmuan menyampaikan gagasan. Mereka berpendapat dengan argumen yang kuat. Maklum tamu-tamu itu adalah para profesor dan doktor, kecuali sang Oemar. Berada di antara mereka adalah sebuah pertarungan yang sengit. Pertemuan empiris dengan teori yang saling berhadapan, bahkan berjauhan. Terkadang berkelindan, bercendawan, dan berbenturan.

Pada lingkaran-lingkaran kecil meja itu, terhidang piring-piring yang menampung menu-menu logika. Saling merasai ide-ide yang diracik di dapur kepala masing-masing. Seseorang perlu menguji coba temuan-temuannya dengan beragam pandangan. Sebab suatu waktu, ia harus membuktikan kebenarannya di hadapan para ahli pikir. Paling tidak, keberanian muncul tidak atas nama babi buta, tetapi jalan ke luar semacam gua. Tidak semua orang menyelesaikan perjalanannya; ada yang menyerah, kecelakaan, bertahan, dan kembali pulang. Entah kenapa, sang Oemar merasa berada pada sebuah gelombang yang besar saat itu. “Terima kasih semesta telah membantu dalam menyelesaikan bagian naskah yang disutradarai Allah SWT,” sang Oemar mengucap syukur.

Sang Oemar berada di pinggir lingkaran meja pertemuan Gerakan Literasi Sekolah bersama Reading Bugs, Tim Inovasi Kalimantan Utara, NTT, dan lain-lain di lantai 14. Dilanjutkan pertemuan singkat di ruang lantai 8 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama Pak Alipi Kasubdit Budaya Baca. Gerakan literasi yang diinisiasi mulai dari hulu hingga hilir, alirannya memang lagi deras-derasnya. Berbagai pihak mencari cara yang tepat agar pola berpikir dari atas hingga bawah dinamis. Bukan berarti pintar berargumen dan tidak berbuat apa-apa. Apalagi menimbulkan unsur hara yang memantik bara. Bahkan, atmosfer yang telah retak ditembusi ultraviolet politik selama dua tahun ke depan dapat memengaruhi cuaca anomali di masyarakat.

Ini berarti dapat menimbulkan kecurigaan-kecurigaan terhadap berbagai kepentingan. Keresahan-keresahan akan menjadi rumput liar yang kerap menimbulkan ketidaknyamanan di tingkat bawah. Semoga semua pihak sepakat untuk meluruskan tongkat yang melenting demi warga Indonesia yang lebih penting. Bukan segolongan kaum atau kasta yang segaris dengan khatulistiwa. “Salam literasi pembebasan!” teriak sang Oemar di depan kaca jendela lantai 14.

Apa pun alasannya, sang Oemar tidak dapat menolak untuk melayani ketiga anaknya. Ia berusaha memenuhi sebaik yang dapat dilakukannya. Pada kenyataannya, seorang tua tidak dapat berlaku adil untuk sekadar membagi waktu; antara kewajiban lain dengan kehadiran setiap detik di samping mereka. Belum hasrat-hasrat yang semakin mendesak dan akhirnya bermain dadu dengan keadilan itu sendiri. Sang Oemar berani bertaruh bahwa tidak ada yang dapat menjamin kebahagiaan anak-anaknya setiap waktu. Tidak pula dapat mengklaim cara asuhnya merupakan yang terbaik dari yang lain.

Sebenarnya kebaikan-kebaikan itu akan berkembang biak, beranak-pinak, dan menjadi atmosfer yang melindungi dari terik keburukan. Jika, ya, andai saja, ketika mereka membuka pintu yang kemudian mengawali langkah pertama dari sebuah rumah berwarna adil dan bijaksana.

“Rasakan jika nanti punya anak!” ucap seorang ibu kepada anaknya yang merajuk karena terus merengek ingin dibelikan sesuatu.

“Baiklah, kalimat tadi tidak perlu diulang kepada anak sendiri,” gumam sang Oemar.

“Semoga masa depan cerah dan kebahagiaan tidak sekadar milikmu, tetapi semua orang yang hidup di masamu nanti,” kalimat doa untuk masa depan ketiga anak sang Oemar. Jadi siapa pun orang tua dan anak-anaknya, semoga bertemu atas nama kebaikan-kebaikan. Meski pada kenyataannya, keburukan dapat terjadi dalam waktu bersamaan. “Semoga baik-baik saja kalian semua!” harap sang Oemar.

Tubuh-tubuh yang bergerak di atas dan bawah permukaan terus berkecipak. Menjaga gelombang agar tidak terdengar riak-riak. Riuh-rendah percakapan di paviliun, beranda, dan ruang-ruang saling menembusi batasan. Barangkali saling menguping permasalahan yang tidak semestinya didengarkan. Bahkan, saling memandangi bagian-bagian yang lebih telanjang. Mereka merajut anyaman nasib untuk menemukan kepastian pencarian-pencarian. Bercengkerama dengan orang-orang asing yang kemudian berlalu seperti angin. Pada sebuah istana tidak melulu kemegahan, permaisuri, pangeran, tahta, dan harta tujuh turunan. Kemewahan dari warna lampu-lampu yang lebih terang dalam hidup adalah seseorang yang ketika dihubungi, ia bersedia hadir untuk mengantarkanmu pada sebuah jalan.

Seorang paman diantar keponakannya ke sebuah hotel. Ia terbang untuk pertama kalinya dari pulau tempat persembunyian matahari. Kesan pertama kali menginjaki tanah jawi membuatnya hampir kehilangan diri.

“Aku lahir di tanah Sunda, Pakce,” kalimat pertama sengaja dilemparkan sang oemar untuk ditangkap Pakce Oktavianus dari Kabupaten Jayawijaya. Sebelum bercakap panjang dengan Pakce Oktavianus, sang Oemar berkenalan dengan keponakannya terlebih dahulu. Vilemon Kokoya, namanya, tinggal di Wamena yang tengah menempuh pendidikan di Semarang.

“Kami jauh di kampung, ia pamanku yang saya antar ke penginapan ini,” jelasnya sambil melahap makan siang. Hari kedua, kami membicarakan tentang anak-anak bagian timur dan sepak bola.

“Aku bikin lagu untuk Persipura,” sang Oemar menunjukkan video yang diunggah ke youtube sejak 2013. Pakce Oktavianus mengangkat kedua jempolnya.

“Aku tunjukkan soal respect antarsuku, meskipun darahku adalah biru (Persib). Akan tetapi, hatiku tergerak untuk menciptakan lagu ‘Menjadi yang Terbaik’ ketika Persipura tidak dapat bermain di liga Champion Asia gara-gara dualisme kepengurusan PSSI saat itu. Aku membuat lagu ini karena Papua pun saudaraku, Pakce!” jelas sang Oemar panjang lebar dalam percakapan penutup pada malam terakhir dalam nuansa NKRI.

Sang Oemar berdiskusi dengan seniman dan sastrawan Fikar W Eda dan Bang Syafruddin, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Mereka merupakan dua tokoh Aceh yang pentaskan tari Saman dengan 12267 penari tahun 2017. Pertemuan yang tidak direncanakan yang tentu saja telah diskenariokan Gusti Allah SWT. Entah bakal terjadi sebuah persembahan apa dengan mereka di masa depan. Hanya saja, percikan dalam percakapan telah berpendar meskipun tidak sampai membara.

Sang Oemar bertemu dengan mereka karena kopi terbaik yang dikenal di mancanegara; kopi gayo. Beberapa orang yang kemudian memintalkan batin dan merajutnya bersama-sama. Menikmati udara lembab sebuah kedai di dekat penginapan ibu kota. Menunggu hujan untuk menuntaskan pelariannya di bumi, sebelum dan setelah magrib yang singkat. Keajaiban tidak terjadi begitu saja. Selalu ada alasan sebelum hadir di hadapan. Biasanya tidak disadari telah membentuk jejaknya di bawah lapisan bumi kesadaran seseorang. “Selamat datang keajaiban-keajaiban!” sang Oemar bergumam.

Bahkan terkadang, kematian seseorang justru menarik kembali tali-temali kekerabatan, pertemanan, dan pernikahan yang telah jauh. Bisa saja ketika semasa hidupnya ia sendirian, sepi, dan tanpa percakapan hangat di atas meja makan.  Padahal, orang-orang dalam pertemalian tadi tahu bahwa ia membutuhkan semua itu. Meskipun selama hidupnya ia tidak meminta untuk ditemani, dikasihani, ataupun dipura-purai dengan kebaikan. Ia butuh kejujuran setiap orang yang dikenali ataupun tidak, sebab sesuatu yang dipaksakan seringkali terasa tanpa getaran.

Sebenarnya, hal-hal yang disampaikan sang Oemar kepada orang-orang hebat di sebuah hotel, bukan soal kematian. Akan tetapi, beberapa hal temuan yang kemudian dapat berkelindan dengan berbagai pemikiran agar hulu dengan hilir tetap mengalirkan kejernihan. Oleh sebab itu, perlu perantara untuk menjaga perjalanan arusnya. Seperti bahasa rindu langit kepada bumi dengan kalimat hujan atau bintang jatuh.

“Intinya adalah tidak perlu mengkerdilkan siapa pun, Prof!” pungkas sang Oemar ketika diberi kesempatan memberi epitaf. Ia teringat sekumpulan anak muda yang memantik api kecil, kemudian membakar suluh semangat yang berserakan. Dalam rentang waktu selama kurang-lebih 120 hari, mulai 17 Agustus 2017, meluncurkan video multiliterasi “Sampurasun”.  Dilanjutkan peluncuran album lagu, buku, laman, foto, dan sketsa yang bersumber dari tujuh lirik sebelum akhir tahun, 16 Desember 2017. Seluruh peristiwa yang bagi sang Oemar adalah spektrum warna dalam hidupnya bahwa harapan masih ada untuk menjadi satu warna sumber cahaya. Seluruh peristiwa itu kemudian dirawat dan dijaga pada sebuah bunker rahasia. Sang Oemar singgah di kedai kopi seorang kawannya yang tinggal di kota udang.

“Ayolah, tambah buku-buku fiksi dan non fiksi!” pintanya.

Rak-rak yang berisi buku-buku bisnis, marketing, dan musik terlalu diskriminatif untuk pelanggan lain. Buku-bukunya hanya dapat dibaca kalangan tertentu saja.

“Saya tidak diberi alternatif untuk membaca buku-buku yang lain, Kawan!” sambil menyeruput secangkir espresso buatan kawannya dengan nada permohonan. Ada satu bacaan yang tidak sekadar sebuah buku. Ia adalah kitab suci Al-Qur’an yang tersimpan di pojok kotak salah satu rak.

Pada suatu Magrib, sang Oemar menunggu kawannya sebentar di selasar untuk sebuah kantung udara segar yang dibawa dari luar. Ia membaca peta kopi di negri penghasil terbesar ketiga di dunia: Indonesia. Hujan rintik-rintik berkejaran di balik kaca selasar, sang Oemar teringat ketiga anaknya ketika balahujan menahan keberangkatan di sekitar Pom Bensin Singaparna. Hampir setengah jam berlalu, tidak terasa melihat jarum waktu telah menunjukkan pukul 15.20 WIB. Ia  sengaja membawa anak-anaknya untuk berkunjung ke suatu tempat. Mereka mempersiapkan diri dengan membawa tas gendong masing-masing.

“Kita mau renang di sungai, Abi?” tanya kedua anak sang Oemar. “Ya!” jawabnya singkat. Mereka langsung menggunakan pakaian renang dengan riang.

Sebenarnya, ia memenuhi janji kepada Rizal, pendiri Self Learning Institute ketika bertemu di salah satu kedai Kota Tasikmalaya. Menindaklanjuti percakapan saat itu, sang Oemar berbagi pengalaman selama perjalanan kembali pulang ke tujuan sebuah petualangan. Beberapa hektar lahan Perhutani, disulap menjadi zona konservasi dan edukasi di daerah Malaganti, Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Perjalanan dapat ditempuh sekitar 45 menit dari Kota Tasikmalaya. Melewati dua anak sungai sebelum benar-benar tiba di tempat.

Banyak hal diperbincangkan dengan Rizal soal gagasan, yang menurut sang Oemar brilian. Mengembalikan orang-orang berguru pada hutan. Paling tidak, ia mencoba untuk pulang ke rumah dirinya: Alam.

“Kebudayaan akan melahirkan ketaatan dan kedaulatan untuk membangun kesejahteraan melalui alam dan lingkungan,” kata Rizal menirukan prinsip yang ditanamkan di sekitar pertapaannya.

Tanpa kaca mata, huruf-huruf buram. Namun, karena bercengkerama dan saling mendengarkan, membuatnya lebih jelas. Bersama mereka yang memikirkan soal-soal praktik baik dalam kehidupan.

“Ayo berenang! Belajarlah menyelamatkan diri atau terombang-ambing gelombang!” sang Oemar memberi semangat kepada anak-anaknya yang mengambang di atas arus sungai kehidupan.

Ilustrasi @gebbybagaskaras

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here