Jikapun sang Oemar harus mengayuh sepedanya dengan menuruni tujuh bukit, ia dengan rela menempuhnya. Ia tidak segan-segan menikmati setiap persimpangan seperti ketika pertama kali berangkat demi sebuah pencarian. Mulai dari pertigaan mimpi hingga lampu ruh Dewantara menyala di sebuah pemberhentian.

Bertemu dengan beragam pemikiran orang-orang yang membicarakan hal-hal teknis dan strategi dalam menjaring guru kehidupan. Mencari sosok-sosok terbaik dalam memberi pengaruh baik terhadap lingkungan terdekatnya. Berada dalam lingkaran asing dengan frekuensi vertikal. Biasanya, gelombang bergemuruh secara horizontal. Berusaha memintal percakapan pikir dan batin yang seimbang. Tidak sekadar membicarakan mimpi tanpa realita. Membuka kesempatan luas pada setiap orang untuk membuka peluang. Siapa pun dapat melakukan praktik baik di sekitar lingkungan hidupnya. Tanda seseorang dikatakan terbaik, yaitu diakui oleh orang-orang terdekatnya. Siapa pun akan matang dengan memiliki banyak pengetahuan setelah melakukan perjalanan jauh. Tidak sekadar bolak-balik di tempat itu-itu saja. Jadi, terus berjalan semampu dan sekuat-kuatnya. Pada akhirnya, seorang musafir akan semakin tahu bahwa tidak ada batas akhir sepanjang hayat.

Menyelamatkan diri atau terombang-ambing gelombang, pasrah diantarkan kehendak angin atau melawan dingin, dan diam atau bergerak karena bisikan batin. Tidak serta-merta mengambang di atas permukaan. Cobalah berkecipak! Gerakan kedua lengan dan kedua kaki untuk menentukan arah. Terjemahkan arah mata angin dengan peta hati. Sedikit demi sedikit, barangkali daratan terlihat. Paling tidak pendaran mercusuar menyambutmu di tengah keputusasaan. Sebentar! Awali dengan bahasa ketenangan. Biarkan tubuh menanggapi tantangan tekanan air. Ia akan beradaptasi setelah lama meronta-ronta. Kendalikan emosi karena tenaga habis sewaktu-waktu. Sisakan energi pada detik-detik terakhir. Pada akhirnya, keputusan tepat perlu kecerdasan. Meskipun, harapan tinggal sepinggan. Ataupun, tenaga yang tersisa tidak sepadan. Bukan seberapa kuat ototmu menempuh ribuan kilometer perjalanan. Akan tetapi, kerja sama naluri, pikiran, dan perasaan benar-benar kompak hingga satu suara. Tidak sekadar bernada sama, tetapi menciptakan harmoni di tengah suasana. Menjadi paduan suara, bersama gemuruh ombak, angin, dan hantaman gelombang pada karang. Masa depan itu tidak cerah, jika hari kemarin tidak menjadi pelajaran, dan jika hari ini tidak ada perubahan. Oleh sebab itu, pintalkan seluruh peristiwa agar memperkuat alasan. Meyakinkan pencarian pada sebuah jawaban untuk terus berenang atau tenggelam.

Baiklah, perjalanan sang Oemar yang selama ini menyamar sebagai Samurai akan dibuka rahasianya. Izinkanlah dimulai pada sepertujuh pencariannya. Dalam dua pekan, surat-surat bermunculan. O, tidak! Seorang pengantar pos tidak mengantarkannya dan mengetuk pintu rumah. Bahkan, tiba lebih cepat dari seorang kurir istimewa sekalipun. Kode-kode komputerisasi memberitahu lewat aplikasi gawai. Betul, sebab zaman terus berubah wajah! Semakin waktu berlalu, lesatannya berkompetisi dengan kecepatan cahaya. Dalam satu dasawarsa ini, orang-orang yang melewatinya telah menjadi saksi. Tidak sedikit pula yang membiarkan seluruh peristiwanya berlalu begitu saja. Berbagai aplikasi bermunculan dan mempermudah orang-orang. Mulai membantu mereka yang hilir-mudik pada lalu-lintas jalanan ibu kota hingga ibu desa.

Ternyata, tidak perlu ratusan halaman untuk urunan pemikiran. Tentu saja diharapkan berguna untuk mewujudkan mimpi Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Sebuah karya tulis dapat membuatmu satu meja dengan para peneliti dan pemikir. O, ini tidak selalu soal bentuk skripsi, tesis, atau disertasi. Hanya beberapa halaman temuan yang kemudian melewati dimensi waktu. Jaraknya dapat sepersekian detik spektrum pelangi selepas hujan. Bukan berarti sebentar, hitung saja cara cahaya tembus dalam perhitungan angka-angka yang diciptakan manusia. Artinya, cepat, ya, sangat melesat. Ketinggian tujuh lapis langit, ternyata dapat digapai tangan kanan atau kiri seseorang. Hanya saja, seseorang yang seperti apa yang dapat menggenggam kemuskilan? Pertanyaan sendiri yang dapat dinilai keliru setelah tidak disadari selama ini. Tahu, tidak? Jeruji paling nyata yang membatasi pikiran ketika mengetuk pintu rumah perasaan, hentakannya membabi buta. Akhirnya, setelah perjalanan jauh, sang Oemar menenteng pedang tinta dan ikut rembug bersama Prof. Soesanto, Dr. Susana Prapunoto, MA-Psy., Dr. Darwin, Dr. Hadi YS., Dra. Cut Ummu Athiya, M.Pd., Dani Muhtada, Ph.D., Dr. Mansyur Arsyad, dan beberapa doktor lain pada pekan sebelumnya. Sang Oemar tentu tidak leluasa bicara, ia selalu hati-hati dengan kata-katanya sendiri. Celah-celah terkadang berkedip-kedip semacam bintang di langit.

Setelah merampungkan tugas bersama para maestro pendidikan, tibalah waktu untuk bersantai ria. Dalam surat tugas, tidak sadar bahwa satu tim dengan maestro literasi nasional, Bang Wien Muldian. Alat tempur untuk racikan kopi, biasanya ia bawa lengkap dalam tas-tasnya. Berhubung banyak agenda, ia tidak keburu membawanya. Bahkan, berangkat dari Rembuk Nasional Sawangan menuju Hotel Maharani dengan menggunakan sepeda motor. Dalam merampungkan persoalan dengan para maestro memang tidak banyak basa-basi. Setiap mengerjakan solusi, hampir dapat dikatakan tidak terlalu memakan waktu banyak. Jika dalam perhitungan tiga hari, satu hari setengah saja persoalan selesai. Sangat cepat dan tidak banyak diktat. Ya, iyalah, wong tiap hari kerjaan mereka cuma mikir dan mikir, hahaha. Berhubung kerjaan selesai, Bung Febri Kelana berusaha menghubungi lewat whatsaapp. Ia ingin memberi Kopi Coolbrew, sepertinya sebuah permohonan maaf minggu lalu. Iya, gara-gara pimpinan barunya yang tidak menghendaki sang Oemar hadir di sebuah ruang rapat, ahaha. Sedang Mas Ari (Sekjen PP FTBM) ikut bermalam karena banyak hal yang dibicarakan soal gerakan literasi masyarakat. Selain itu, menemani malam terakhir karena di kamar sendirian. Hihihi. Laah, kapan membahas kopi rempahnya? Iya, nanti sajalah. Ahahaha.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here