SEBUAH AWAL YANG BARU

Jika pun ada hal yang telah kupahami tahun ini adalah aku tidak pernah siap dengan apa yang dilemparkan hidup kepadaku. Aku tidak pernah memiliki cukup perbekalan. Aku tidak pernah menemukan kata-kata yang tepat untuk banyak hal. Aku tidak pernah mempersiapkan jawaban yang benar bahkan ketika nasib melucutiku dengan matanya sendiri.

Aku sudah belajar bahwa aku bisa dengan bebalnya menunggu, meyakini harapan, dan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan; sesekali bahkan tak segan bersikap masa bodoh dan hanya mengangkat bahu. Lain waktu, dengan berani menghadapi kenyataan  bahwa aku tak bisa menjaga diriku sendiri lebih dari yang aku bisa untuk mengentikan cinta mengambil segalanya dariku.

Aku telah telah belajar untuk berhenti mengatakan “ya” saat tak sungguh-sungguh mau—untuk hidup lebih jujur dengan caraku sendiri. Selama yang aku ingat, ‘kan kubiarkan jemariku menyingkap tabir gelap agar mataku tetap terjaga pada cahaya. Lalu ketika satu pintu tertutup dan pintu lain terbuka, aku akan tetap melangkah dengan aku yang baru yang tak seperti siapa pun. Masih ada satu tahun lain di hadapanku, satu kesempatan untuk membuat semuanya tetap mengitari matahari, dan kesempatan lain untuk melakukannya dengan benar kali ini.

 

KEKACAUAN

Tidakkah kau berpikir aku telah tersesat di perangkap waktu?

Kata-kata itu membuka percakapanmu. Aku tidak tahu persis, hanya, masa laluku, hari-hari yang sedang terjadi juga yang akan datang telah saling berbentur.

Kala itu, kekacauan lebih mirip sebuah panggilan lembut yang membangunkanku. Seperti Minggu pagi yang malas yang kuhabiskan dengan setumpuk tidur nyenyak. Tetapi saat ini, ketika kuingat kembali, hal itu terasa seperti dentuman keras yang menggelegar pada pagi pukul lima, juga tak ubahnya sebuah penerbangan yang amat tak ingin kulewatkan.

Hari demi hari, kehampaan telah menggerogotiku. Aku sudah melewati banyak pembawa pesan di jalan-jalan kota dengan segala macam pertanda, mereka memperingatkanku tentang sebuah akhir. Aku bahkan tak sekali pun membayangkan bahwa ia berjalan tepat di sisiku, menggenggam dengan erat jemariku. Malam-malam berlalu, kuhabiskan untuk menyelami matamu tetapi segala yang ada pada kedalamannya tak pernah bermuara pada apapun.

Meski tanpamu, hidup tetaplah berjalan. Tentu harus begitu. Tentu begitu harusnya. Kekacauan itu hanyalah sebuah akhir, namun orang-orang kemudian mengatakan: ini bukanlah akhir.

 

SURAT KEPADA MASA LALU

Di masa depan, kau akan jatuh cinta dan itu sama sekali bukan hal yang bagus. Ceritakan hal itu kepada ibumu meski kelak apa yang kau katakan akan sedikit menakutinya. Katakan saja padanya bahwa kau amat mencintai lelaki itu, sampai-sampai suatu hari dalam hidupmu, kau merasa kata-kata telah kehilangan makna untuk berujar ihwal perasaanmu. Biarkan ia tahu, rasa sakitmu nyata adanya tatkala lelaki itu amat peduli kepadamu, namun ia tak henti membuatmu cemburu. Beritahu ia bagaimana matahari telah berkhianat kepadamu, bagaimana ia hanyalah seorang peminjam cahaya dari pemilik sesunguhnya: lelaki itu. Hingga kala ia tiada, segala yang ada tak lebih dari sekadar bayang-bayang.

Jangan coba-coba menyerahkan dirimu kepadanya. Sebab kelak penyesalan akan mengunjungimu sesering yang ia bisa. Lelaki itu tidak akan pernah berubah. Aku tahu betapa kau sedang menjelma sepi, bahkan ketakutan menjejakkan kakinya di sekitarmu. Barangkali saat itulah kesepian menancapkan taringnya. Seperti seekor serigala penyendiri yang melolong kepada bulan. Ada kebiadaban yang kau rasakan hingga ia mampu mencabik jiwamu.

Banyak hal yang datang tak terduga. Jika kau telah lebih dulu tahu, ketidakadilan apapun akan mudah kau maafkan, termasuk malapetaka ini yang membuat hidupmu berjalan menajam dan menukik. Tenanglah, semesta akan berbalik kepadamu, dan bila itu terjadi, tak ada yang perlu kau risaukan.

Sekarang, aku harus pergi, tapi ingatlah bahwa aku sungguh menyayangimu. Aku harus meninggalkanmu, namun aku akan selalu ada untukmu. Suatu hari nanti, kita akan bertemu di sini dan aku akan memberitahumu segala hal yang telah terjadi. Akan kukatakan padamu bahwa kita telah berhasil melewati semua ini.

 

TAHUN INI

Kumulai tahun ini dengan bertelanjang kaki di atas hamparan pasir. Cahaya bulan jatuh menimpa kulitku dan derap angin laut membelai rambutku. Ada cinta di dalam dadaku dan seorang pembunuh mengalir dalam darah nadiku.

Tahun ini bukanlah tahun untuk menyerah kepada nasib atau karma. Juga bukan sebuah tahun untuk hidup sesuka saja.

Jika masih ada urusan yang belum selesai di antara kita, maka serigala-serigala itu akan mendenguskan namamu. Kalaulah tanganmu berlumur darah, maka kau akan menerima apa yang layak kau dapatkan.

Seandainya kau berpikir bahwa kau akan baik-baik saja, sesungguhnya kau hanya sedang membohongi dirimu sendiri. Jika kau anggap jarak dapat melindungimu, kuberi tahu bahwa samudra bisa kulintasi dalam sekejap mata.

lupy agustina

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.