Ada atmosfer yang berbeda saat membaca judul keempat dalam Kota Tujuh Stanza ini. Cerita di bagian ini mengalami pergeseran tokoh utama. Jika lazimnya sebuah novel akan menceritakan tokoh utama yang sama dari awal sampai akhir cerita, maka pada cerita yang berjudul “Pelukis Kain Nasib” penulis menyajikan proses ‘peleburan’. Gagas si tokoh utama pada tiga cerita sebelumnya harus menepi lalu membiarkan tokoh-tokoh baru seperti: Aria, Yudis, Mak Iyah, dan Firman naik ke permukaan. Keadaan seperti ini bahkan berlanjut sampai ke judul terakhir (akan saya ulas pada bagian yang terpisah).

Posisi Gagas pada cerita keempat hanya sebagai pembuka jalan bagi pertemuan Yudis-Mak Iyah si tokoh utama kali ini. Yudis si pemuda yang menyukai seni graffiti tertangkap basah sedang mencoreti tembok masjid. Kemarahan warga meledak karena Yudis seenaknya menggambari tembok suci tempat peribadatan mereka. Kejadiaan naas itu mempertemukan Yudis dengan lelaki Ketua Motor Gede Priatim-Aria. Aria menyelamatkan Yudis dari amukan warga lalu menawarinya untuk bergabung bersama komunitasnya. Aria meminta Yudis untuk membuat airbrush gravity pada motor-motor gede. Berawal dari pertemuan itulah terjalin sebuah takdir baru.

Dengan apik, penulis mengajak pembaca untuk menyelami kegundahan hari Mak Iyah. Pertarungan perempuan itu dengan kenyataan dan idealisme sungguh patut untuk direnungi. Selama bertahun-tahun, ia menjadi pelukis payung geulis, kerajinan khas Tasikmalaya. Melalui keahlian melukis payung itu, Mak Iyah mencoba mengumpulkan pundi-pundi rupiah.  Penghasilan yang pas-pasan dan tuntutan hidup yang semakin tinggi membuat Mak Iyah bimbang. Kerajinan payung geulis yang ia tekuni semakin tergerus zaman namun Mak Iyah enggan untuk berhenti.

Lukisan dan payung-payung geulis itu bagi Mak Iyah bukan sekadar alat pengumpul rupiah. Mak Iyah merasa bertanggung jawab untuk menjaga warisan keluarganya yang telah menjadi pengrajin payung geulis secara turun temurun. Apalagi, warisan itu mejadi ikon kota kelahirannya. Ciri khas yang dielu-elukan sekaligus diabaikan. Hatinya amat pedih, tatkala tak ada satu pun anak rahimnya yang bersedia menjadi penerus dirinya. Canting-canting mulai mengering serupa hatinya.

Sayangnya, takdir belum mau kering begitu saja. Takdir mampu mengendus harapan bahkan dalam nyala paling kecil sekali pun. Ia tak membiarkan Mak Iyah dan Tasikmalaya kehilangan jiwa. Payung geulis itu menemukan takdir geulisnya di tangan seorang pemuda yang dianggap berandal.

Air mata memang berjatuhan, ia berharap dapat menyuburkan sebuah pohon harapan. Hari itu, ia akan merelakan keahliannya kepada anak muda yang bersedia meneruskan nafas cantingnya. –Pelukis Kain Nasib, Kota Tujuh Stanza.

Bagikan Ini
1
2
3
BAGIKAN
Berita sebelumyaHANCA KITAB MAULANA
Berita berikutnyaKOMPILASI ALBUM LAGU SPEKTRUM MUDA-MUDI
Sebuah ceruk yang membuka jalan pada banyak gagasan, betul-betul sangat banyak, sehingga gagasan itu dapat dipahami sebagai suatu keseluruhan yang integral oleh (secara komparatif) sedikit orang. Meskipun demikian, peran sang agitator, yang berbicara mengenai persoalan yang sama. Diharapkan seluruh persembahan dapat memberi kabar gembira, berwarna, dan diterima.

Tinggalkan Balasan