Barangkali sebagian masyarakat Indonesia mengetahui bahwa alat musik angklung telah menjadi warisan dunia. Bagaimana dengan sebagian masyarakat lainnya? Alat musik angklung yang merupakan khazanah budaya Indonesia, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, 16 November pukul 16.20 waktu setempat, ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity (Sumber: Kompas.com, 17/11/2010).

Beberapa anak sekolah dasar tampak bermain musik angklung di tempat yang cukup representatif itu. Balai Pertemuan dan Kegiatan Warga RW 01 Tawangkulon, Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya, terasa lebih hidup dan ramai dalam setahun terakhir ini. Hardjono (63 tahun) yang menyatukan anak-anak tersebut dalam wadah Punakawan Angklung Children Community.

“Awalnya saya merasa khawatir, karena banyak anak di lingkungan sekitar sini yang sering main sambil berbicara kata-kata kurang baik, saya salurkan energi yang kurang baik tadi menjadi energi yang lebih positif, yakni lewat kegiatan berkesenian,” ujar pria yang akrab dipanggil Joni di sekitar rumahnya.

“Kita mulai berkumpul sejak Desember 2015. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana yang tertarik bergabung sampai sekarang berjumlah total 200 anak. Tiga puluh orang warga sekitar sini, sisanya adalah siswa-siswi MI di Kecamatan Bungursari,” kata lelaki yang pernah aktif di Lempaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) ini.

Joni mempelajari angklung secara otodidak. Dia mempelajari Metode Hand Sign Kodaly (mengenalkan not lewat gerakan tangan) dari internet. Setelah beberapa bulan berjalan, akhirnya Joni mendatangkan seorang guru angklung, walaupun untuk honornya harus merogoh saku sendiri.

Karena keterbatasan dana, sang pelatih tidak bertahan lama. Untunglah Pak Tendi, seorang guru musik di SMAN 2 Kota Tasikmalaya dan Pak Mumu dari Kampung Angklung Panyingkiran Ciamis, turut membantu Joni mengembangkan komunitas hingga seperti sekarang ini.

“Terus terang, kami butuh bantuan semua pihak, karena kami sadar tidak bisa berdiri sendiri”, ungkap lelaki yang menetap di Tasik sejak 2003.

Kini, Punakawan Angklung memiliki perbendaharaan 40 lagu, yang terdiri dari pop, religi dan dangdut. Berlatih secara rutin tiga kali seminggu. Ditambah keahlian rampak kendang yang latihannya dibantu khusus oleh Andri, seorang seniman ysng tinggal di Jalan Bebedahan, Kota Tasikmalaya.

Ipang Lazuardi, ex vokalis Plastik Band yang sekarang menjadi frontman BIP, sempat memberi petuahnya dalam memperkaya khazanah musik Indonesia di markas Punakawan Angklung Children Community, pertengahan Juni 2017. Senafas dengan prosa Vudu Abdul Rahman yang mengunjungi markas musik bambu tersebut, beberapa minggu sebelumnya.

Siapa pun kalian, Tuhan telah menempatkan sesuatu pada ceruk di balik tubuh. Sesuatu yang bergetar, ia muncul dari palung yang bergesek pada lempeng bawah lautan dada seorang lelaki tua. Seperti bunyi-bunyi yang dimainkan tangan-tangan mungil di sebuah senja. Mengkhatami nada-nada yang memiliki strata dengan pucuk bumi. Beberapa anak lain memang menahan buncah. Bertahan dari tekanan yang ingin dimuntahkan dari kegelisahannya.

Tidak ada kata-kata, lirik, atau puisi yang diucapkan. Seluruh ungkapan hanya diterjemahkan gemulai tubuh dan lagu tanpa biduan. Membiarkan bagian alam dan manusia bercengkrama dengan bahasa paling murni, yaitu saling meresapi. Banyak orang yang telah berdatangan. Memberi petuah atau semacam jembatan. Namun, seseorang yang hadir pada saat langit agak mendung sore itu, ia hanya meluapkan gelombang lautan dengan bahasa desir. Tidak terlalu bergemuruh juga tenang, tetapi tidak biasa-biasa juga.

Kedatangannya adalah puisi yang ditulis maestro setelah menyimpan penanya bertahun-tahun. Tentu saja ditunggui para penggemarnya yang rindu dengan kedalaman yang jarang dibacanya lagi. Ah, sudahlah! Orang-orang agak tenang masih menyaksikan senyuman dari anak-anak yang ditemui. Akhir-akhir ini, setiap tamu menjadi perasa ketika bertemu dengan mereka. Sebab tidak semua senyuman itu bermakna wajar. Ia hadir untuk menutupi kekecewaan atau memang sebuah hadiah selamat datang. Terpenting jangan pernah berhenti menyebar harmoni. Meski bergelombang di antara debu, dentuman, dan reruntuhan. (Adith Hiracahya)***

 

alt
Foto Bagus Framerius
Bagikan Ini
BAGIKAN
Berita sebelumyaTUJUH BAND BERPENGARUH
Berita berikutnyaPENGUATAN KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH SEBAGAI  PEMBAHARU
Sebuah ceruk yang membuka jalan pada banyak gagasan, betul-betul sangat banyak, sehingga gagasan itu dapat dipahami sebagai suatu keseluruhan yang integral oleh (secara komparatif) sedikit orang. Meskipun demikian, peran sang agitator, yang berbicara mengenai persoalan yang sama. Diharapkan seluruh persembahan dapat memberi kabar gembira, berwarna, dan diterima.

Tinggalkan Balasan