Karena proses sebenarnya ialah kembali belajar dan belajar. Leo Ruslan Aryandinata.

Ia merupakan seorang lelaki yang senang meliukkan tangannya dengan membuat lengkung-lengkung garis pada kertas, dinding, atau media apa pun. Senang menggambar sejak sekolah dasar, tidak membuat kemampuan akademiknya terganggu. Bahkan, ia dapat mempertahankan prestasi yang selalu rangking 2. Berdasarkan pengakuannya, ia senang membaca sejak kelas satu sekolah dasar. Jika ada secarik surat kabar tergeletak di jalan, ia pasti ambil dan dibaca setiap rubriknya. Sosok pendiam yang ternyata memiliki kegemaran membaca sejak kecil ini telah mengasah nalarnya juga untuk berimajinasi. Kemampuan yang memberi bekal dalam menaut-nautkan seluruh informasi dan peristiwa menjadi bahasa gambar berkualitas.

Sekarang ia betah tinggal di markas Wop Art Studio, sebuah bangunan 2 x 2 meter samping Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya sebagai tempat bertapa untuk menggali ide dan inspirasinya. Karya terakhirnya adalah sebuah komik “Shelter of the Sky” yang diterbitkan Slowork Publishing – Hongkong.

Hampir setiap hari merespon peristiwa yang kemudian digambarkan pada kertas manual atau digital. Jika tidak percaya sila singgah ke ruang mayanya dengan akun @leosipenatapbulan dan @sketsaceria. Produktivitasnya dalam berkarya tidak diragukan lagi, berbagai pameran lokal, interlokal, nasional, dan internasional telah diikutinya.

Banyak pula hasil gambarnya digunakan muka halaman buku, dipajang pada dinding-dinding rumah, dan diepersembahkan kepada orang-orang popular.

“Cabutlah anak panah ketika aku sedang menggambar,” tulis Leo pada lini masa facebooknya. Ia benar-benar mencintai dunia gambar.

Pada awalnya ia merasa biasa-biasa saja ketika dijadikan salah seorang ilustrator dalam penggarapan album “Satu Frekuensi” produksi Raamfest. Ia terima lirik yang mana saja, tetapi setelah membaca beberapa lirik, sangat tertarik dengan “Canting Terakhir” yang digubah The Melodrama. Awalnya, ia akan melukis canting, tetapi dirasakan kurang mendalam sehingga mengubah perspektifnya. Secara judul lirik, ia menganggap telah terfokus pada sebuah benda yang sering digunakan untuk melukis kain batik itu.

“Saya memilih dua sosok berpelukan dengan corak batik yang berkibar karena lebih bermakna. Dengan pemilihan warna yang cenderung monokrom akan terasa sentuhan vintage-nya. Sosok canting, saya selipkan pada dua kepala yang berpelukan itu, sekilas mirip bulatan canting penampung kalam/lilin,” jelasnya saat dihubungi via inbox facebook. (Vudu Abdul Rahman)*

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.