Seorang kawan berbisik, “Kenapa mereka bersedia menggarap lirik-lirik yang kamu tulis?” Saya tercenung sebentar, mencari jawaban paling tepat untuk dimengerti kawan yang bertanya. Hmm, ternyata tidak terlintas sedikit pun jawaban itu. Bukankah peristiwa hidup pun tidak dapat diduga kejadiannya? Hal-hal di luar nalar memang hanya dapat dirasakan. Tidak pernah terpikirkan, terbayangkan, dan terjadi begitu saja.

Apakah benar terjadi begitu saja? Ternyata seluruh peristiwa yang terjadi, memiliki alasan-alasannya. Tidak mungkin kebetulan. Sebagaimana manusia dapat berjalan pada landasan bumi. Ada semacam daya tarik yang dinamakan gravitasi. Sebagaimana seseorang tiba-tiba memiliki firasat. Ada semacam gelombang yang menghubungkan kutub-kutub peristiwa lalu, kini, dan masa datang. Barangkali inilah dejavu. Sehingga, bumi ini berputar pada porosnya. Jiwa seseorang menjaga keseimbangan raganya.

Begitulah kelahiran Album Kompilasi “Satu Frekuensi”, setiap orang terhubung tanpa berpikir. Kok, bisa? Ya, bisa karena gelombang dawai yang dipetik dan bergetar pada selubung gitar di atas panggung kesadaran adalah jawaban tepatnya. Saya sendiri terkesima ketika mengalami kontraksi spektrum cahaya yang dimiliki orang-orang dalam garapan Sampurasun-Raamfest. Jika ingin lebih intim, baca saja buku Kota Tujuh Stanza, sebuah prosa realis yang berawal dari parafrase lirik-lirik album lagu “Satu Frekuensi”.

Baca juga Dawai-dawai Ajaib Frankie Fresto, karya Mitch Albom. Raamfest.id mempersembahkan gelombang ajaib itu:

alt
Ilustrator cover by Anggil

@the_littlelizard – Berguru pada Jarak

@hi_inimusikkami – Ceruk di Sebelah Tenggara

@superchargerofficial – Sebuah Tafsir

@rim.official – Spektrum Langit 1996

@tigerwork_official – Perempuan Kelelawar

@goodpeople_tasik – Kidung Estuari

@themelodrama_id – Canting Terakhir

 

Ilustrator album @anggilsvck

Bagikan Ini
BAGIKAN
Berita sebelumyaPELUKIS KAIN NASIB: SANG PENJAGA WARISAN
Berita berikutnyaDETIK-DETIK PERSEMBAHAN KARYA JAWABAN
Berpikir ulang tentang sebuah gerakan; tujuan bertualang adalah pulang. Kota Tujuh Stanza, Sepucuk Surat dari Sunyi, dan Saung Langit Comic adalah anak-anak pikirannya yang lahir berurutan dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Sungguh-sungguh menempuh perjalanan panjang hingga kembali pulang ke dalam diri.

Tinggalkan Balasan