Tibalah semua orang pada pintu kehidupan sosial di era digital brutal. Setiap individu dihadapkan kenyataan sosial saling terjang yang berbahasa binal, sikap frontal, dan dimulai generasi milenial. Apakah semua generasi ini melakukannya? Tentu saja tidak, tetapi dapat mengontaminasi hingga generasi Z. Mereka semacam menemukan ruang yang hal-hal privat dapat diumbar sedemikian terbuka. Kehidupan pribadi yang selama ini dilindungi atmosfer budaya, retak juga. Masyarakat digital bebas memilih konten buruk sekalipun. Bahkan melakukannya dengan senang hati. Entah menyakiti atau menginspirasi.

Setelah satu pekan khusyuk menuliskan berbagai tema pada tulisan, pertemuan-pertemuan setiap malam di kedai kopi masih membahas persoalan biasa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang hampir tanpa aib dan cenderung ditutupi. Pada suatu malam, saya ditakdirkan untuk berdiskusi dalam lingkaran kecil yang memantik topik titik kearifan lokal hingga isu nasional. Hingga pembicaraan beralih pada topik yang terhubung dengan isu media digital –yang cenderung dikuasai generasi milineal dan mulai diikuti generasi Z juga di media sosial.

Saya kemudian teringat vloger fenomenal semisal Awkarin (Karin Novilda) yang saat ini memiliki 675.655 subscribers. Salah satu vlognya  “Sakit Banget Nontonnya” ditonton 4.405.140 viewers. Bahkan, salah satu video youtube berjudul “Awkarin – Badass” telah ditonton 9.150.496 viewers.

Kemal Pahlevi, Young Lex, Reza ‘Arap’ Oktovian, dan lainnya menamakan diri mereka sebagai generasi Swag, termasuk Awkarin. Generasi ini memiliki ciri kehidupan yang hura-hura, pesta, hedon, bertato, dan kata-kata kasar bahkan binal. Kenyataan ini tidak dapat dihindarkan, para orang tua dapat terkena serangan jantung, jika anak-anaknya menjadi pengikut mazhab demikian. Kecuali, sebuah keluarga memiliki aturan ketat dalam penggunaan media sosial. Di sinilah, satu sisi literasi digital penting dipahami sebuah keluarga agar anak-anaknya dapat terlindungi dari godaan media sosial.

Selama sepekan juga, saya menyimak beragam video yang dibuat generasi Swag itu. Memang kontennya sangat mengkhawatirkan secara moral. Entah sikap, laku, bahkan cara berhubungan dengan lawan jenis. Di sisi lain, mereka sebenarnya memiliki sikap survival juga. Mereka dapat membangun ekonomi mandiri dari perhatian jutaan viewers yang mengundang iklan-iklan. Bahkan, Awkarin meluncurkan produk hijab pada Ramadan tahun ini. Secara attitude, mereka mengakui tidak layak ditiru. Akan tetapi, mereka semacam lebih dulu siap berada dalam dimensi masyarakat digital yang ‘produktif’ secara mental.

“Tahap digital yang bukan lagi mengkritik membangun, tetapi merundung, dan membuat sakit hati orang di media sosial untuk kesenangan hati,” jelas Young Lex dalam sebuah wawancara di televisi, “Mematahkan semangat content creator yang masih bocah hingga dikomentari bahasa binal. Ini penyakit baru di media sosial,” lanjutnya. Sekelas Young Lex yang juga generasi Swag fenomenal itu, masih memiliki nurani. Bahkan, ia mudah terenyuh ketika harus mengatakan “I Love You” kepada mamanya. Ia bertato dan memiliki channel dengan viewers jutaan juga.

Inilah fenomena Zine Digital yang menurut saya tidak tunduk pada aturan Undang-undang ITE, misalnya. Mereka menjadi kaum yang jujur, apa adanya, bukan tanpa takut, tetapi berani terbuka. Bisa saja jika dilakukan orang lain, hal tersebut merupakan aib diri dan keluarga. Pertanyaannya, sekalipun hatters mereka tidak sedikit, kenapa penggemarnya jutaan juga? Mereka menunjukkan sikap ‘aku’ yang tidak tertutup, sangat terbuka yang termasuk penggunaan cara berpakaian. Memang, akan berpengaruh buruk dalam kehidupan sosial anak muda Indonesia. Sebab budaya kuat soal cara bicara, sikap, dan bersosial kerap mereka tinggalkan dalam vlog-vlognya. Semacam distorsi akulturasi barat dengan timur yang ditubrukan di udara.

Menurut Sora Soca bahwa sebagian besar penggemar zine mengenal bacaan alternatif itu lewat komunitas musik. Tentunya bukan musik mainstream. Sejarah pemakaian istilah zine itu sebenarnya bermula dari sekelompok kecil penggemar fiksi ilmiah. Anggota dalam kelompok ini berbagi tentang dirinya dan semua hal yang mereka sukai dalam lingkaran kecil pembaca di Amerika pada akhir tahun 1920-an sampai sekarang, seperti tertulis dalam laman zinewiki.com yang mengusung moto “The Independent Media Wikipedia” (dalam https://qubicle.id/story/berawal-dari-fiksi-ilmiah).

Artinya, zine  cetak hadir jauh sebelum zine digital yang saya maksud. Namun, konten dari keduanya sama-sama suara bawah tanah. Hal-hal yang dianggap tabu di masyarakat, memiliki peminat eksklusif dan terasing di tengah lingkungan.

Begitu juga dengan zine “Lepas Arah” yang didirikan Hilmi Isnaeni Zain, pada 2 Juli 2017. Memiliki visi; terwujudnya Lepas Arah Zine yang mendunia. Sedang misinya: Menjadikan Lepas Arah Zine sebagai Media Alternatif yang disenangi pembaca. Menjadikan Lepas Arah Zine sebagai publikator yang produktif dan prestatif. Gerak sinergis dengan seluruh Zine Maker.

Konten-konten yang biasa diangkat Lepas Arah Zine pada volume-volume sebelumnya, yaitu urban, freedom, anarkisme, amorfati. Lepas Arah Zine Vol. 4 “Amorfati” hadir bagi siapa saja yang ingin mencurahkan seluruh kisah cinta, kehancuran rumah tangga, kehidupan yang brutal, gebetan yang disalip, perkuliahan yang monoton, kekerasan, kisah menyenangkan, menggembirakan, lembut, cerita hara kiri, asmara muda-mudi ataupun hal-hal tabu. Lepas Arah Zine Vol. 4 ini mengangkat isu seputar “Amorfati” yang berarti mencintai takdir, bagaimana pun takdir menjadi bagian hidup, cintailah dia, berbalas atau tidak, itu terserahNya.

alt
Lepas Arah Zine Volume 1 (Cover dari Faradila Harun).

Lepas Arah Zine berbagi informasi dan karya apa pun, baik berupa tulisan, gambar, kolase dan sebagainya. Tidak peduli karyanya dianggap sampah atau anugerah. Bagi Lepas Arah Zine bahwa tidak semua insan manusia dapat membuat karya!

Saya sendiri menuliskan tentang Lepas Arah Zine, karena dua hari sebelumnya ditagg sang founder di instagramnya. Saya tertarik karena biasanya terdapat hal-hal terpendam atau buncah. Saya meletakkan titik pandang berbeda agar titik-titik lainnya seimbang kepada mereka. Itu saja.

Awkarin dan geng Swag-nya masih memiliki nurani yang perasaannya mudah terenyuh. Barangkali, siapa pun dapat mengubah titik pandang yang selama ini cenderung buruk diubah pada titik yang baik. Pada dasarnya, semua orang memiliki nurani, hanya saja kerap tertutup, dan sebaiknya saling membukakan.

Jika air mata mereka tidak terjatuh dari hulu pikiran. Apalagi, jika tidak terjun deras pada pipi yang tembam. Soal apa? Ketika seorang tua berkisah dengan napas kesaksian sejarah yang terpenggal dan tersenggal. Ketika ia mengingat kembali dengan tatapan kosong. Tentang peristiwa yang mengorbankan istri, anak, dan cucunya yang telah menjadi mayat. Ketika pulang ke rumah masa depan luluh lantak. Justru di sebuah lapang, orang-orang tengah bersukacita, menggema, dan meledak tepat pada 17 Agustus 1945 hingga sekarang.

Ia mewakili teman-temannya yang telah tiada dan masih ada. Menahan air matanya tergenang pada kolam mata. Bukan persoalan usia yang telah senja dan ingatan yang mulai hampa. Justru karena ia merasa sia-sia telah berjuang merebut tongkat kekuasaan dari negri triwarna dan matahari terbit.

Ia bercerita ketika orang-orang hari ini menyebutnya veteran. Ya, benar, mereka yang tinggal tak jelas di atas tanah-airnya. Hidup dalam keterasingan bangsanya sendiri. Entah dari Sabang sampai Merauke, mereka hidup di antara bayang orang-orang. Terkesan menunggu belas kasih, terenyuh, dan menengadahkan cawan. Wajah-wajah waktu yang telah keriput dan berambut pecundang, merubuhkan mimpinya yang telah menjadi nyata –semakin rabun dan usang.

Mestinya mereka hidup seperti air, api, tanah, dan udara, menyatu dalam senyawa kemanusiaan yang utuh. Mereka layak dalam kesempurnaan, tetapi dari generasi ke generasi telah merubuhkan pintunya.

Maafkan para veteran pujaan Tuhan! Bagimu negri jiwa raga kami. “Bagaikan hujan, bagai bunga matahari. Bagaikan mendung, bagaikan sinar pelangi. Bicaralah … bicaralah semaunya. Atau marah … jangan diam. Tertawalah, kuajak kamu ke awan. Punguti bintang lalu jadikan hiasan. Bicaralah … bicaralah semaunya. Atau marah … jangan diam. Nggak perlu mimpi. Nggak pakai janji. Nggak ada kecewa. Nggak ada yang dirugikan. Reff: Seperti cinta, seperti getar di sini. Seperti api, seperti apa sajalah. Seperti air, seperti sakit yang hilang ….” kata-kata Plastik menjadi kidung dari panggung ke panggung.

Pada akhirnya, anak-anak muda (milenial) ini tengah mencari jati diri di era digital. Barangkali cara mereka yang terkesan bebas mesti dicari jalan ke luarnya. Semua orang butuh ruang untuk menumpahkan kemarahan, entah dibenturkan pada dinding atau layar kaca.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.