Mudah saja untuk menjadi abadi di dunia fana ini: Menulislah! Maka kamu tak akan hilang dari sejarah, tak akan tenggelam dalam masyarakat. Kata-kata adalah sihir yang nyata.

Alangkah lebih mudah menjadi abadi di dunia fana yang maya ini. Tak perlu bertarung memperebutkan selendang sakti atau susah payah mencari ramuan ajaib. Apabila kamu memiliki handphone dengan kuota melimpah. Jadilah! Jadilah! Jadilah kamu abadi dalam status fesbuk dan twittermu. Jangan lupakan instagram juga.

Di sana, kata-kata berseliweran menghiasi detik angka. Pada status yang pedih dan bahagia. Pada status yang riya dan pura-pura tidak. Pada permohonan dan hujatan. Kata-kata menjelma ruang pribadi yang intim, yang sengaja dibuka namun tetap ditutupi. Sesungguhnya status-status itu adalah keabadian yang nyata.

Kalau begitu, My Lof, masihkah ingin kamu katakan bahwa menulis itu sulit setelah ribuan kata-kata berhasil kamu tulis dalam statusmu itu? Kalau masih juga, marilah sejenak kita mengheningkan cipta. Setelahnya, amanat di bawah ini semoga bisa kamu simak dengan baik. Aku bukan dukun, tapi mari kubagi beberapa ramuan biar kamu bisa tetap abadi tanpa borax.
===
Niat Adalah Koentji
Menulis ini ibarat pintu, niat adalah kuncinya. Niatlah dulu bahwa kamu akan menulis. Niat lagi kalau kamu lupa sudah niat akan menulis. Niat terus kalau kamu lupa sudah niat lagi mau menulis. Niat. Niat. Niat. Kalau tak niat, tak ingin. Setelah niat terus, lalu apa? Masukkan kunci ke lubang pintu.

Kata Pertama
Kata pertama adalah pembuka. Lubang kunci membutuhkan kata pertama untuk membuka pintu. Namun, tak sering kata pertama menjadi kata terakhir juga karena pemegang kunci kerap berdalih, “Aku mau nulis, tapi gak tahu kata-kata apa yang harus kutulis lebih dulu”. Oh My Lof, kalau sudah begini, mungkin kamu melupakan sesuatu.

Situ Paham Mau Nulis Apa?
My Lof, sebelum menulis, pastikan kamu paham betul apa yang akan kamu tulis. Ada sebuah ungkapan bahwa “Penulis yang baik adalah pembaca yang baik”. Alangkah lebih oke jika kamu melakukan riset yang mendalam tentang hal yang akan kamu tulis. Hal ini akan membuat tulisanmu tidak miskin ide dan tentu saja akan menghindarkan kamu dari kegagalan dalam kata pertama.

Ingatlah, My Lof, jika kamu tak pernah mengisi otakmu dengan apa pun, maka kata pertamamu akan berakhir menjadi kata terakhir. Menulis adalah bukti bahwa kamu ini bodoh. Sebab untuk menulis satu paragraf yang baik, kamu butuh setidaknya satu buku.

Wis, lain kali kalau ada yang bilang, “Aku mau nulis, tapi susah banget bikin kata-kata pertamanya,” Kamu tanya saja dia, “Situ paham tapi mau nulis apa?” ehehehe.

Udah Paham Tapi Masih Susah Aja, Why?
Bah, ini juga sering terjadi. Kadang kala mungkin kamu merasa begitu banyak ide yang membuncah namun bingung menuangkannya. Ada banyak sekali gagasan yang berseliweran di dalam otak kamu dan meminta untuk dikeluarkan. Kalau kamu sedang merasa begini, saran dariku adalah tulis secara spontan gagasan-gagasan acak yang ada di dalam otakmu.

Dalam kondisi seperti ini, amat penting untuk membuat gagasan di dalam otakmu tak hanya berakhir menjadi kata-kata di udara. Milikilah sebuah note kecil untuk menampung your random ideas. Tuliskan semua ide dan gagasanmu di sana! Setelah itu, mulailah proses pemilihan. Ambil gagasan-gagasan yang sesuai dengan tulisan yang akan kamu buat. Poin-poin yang kamu tuliskan ini akan cukup membantu untuk membuat kerangka tulisanmu. Kamu bisa mulai untuk menulis dengan mengembangkan kerangka ini.

Sudah Nulis Tapi Gak Kelar-Kelar, Kzl!
Ckckck. Kalau sudah begini pasti tidak asique, Bosqu~

Setiap penulis tentu pernah mengalami writers block atau ketumpulan ide saat sedang menulis. Kondisi itu tentu mengganggu keberlangsungan hidup tulisan kamu. Mereka kadang ditinggal mati suri dan dibiarkan berdebu. Kata-kata di dalamnya tak bertambah. Bertambah satu dihapus melulu, begitu seterusnya. Masyaallah.

Kalau sudah begini, kamu harus jajan dulu. Cobalah makan eskrim Conello rasa coklat atau rasa kacang ijo siang-siang. Atau kalau malam, belilah mie tek-tek dari Mang Gerobak yang lewat depan rumahmu. Dijamin djitu, kamu akan bisa gasspol lagi, My Lof.

Namun, bila kamu tidak suka jajan, carilah kesibukan lain selain menulis. Tontonlah satu atau dua film yang bisa menambah wawasan kamu mengenai topik tulisan. Membaca buku atau tulisan dengan pembahasan yang sama denganmu pun tidak akan merugikan. Nah, kalau itu tidak cukup, coba lakukan percakapan ringan dengan temanmu, siapa tahu bisa menambah sudut pandang baru.

Hal lain yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi writers block adalah … tidur. Mungkin sampean lelah, My Lof.

Jika kamu sudah merasa segar, segera eksekusi tulisan yang telah lama terbengkalai. Jangan lama-lama memanjakan writers block, dia bukan anak bungsu, My Lof. Semangat dan ketekunanmu yang utama. Ingat: Niat adalah koentji!

Sesuatu yang tak kalah penting untuk kamu perhatikan agar tidak kzl kerana tulisan tak kunjung rampung adalah: Jangan menulis sambil mengedit. Sekali-kali jangan. Itu berat. Mungkin kamu kuat, tapi jangan saja. Percaya padaku.

Biarkan tulisanmu mengalir. Tulis apa pun yang kamu pikirkan. Jangan membatasi dirimu dan tulisanmu dengan hal: Apakah paragraf ini sama dengan paragraf di atas? Apakah hal ini perlu ditulis di sini? Apakah ada kata-kata yang saltik? Dan sederet apakah lainnya yang pasti akan memusingkanmu, My Lof.

Selesaikanlah tulisanmu lebih dulu. Proses penyuntingan dapat dilakukan setelahnya dengan hati riang gembira. Tulisanmu senang, kamu pun riang. Semua bahagia. Insyaallah.

Eh, Tapi Aku Belum Pernah Nulis
Hahahaha. Izinkan aku tertawa terbahak-bahak karena ini adalah dusta yang nyata. Ingin sekali kutanya kamu tentang berapa banyak caption instagram yang sudah kamu tulis? Berapa banyak status fesbuk dan twitter yang kamu unggah? My Lof, apa itu namanya kalau bukan menulis. Jadi kumohon, jangan berbohong padaku.

Kali ini bayangkan olehmu jika kamu kumpulkan status dan caption-caption yang kamu unggah, barangkali kamu bisa membuat buku. Fantastis bukan? Kamu masih mau katakan “Tapi itu beda,,,”
Duh, My Lof, dengan menulis caption dan status-status itu sesungguhnya kamu telah berlatih menulis hal-hal sederhana. Mereka adalah pangkal dari tulisan yang lebih besar jika kamu memiliki niat untuk membesarkannya. Sekali lagi kuingatkan: Niat adalah koentji.

Coba lihat kembali caption atau status bijak yang telah kamu tulis. Kembangkan tulisan sederhana itu menjadi sebuah gagasan kompleks. Jadikanlah ia yang hanya dua baris kalimat menjadi dua paragraf. Di lain kesempatan cobalah lebih banyak menjadi empat paragraf dan seterusnya. Sebuah perjalanan besar selalu diawali dengan langkah kecil. Aku percaya padamu, My Lof. Kamu percaya padaku? Harus. Maka mulailah menulis.

Jangan Biarkan Tulisanmu Mati di Dalam Laci
Ini adalah nasib paling menyedihkan yang dimiliki oleh sebuah tulisan. Tulisan yang hanya hidup di dalam laci adalah tulisan yang mati. Tak mengenal cahaya matahari, apalagi apresiasi. Tulisanmu berhak untuk menghirup udara segar. Ia harus diberikan ruang untuk tumbuh agar kamu sebagai penulisnya ikut tumbuh bersamanya.

Lemparkan tulisanmu pada kejamnya mulut Netizen Almighty. Biarkan ia mengudara walau dicaci maki. Dari sana, akan kamu ketahui hal keliru yang tadinya tak pernah tampak di matamu. Bukankah itu baik untuk perkembangan skill menulismu? Jangan takut terhadap kritik sesungguhnya, kritik bila dinikmati akan serenyah keripik.
===

My Lof, ketika menulis ini aku bahkan berpikir apakah cara-cara yang kulontarkan di atas masuk akal dan bisa kamu gunakan? Aku bahkan ragu dan bingung. Namun, aku tidak ingin membiarkan ide ini menguap lalu hilang. Dengan penuh ragu dan keyakinan, pada akhirnya kuselesaikan juga dan kamu pun membaca pengakuan ini.

Kamu tahu mengapa aku tidak berhenti? Karena aku ingin abadi. Aku ingin menciptakan jejak di dalam sejarahku dan mungkin pada pikiranmu yang barangkali menyangka orang yang menulis ini tidak waras. Tak apa, bukankah orang-orang saat ini memang sudah gila?

Tulisan ini pernah dimuat di http://Gunyam.com

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here