Proses kreatif yang dilakoni seorang pelukis, designer, penulis, musisi, dan pelaku seni lainnya tidak lepas dari sebuah kebuntuan ide. Seakan semua ide, inspirasi, seakan selalu menemui jalan buntu. Begitupun dalam proses menulis yang dikenal dengan istilah writer’s block. Mau dipaksakan sedemikian rupa, maju kena, mundur kena. Serba salah, kata Raisa. Seolah ada tembok raksasa yang mencegah ide dan inspirasi masuk untuk bergerak liar di kepala.

Sebenarnya, saat memasuki tahap kebuntuan ide ada dua kemungkinan yang terjadi. Sebuah kebuntuan bisa menjadi peluang atau ancaman. Berupa peluang, karena insting alamiah manusia yang cenderung berusaha survive saat mengalami hal yang tidak diharapkan sebelumnya. Seperti Etgar Keret saat menulis Suddenly, A Knock on The Door, ia sedang dalam fase kebuntuan ide yang cukup panjang. Kemudian Keret mengubah situasi tersebut menjadi peluang dengan menganggap semua karakter yang ada di buku tersebut bukan hanya sekedar karakter. Tetapi sebagai bagian dari dirinya sendiri sehingga bisa memicu untuk terus menulis. Namun lain lagi jika kebuntuan ide menjadi sebuah ancaman. Sebaliknya justru bisa menyurutkan antusiasme dalam proses kreatif yang sedang dilakukan. Bukankah hal ini cukup merepotkan?

Setiap penulis memiliki caranya masing-masing dalam mengatasi writer’s block. Karena bagaimanapun menulis butuh fokus yang maksimal. Penulis sekelas Dee atau Dewi Lestari pun sempat ‘mengurung diri’ di sebuah kamar kos di Bandung dalam proses menulis bukunya yang berjudul Perahu Kertas. Namun jangan khawatir, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan saat mengalami writer’s block.

Leave Everything Behind

Tinggalkan semua hal berbau menulis untuk sementara. Hal ini seperti proses fermentasi naskah sebelum proses editing atau revisi. Bisa dengan beristirahat, menonton film atau marathon kartun dan drama korea, mendengarkan musik, bertemu teman sambil ngopi atau ngeteh sore, atau apapun hal yang kita suka supaya bisa me-recharge energi atau bahkan menemukan ide segar saat kembali memulai menulis.

Read More, Write More

Menurut saya, sebuah kemustahilan jika kita menulis tanpa membaca. Tidak hanya buku yang dibaca, tetapi bisa blog atau website favorit. Ada banyak situs untuk bacaan bergizi di dunia maya yang bisa kita konsumsi. Salah satu yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi adalah Medium dan Quora. Selain itu, belajar membaca fenomena bisa menjadi hal yang menarik. Lalu kita bisa mencatat hal-hal yang dianggap relevan dengan proses kreatif tersebut.

Go Offline

Tidak bisa dipungkiri jika smartphone dengan segala isinya seringkali menjadi distraksi terbesar dalam proses menulis. Sesekali mematikan smartphone atau setidaknya menonaktifkan akses internet sementara bisa membantu kita lebih fokus. Karena,saat terlalu sibuk dengan ponsel pintar ini, kadang kita tidak sadar jika banyak hal telah terlewatkan.

Kebuntuan ide beda tipis dengan jatuh cinta tetapi bertepuk sebelah tangan. Saat jatuh cinta. Seberapa besarpun rasa yang ada, tetap tidak bisa dipaksakan dan akhirnya tak terbalas. Begitupun dengan writer’s block, susah payah ingin menulis, tetapi jari jemari hanya berakhir dengan kertas kosong. Lagi-lagi menemui kebuntuan. Deadline seperti dementor yang selalu membayangi, berkeliaran di batas pekat cakrawala dan siap melahap kapan saja. Bagaimanapun, setidaknya kita berusahan melawan saat kebuntuan menulis ini bermula. Satu hal yang paling saya ingat dari sebuah sesi pertemuan singkat dengan Kak W, Windy Ariestanty, bahwa menulis adalah perkara menghadapi diri sendiri.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.