Seandainya kita diberi pilihan, lebih baik ketinggalan smartphone atau dompet? Saya yakin sebagian besar jawabannya adalah ketinggalan dompet. Bagaimana tidak, dari mulai bangun tidur hingga sesaat sebelum mata terpejam, smartphone dan internet perlahan menjadi sebuah kebutuhan yang bagi banyak orang berubah menjadi kebutuhan primer, sejajar dengan sandang, pangan dan papan. Terlepas dari internet yang diibaratkan seperti pisau bermata dua, sebenarnya tergantung bagaimana sang nakhoda membawa kapalnya berkelana.

Begitu pula dengan dunia literasi yang mau tidak mau terus berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman. Literasi digital tidak lepas dari hadirnya industry 4.0, sebuah revolusi industri keempat, era disrupsi dengan mendigitalisasi keseharian  manusia, di mana informasi bukan lagi sebuah privasi dan data yang menjadi sebuah komoditi. Mereka yang melek teknologi dan mampu melihat peluang dan memanfaatkannya dengan baik di era digital inilah yang mampu bersaing.

Jika dulu kita hanya berkutat dengan media offline seperti buku, maka adanya internet menjadi sebuah trigger sekaligus media alternatif bahkan media baru dalam tumbuh dan berkembangnya literasi. Media sosial hanya salah satu tangga bagi ide, gagasan, kreatifitas, dieksplorasi sedemikian rupa dalam dunia literasi digital sehingga menciptakan fenomena yang tak pernah luput dan habis untuk terus digali.

Literasi dan internet bagi saya merupakan suatu hal misterius yang selalu membuat penasaran. It’s weirdly enchanting. Selalu ada hal-hal baru sebagai hasil dari proses pemikiran para creator sekian lama dan sedemikian rupa dan bagaimana hal tersebut bisa tersampaikan dengan baik dan berhasil menjadi hal yang memiliki konsekuensi akan adanya respon yang sesuai dengan yang diharapkan atau sebaliknya. Baik dengan tujuan untuk berkarya untuk diri sendiri yang menjadikan jejaring sosial sebagai rumah singgah sebagai media eksplorasi, ekspresi, dan interaksi, atau mereka yang menggunakannnya untuk bukti eksistensial, atau bahkan monetizing. Tidak ada yang salah, seharusnya.

Lalu, siapkah kita dengan perubahan tersebut? siapkah kita tumbuh dan tak terasing di tengah literasi digital?

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.