Beberapa hari terakhir, langit pagi hingga siang sangat cerah. Namun, langit berubah wajah ketika senja membawa balaawan kelam. Cuaca semacam memberitahu akan hujan, tapi tidak. Begitu juga dengan pikiran, terkadang cerah, terkadang temaram. Semacam lampu yang melempem, tidak gelap juga terang. Setengah menyala, tapi tidak redup.

Barangkali, alam tengah memberi tahu bahwa dunia sastra tengah berduka. Seorang penulis ternama telah menghentikan perjalanannya di dunia. Ia membuka pintu sebuah dimensi untuk melanjutkan perjalanannya di alam lain. Hamsad Rangkuti benar-benar telah telah pergi, ia tidak dapat mengatakan Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan lagi. Sebuah cerpen yang ia tulis sebagai pernyataan melawan kematiannya. Cerpen itu terlahir saat ia mengalami masa kritis. Kali ini berbeda, ia benar-benar lemah di pembaringan rumah sakit. Dan, Rangkuti tidak dapat mengelak dengan jemputan si Tuan (kematian) itu.

Ia meninggalkan anak-anak pikirannya dalam beragam karya tulis, terkhusus cerpen. Penerima penghargaaan Southeast Asian Writers Award (2008) dan Khatulistiwa Award (2003) itu, lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Ia mengembuskan napas terakhir, pada hari Minggu (26/8/2018). Nurwindasari, istri almarhum, mengabarkan suaminya telah meninggal dunia pukul 06.00 WIB (Dilansir liputan6.com).

Saya adalah pelamun yang parah. Saya suka duduk berjam-jam di atas pohon; membiarkan pikiran saya pergi ke mana dia suka, tanpa saya mengontrolnya, dan saya merasa nikmat. Saya merasa berada di dunia lain, dunia imajinasi; sebuah dunia ciptaan.1

Kehidupan-kehidupan yang membekas pada dirinya menjadi gambaran yang hadir saat ia diajak ke dunia kematian. Ia mengakhiri prolog dalam buku kumpulan cerpen “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”, semacam pertanda.

Penulis yang mengaku sebagai golongan penulis berbakat alam itu, tidak dapat merangkai kata-kata lagi. Akan tetapi, kata-katanya akan membekas bagi para pembaca yang berguru pada buku-bukunya. Tak usah melamun lagi, Maestro!

________________________________________________

  1. Paragraf pertama Hamsad Rangkuti dalam prolog buku kumpulan cerpennya “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.