Mengenal buku antologi cerpen pertama Mufidz At-Thoriq berjudul, “Batu yang Dililit Ari”, hampir seluruh gaya kepenulisannya sangat epigon. Lebih kental Bodeismenya, kenapa? Penghormatan sang murid terhadap sang guru yang sangat dalam, memberi pengaruh besar dalam gaya kepenulisan dalam buku antologi cerpen pertama. Beberapa waktu lalu, naskah buku kedua antologi cerpen Mufidz, terlihat berbeda. Rupanya, ia mulai terlepas dari keterpengaruhan sang guru. Mulai dari halaman pertama hingga akhir, terasa berbeda dari buku pertamanya.

Sang murid semacam mulai belajar bertualang sendirian. Terlepas dari temali kuat yang pernah diikat pengaruh sang guru. Penghormatan gaya kepenulisan dalam buku antologi cerpen keduanya tetap hadir. Namun, tidak sekuat buku pertamanya. Mufidz menjadi Santiago, sang penggembala yang bertualang untuk menemukan pertautan kisah sesuai pencariannya. Ia menuliskan seluruh arah cerita untuk menemukan dirinya dalam kepenulisan buku keduanya ini.

Dominasi cerita sesuai hasrat yang dikembangkannya; tragis, putus asa, gelap, dan mistis. Ia berhasil membangun etalase dalam setiap awal ceritanya. Sebagaimana yang dikatakan Hermawan Aksan bahwa awal cerpen, yang terletak pada alinea-alinea pertama, ibarat etalase sebuah toko. Etalase harus ditata sedemikian rupa sehingga menarik orang yang lewat dan berkunjung. Begitu juga alinea pertama cerpen, Mufidz memiliki gaya tersendiri dalam mengikat pembaca mulai paragraf pertama. Selain kerap memberi kejutan, baik di tengah atau akhir cerita.

Buku ini semacam konsep tubuh, jiwa, dan ruh yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah paham yang meyakini konsep trikotomi. Ketiga unsur yang memiliki kuasa masing-masing kemudian secara sadar atau tidak, diracik Mufidz menjadi hubungan rasa, psikis, dan biologis. Tiga sudut cerita dengan gaya khas sang empukarya, tentu dapat menarik perhatian pembaca.

Sebuah buku antologi cerpen yang dibagi tiga bagian dengan nuansa memoriam, magi, dan satire terhidang bersama bercangkir-cangkir kopi di atas meja senja. Percakapan antarmulti penggiat berpagut di sebuah kedai yang kerap menyelenggarakan acara “Jamah Karya”. Buku yang bertajuk “Gelanggang Kuda” karya Mufidz At-thoriq memang tengah diperbincangkan anak-anak muda. Terkhusus mereka yang kerap berkumpul di Kedai Kopi Nawnaw sebagai lokasi penjamahkaryaan album lagu dan buku.

Sesuai rencana awal penyelenggara “Jamah Karya”, buku ini akan dibedah kedua author raamfest.com, yakni Lupy Agustina Dewi dan Qiny Shonia. Para penjamah karya sengaja menghadirkan para perempuan untuk mengangkat sosok-sosok Hawa Tasikmalaya yang benar-benar berkarya. Namun, mereka tengah melanjutkan studi di luar kota yang tidak memungkinkan hadir dan pulang dalam waktu dekat.

Setelah beberapa lagu grunge berkumandang di antara percakapan kami, acara diputuskan pelaksanaannya, pada 15 September 2018. Bedah buku direncakan dengan konsep milenial, santai, tapi mendidik. Tujuan penyelenggaraan “Jamah Karya”, tidak sekadar beraroma musikal saja. Beberapa edisi memang kerap membedah album lagu yang bernuansa gelap. Kali ini, bedah buku yang dikombinasi dengan nuansa musikal akan tersaji di pertengah September ini. Salam satu frekuensi, cheers!

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.