Gempa, tsunami, longsor, gunung meletus, kerap direspon manusia dengan teriakan. Andai bahasa alam itu dimengerti. Bukankah suara teriakan manusia itu sendiri adalah retakan  bumi? Ia menyampaikan pesan cukup keras dengan menelan korban atau tidak. Bahasa tubuh alam kerap dianggap bencana. Sedang sebagian tubuhnya dihegemoni manusia yang serakah menikmati sumber daya yang terkandung di dalamnya. Tanpa atau dengan digagahi, alam akan berkata kepada manusia tiba-tiba. Tidak dapat diprediksi meski dideteksi secara dini, pada saat manusia lengah atau siaga. Kedatangannya menggelegar, berdesir, atau bahkan senyap di hadapan manusia.

Lombok berduka. Gempa bumi berkekuatan 7 skala richter (SR) mengguncang daratan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Meskipun terjadi di darat, patahannya sampai di pantai yang kemudian peringatan Tsunami diberlakukan. Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisoka (BMKG) Harry Tirto Djatmiko mengatakan, gempa 7 SR tersebut memang berpusat di darat, yakni tepatnya pada titik 8.37 LS dan 116.48 BT pada kedalaman 15 km. Namun, patahan gempa tersebut terjadi sampai ke laut (Dikutip dari news.detik.com).

alt
Pascagempa Lombok (Dok. Yuga Anggana).

“Mohon maaf baru respon. Alhamdulillah saya dan keluarga dalam kondisi aman. Meski masih dilanda kecemasan. Banyak yg bertanya bagaimana kondisi dari semalam. Intinya kami semua panik luar biasa,” pesan Yuga Anggana melalui whatsapp kepada Germit, sahabatnya di Tasikmalaya, (Senin, 6/8/2018).

Yuga sempat terpisah dengan keluarganya pascagempa. Tempat tinggal mereka dekat pantai. Keluarganya diangkut tetangga menggunakan mobil dan ia menggunakan motor. Mereka terjebak macet. Semua orang berteriak takbir juga memperingatkan datangnya Tsunami. Hampir semua orang menuju daerah tinggi. Macet total, listrik mati, tak ada bensin, susah sinyal. Sepanjang jalan hanya bangunan roboh dan orang-orang yang terus berjalan. Kadang tetiba berlari karena merasakan gempa susulan. Mereka semua tidak tahu tujuan pelarian ke mana, limbung, dan hanya mengikuti rombongan di depan. Berhenti karena keletihan, mereka memutuskan istirah di halaman rumah warga yang cukup luas. Yuga bertemu kembali dengan keluarganya. Mereka memutuskan pulang, sekitar pukul 12.30 WIB.  Begadang semalaman, jaga lilin dan waspada.

alt
Kondisi Masjid Pascagempa Lombok (Dok. Yuga Anggana).

Sampai Senin pagi, 6/8/2018, gempa susulan masih terasa. Listrik masih mati, begitu juga air PDAM bernasib sama. Tak ada toko apa pun yang buka. Semua warga memasak di luar. Ambulans tidak berhenti, bolak-balik mengangkut korban yang entah di mana dan dibawa ke mana. Kabar burung, sempat terjadi kenaikan air laut, tetapi hanya sampai beberapa sentimeter saja.

“Begitu cerita sementara. Mohon do’a dari semua,” pungkas Yuga kepada sahabatnya.

alt
Baraka Nusantara Call for Volunteer (Dok. Maryam Rodja).

Sedang Baraka Nusantara berupaya dalam pemulihan psikologi warga pascabencana gempa. Mereka membutuhkan; 9 tenaga Psikolog, 27 tenaga Sarjana Psikologi/Konseling, dan 54 tenaga Non-Psikolog. Tenaga-tenaga tersebut untuk disebar ke beberapa titik kritis akibat gempa di 3 kecamatan terparah; Kecamatan Sambelia, Kecamatan Sembalun (Lombok Timur), dan Kecamatan Bayan (Lombok Utara). Satu kelompok terdiri dari: 1 psikolog, 2 sarjana psikolog pendamping, dan 6 tenaga non-psikolog. Semua relawan akan diberi pembekalan PSYCHOLOGICAL FIRST AID sebelum berangkat via pertemuan dan live streaming Circledoo (portal live streaming for education) untuk yang jauh. Jika berminat, sila daftar melalui laman:
https://www.barakanusantara.org/call-for-volunteer.html.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.