Ketika pertama kali mendengar demo Unstoppable 3-Way Split Hardcore Album, imajinasi saya terbang ke sebuah tebing –benteng tinggi dalam sebuah film serial fenomenal di seluruh dunia “Game of Throne”. Sebuah film yang diadaptasi dari novel saga karangan George R.R. Martin ini merupakan sebuah gambaran absurd seperti di era sekarang. Saya awali dari pasukan Night’s Watch yang dijaga pasukan netral, termasuk Jon Snow yang seorang anak bastard (haram), dididik Ned Stark dari Kerajaan Utara. Ned Stark sendiri dihukum pancung dalam episode-episode awal. Kejutan yang dihadirkan dalam film ini, yaitu mematikan tokoh-tokoh penting. Meskipun berlatar abad pertengahan, secara alur dan isi cerita sangat berkaitan dengan zaman sekarang. Jika dikaitkan dengan lirik “Juggernaut” Tigerwork, yaitu makna pasukan terakhir sebuah generasi berada di antara sihir, intrik, manuver, gimmick, dalam perebutan kekuasaan; tahta, harta, dan wanita. Pada kenyataannya, pihak yang benar dan salah semacam tidak dapat dipastikan dipegang tangan ‘siapa’. Pertarungan sebenarnya bukan antarmanusia yang saling berebut wilayah dan kekuasaan. Ada musuh bersama umat manusia pada akhirnya, yaitu White Walker –gambaran makhluk semacam zombie yang menyerang manusia dalam film tersebut. Seperti yang diilustrasikan film Game of Throne, antarraja menyatakan peperangan untuk menasbihkan bahwa kerajaannya yang terkuat. Padahal, musuh bersama antra-kerajaan menanti di balik dinding Night’s Watch. Dan, itu makhluk berbeda dengan manusia.

Seperti yang diungkapkan Bimo, sang gitaris Tiger Work bahwa kata “Juggernaut” muncul begitu saja. Barangkali, ini merupakan gesekan psikologi yang terjadi antara pikiran dan perasaannya terhadap fenomena yang dikaitkan dengan rujukan-rujukan yang telah dibacanya. Patut diingat bahwa benteng terakhir umat Islam dalam dunia nyata, telah luluh lantak. Nama sebuah daerah di Syam, berada di samping kota yang disebut Damaskus. Saya kutip hadits nabi Muhammad SAW tersebut dari HR. Abu Dawud, No. 4298 dan Ahmad, No. 21725, yang lengkap sabdanya berbunyi, “Sesungguhnya benteng kaum muslimin di hari perang besar terjadi berada di Ghouta (nama sebuah daerah di Syam), berada di samping kota yang disebut Damaskus, Ia adalah kota terbaik yang ada di Syam.” Jika tidak percaya, tengok bumi Suriah hari ini!

Ini kami! Barisan terdepan yang tak akan takut mati! Tak gentar meski lawan kami menghampiri! Kewajiban kami korbankan hidup ini. Sudah saatnya hancurkan tirani!

Sepenggal lirik di atas masih dalam bentuk kata-kata, berbeda dengan perbuatan Razan Al Najjar. Seorang perempuan mungil berusia 21 tahun yang berniat menolong korban terluka di pagar perbatasan. Ini bukan saja sebagai duka Palestina, tetapi duka dunia juga kemanusiaan. Ia benar-benar seorang perempuan pemberani yang berada di barisan terakhir, rela berada di depan pintu kematian. Namun, wajahnya selalu tersenyum meskipun akhirnya harus ditembusi peluru. Tentu saja demi bangsa dan negaranya yang dicintai karena selama tujuh puluh tahun dijajah Israel. Bagaimana dunia memandang ini? Sekelas PBB saja tidak dapat berbuat apa-apa. Jika begini keadaannya, tak perlu menengadahkan tangan ke PBB lagi soal kemanusiaan. Mereka terus berdialog, berdiskusi, berdebat hingga membuang-buang waktu untuk bergiliran bicara di atas podium. Sedang anak-anak manusia yang berbekal batu dan ketapel harus bertahan dari rudal dan senapan. Saya pun teringat band punk asal Mexico, Ska-p – Intifada; orang-orang mati bersama kemanusiaannya. Termasuk, anak-anak Palestina. Mereka melawan dengan musik, batu, dan ketapel. Long live for free Palestine! Ini yang dinamakan resistensi! Berbahagialah di surga Razan!

alt
Razan Al Nazzar (Ilustrasi Leo Aryandinata).

Jika menelaah lirik “Menjadi Icarus”, saya teringat Kanan putra Nabi Nuh yang tidak menuruti perintah ayahandanya untuk masuk ke dalam perahu. Peristiwa banjir besar menenggelamkan Kanaan yang dianggap murtad itu. Persis Icarus dalam mitologi Yunani, ia adalah seorang putra dari pengrajin bernama Daedalus. Meskipun hampir sama, tidak menuruti perintah sang ayah untuk tidak menggunakan sayap yang terbuat dari bulu dan lilin. Sayap itu dibuat ayahnya yang digunakan untuk melarikan diri dari Kreta. Icarus tidak mengabaikan perintah sang ayah agar tidak terbang terlalu dekat dengan matahari. Sehingga, ia terjatuh dan tenggelam di lautan (dalam https://www.amazine.co/24658/siapakah-icarus-kisah-icarus-dalam-mitologi-yunani/).

Keajaiban itu tidak perlu dicari, ia akan menunjukkan rupanya sendiri. Begitulah respon dari strimulus pertama lirik “Staarster” yang ditulis dalam bahasa Inggris. Saya mengetahui makna dalam bahasa Indonesia dari Mamet, sang vokalis. Itu pun ia translate dari google translate, meski secara grammatical masih acak, tetapi maknanya dapat ditangkap.

If music is the way your voice is heard. Why your song is never found? Because everyone can shine. Or fall in thrir own way. Hear little voice inside you. Than your stage fuckin light.

Saya cenderung lebih suka urutan liriknya seperti demikian, yang memangkas beberapa baris dari kedua bait. Selain lebih dalam secara tafsir, tentu saja maknanya lebih sufistik. Hal ini persis El Maestro yang melahirkan seorang gitaris legenda, Frankie Presto. Pada zamannya, Frankie Presto terkenal dengan permainan gitarnya, tetapi bukan sosoknya. Persis ketika ia tidak menyadari bahkan tidak mengenal bahwa El Maestro adalah ayahnya. Peristiwa misterius memang menjadi atmosfer kehidupan, bahkan getaran batin seorang lelaki yang dibawa angin akan disampaikan kepada seorang perempuan. Sang bidadari merasakan getaran itu, tetapi tidak mengetahui siapa pengirimnya. Apakah itu kamu?

Suatu malam, saya berdiskusi dengan seorang intelektual di sebuah kedai. Diskusi tersebut hingga pembahasan soal makna –isme dengan –isasi. Misal, sosialisme dengan sosialisasi berbeda artinya. Itu sangat benar. Kami membahas sebuah bahaya dari –isme, seperti pada kata dasar sosial yang diimbuhi –isme, menjadi sosialisme. Arti yang sesuai KBBI V, yaitu ajaran atau paham kenegaraan dan ekonomi yang berusaha supaya harta benda, industri, dan perusahaan menjadi milik negara: berkecimpung dengan tokoh-tokoh politik -. Sedang kata ‘sosial’ jika diimbuhi –isasi, berarti upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dipahami, dhayati oleh masyarakat; pemasyarakatan. Oleh karena itu pula, jika lirik “Resistensi” hanyalah sebuah simbol semata, sangat berbahaya. Semacam foto-foto pahlawan revolusioner hanya ditempel pada t-shirt saja, ini akan menjadi alay. Tidak mengerti esensi, hanya ikut-ikutan menggunakan kaos bergambar Che Guevara tanpa tahu maksud perjuangannya.

Negeri ini berternak bibit-bibit unggul korupsi. Negeri ini melahirkan pembunuh bernama politikus. Pagi ini rakyat akan muntah menelan janji. Tepat di muka kalian. Satukan barisan dan resistensi ….

Pertanyaannya, satukan barisan untuk apa? Dan, resistensi dari apa? Itulah kenapa selain memiliki sebuah paham, mesti ditindaklanjuti sebuah sikap yang jantan.

Ulasan ini tentang sebuah album yang diluncurkan Tiger Work dengan latar cover merah maroon. Pertama kali melihat warnanya, saya langsung mendefinisakannya sebagai bagian dari tubuh manusia. Apalagi jika bukan jantung yang jika tidak berdenyut, seseorang dinyatakan mati. Oleh sebab itu, teruslah berdenyut dan hidup!

“Semua orang berbakat musik, jika tidak, mengapa Tuhan menaruh jantung terus berdenyut?” satu kalimat sakti Mitch Albom tersebut menutup ulasan saya terhadap lirik “Bagiku Musikku Bagimu Musikmu”. Sebenarnya senapas dengan ayat 6 dari surat Al Kafirun, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” Lakum Diinukum Waliya Diin.

Kesimpulan tulisan ini adalah unstoppable untuk hidup di Bumi Manusia dengan segala seluk-beluk permasalahannya!

alt
Ilustrasi Nawnaw Aliansi.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.