Baiklah, perjalanan sang Oemar yang selama ini menyamar sebagai Samurai akan dibuka rahasianya. Izinkanlah dimulai pada sepertujuh pencariannya. Dalam dua pekan, surat-surat bermunculan. O, tidak! Seorang pengantar pos tidak mengantarkannya dan mengetuk pintu rumah. Bahkan, tiba lebih cepat dari seorang kurir istimewa atau burung pertama yang mengirimkan sandi sekalipun. Kode-kode komputerisasi memberitahu lewat aplikasi ponsel. Betul, zaman terus berubah wajah, semakin waktu berlalu, pendaran wajahnya berkompetisi dengan kecepatan cahaya.

Dalam satu dasawarsa ini, orang-orang yang melewatinya telah menjadi saksi. Tidak sedikit pula yang membiarkan seluruh peristiwanya berlalu dan mati. Berbagai aplikasi bermunculan dan mempermudah orang-orang. Mulai membantu mereka yang hilir-mudik pada lalu-lintas jalanan ibu kota hingga ibu desa. Ternyata, tidak perlu ratusan halaman untuk urunan pemikiran. Tentu saja diharapkan berguna untuk kegelisahan Dewantara yang belum terejawantahkan sebagaimana keabadian bara dewa.

Sebuah karya tulis dapat membuat seorang Oemar satu meja dengan para peneliti dan pemikir. O, ini tidak selalu soal bentuk skripsi, tesis, atau disertasi. Hanya beberapa halaman temuan yang kemudian melewati dimensi waktu. Jaraknya dapat sepersekian detik spektrum matahari selepas hujan. Bukan berarti sebentar, hitung saja cara cahaya tembus dalam perhitungan angka-angka yang diciptakan manusia. Artinya, lama, ya, sangat lama. Ternyata pada beberapa halaman kertas itu, Oemar tidak sekadar menulis tentang kerusakan hulu. Akan tetapi, sesuatu yang kemudian terkirim pada dirinya sendiri suatu waktu.

Ketinggian tujuh lapis langit, ternyata dapat digapai tangan kanan atau kiri seseorang. Hanya saja, seseorang yang seperti apa yang dapat menggenggam kemuskilan? Pertanyaan sendiri yang dapat dinilai keliru setelah tidak disadari selama ini. Tahu, tidak? Jeruji paling nyata yang membatasi pikiran ketika bertamu ke rumah perasaan, selain hentakannya membabi buta juga karena ketakutan.

Akhirnya, setelah Oemar menempuh perjalanan jauh yang menenteng pedang tinta dapat ikut rembug bersama Prof. Soesanto, Dr. Susana Prapunoto, MA-Psy., Dr. Darwin, Dr. Hadi YS., Dra. Cut Ummu Athiya, M.Pd., Dani Muhtada, Ph.D., Dr. Mansyur Arsyad, dan beberapa doktor lain pada pekan sebelumnya. Ya, ketika pekan sebelumnya memilin pemikiran dengan Drs. Asep Supena, M.Psi., Dr. Budiyanto, M.Pd., Dr. Endang Rochyadi, dan Drs. Subagya, M.Si.

Bagi Oemar, ada dimensi lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dimensi tersebut tidak pernah terpetakan dalam pikirannya juga. Memang, pada beberapa tempat persinggahan, ia membicarakan hal-hal yang lebih banyak teknis dan strategi dalam mencari dan menjaring orang-orang terbaik. Mencari sosok-sosok berkompeten dalam memberi pengaruh baik terhadap lingkungannya. Berada dalam lingkaran asing dengan frekuensi vertikal yang berlesatan seperti anak-anak matahari. Biasanya, gelombang bergemuruh secara horizontal dalam kehidupan Santiago. Berusaha memintal percakapan pikir dan batin yang seimbang. Tidak sekadar membicarakan mimpi tanpa realita.

Membuka kesempatan luas pada setiap orang untuk membuka peluang. Siapa pun dapat melakukan praktik baik di sekitar lingkungan hidupnya. Tanda seseorang dikatakan terbaik, yaitu diakui oleh orang-orang terdekatnya. Siapa pun akan matang dengan memiliki banyak pengetahuan setelah melakukan perjalanan jauh. Tidak sekadar bolak-balik di tempat itu-itu saja. Jadi, terus berjalan sejauh-jauhnya dan sekuat-kuatnya. Pada akhirnya, semakin tahu bahwa tidak ada batas akhir sepanjang hayat.

Oemar tentu tidak leluasa bicara, ia selalu hati-hati dengan kata-katanya sendiri. Celah-celah terkadang berkedip-kedip semacam bintang di langit. Ia lebih banyak menggerak-gerikkan matanya sambil menyerap buah-buah pikir yang matang. Mengucah atau menyesap berbagai varian sajian. Setelah berpikir, Oemar kemudian menerjemahkannya dalam tindak-tanduk. Melukis dengan kuas, menulis dengan pena, atau berbicara dengan jiwa.

Oemar tentu tidak leluasa bicara, ia selalu hati-hati dengan kata-katanya sendiri. Celah-celah terkadang berkedip-kedip semacam bintang di langit. Barangkali, Oemar adalah bintang kesepian yang hadir bersama bulan pasi selepas hujan di waktu malam. Berlembar-lembar surat ia tulis, ketika orang-orang terlelap yang diselimuti mimpi-mimpi yang dingin. Sedang Oemar terus mengurai pintalan kusut pikir yang kemudian sedikit-sedikit menjadi benang untuk siap dijahit.

Isi surat yang ditulisnya adalah surat cinta kepada langit yang dibalas dengan bulir-bulir hujan untuk kemudian menumbuhkan tanaman cinta hingga buah-buahnya matang di kemudian hari.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here