Ilustrasi oleh Kirana

Manonjaya, 27 Mei 2018

Halo, Apa Aki sehat?

Seharusnya sore pada bulan Ramadan menjadi kesempatan bagi kita untuk berbagi senja seperti kala itu. Teras berkeramik merah, pohon belimbing di pojok kanan halaman, jambu air yang berulat banyak di pojok kiri, juga cahaya matahari yang menerobos di sela dedaun selalu takzim menyimak engkau yang mendongeng padaku. Kau bercerita tentang batu-batu neraka, semut-semut yang berbicara, jin yang cerdik dan hal-hal hebat yang tak pernah kubayangkan. Aku duduk di pangkuanmu, mengamati wajahmu yang teduh sambil sesekali bertanya.

Kita ngabuburit dengan cara sederhana; berdiam diri menyimak Tuhan dalam kalam dan alam. Di atas kursi kayu yang kau bawa dari sekolahmu, kau duduk takzim. Berlembar ayat suci kau eja dengan suara parau. Aku menemanimu sambil encarakan sendirian. Kau mengaji ayat, kumengaji batu-batu yang kupungut dari beranda. Kau tak pernah memaksaku mengaji bersamamu. Kau bilang, batu-batu pun sebagian dari Tuhan.

Ini adalah tahun kedelapan kita menjalani hubungan jarak jauh. Bukan hanya jarak, kukira waktu tak pernah lagi seirama untuk kita. Teras tempat kita ngabuburit telah banyak berubah. Beranda kita tak lagi dijaga belimbing dan jambu air. Mereka telah lama kukut setelah kepergian engkau. Hanya ada beberapa pot bunga juga pohon nangka yang kau tanam waktu itu. Juga aku yang tak lagi berkawan batu dan dongeng-dongeng.

Entah seperti apa soremu setelah sekian lama. Barangkali engkau menikmati sore bersama bidadari cantik yang dijanjikan Tuhan untuk orang saleh. Aku penasaran seberapa semarak Ramadan di sorga? Apakah engkau sering bukber dengan kawan-kawan? Adakah takjil yang sedang populer seperti es kepal milo? Apa Aki harus coba meminta itu kepada Tuhan. Ya, es kepal milo, lezat sekali.

Apa Aki, Ramadan di bumi sudah menginjak hari kesepuluh. Setiap hari aku memasak untuk sahur dan berbuka. Kesibukan di dapur cukup membuatku sakit kepala sampai-sampai aku baru sempat menulis surat kepadamu sore ini. Selain kangen, banyak yang ingin kukabarkan kepadamu.

Engkau tahu, Pak, sekarang orang-orang tidak lagi suka ngabuburit di teras rumah. Mereka lebih senang berkerumun di taman-taman, di jalan-jalan, menjajaki jajanan, menghabiskan sore dalam keriuhan. Aku sering dengan sengaja menyesatkan diri dalam arus, ingin menghanyutkan sepi karena teringat Apa. Namun, dongeng-dongengmu, Pak, tak mampu digerus klakson kendaraan. Suara paraumu ketika mengaji tetap lebih teduh dari pada kidung dan dengung celoteh orang-orang. Ngabuburit versi kita, tetap yang terbaiq!

Rindukah engkau padaku, Pak? Lama sekali kita tidak bersua. Aku selalu takut engkau akan lupa padaku sebab di sorga tentu banyak orang-orang saleh yang menyenangkan. Omong-omong, apakah kau bertemu keluarga saleh yang mati dua minggu lalu, Pak? Mereka amat terkenal, diberitakan di televisi dan portal berita.

Kalau tak salah ingat, mereka meledakkan diri di beberapa gereja, mengajak paksa orang-orang yang belum mau mati untuk bertemu Tuhan. Tubuh mereka menjadi puing yang menyerakkan ketakutan dalam hati semua orang. Mereka mati syahid, katanya. Mereka ingin sorga, begitu yang kubaca di berita. Kalau Apa kebetulan bertemu mereka, tolong tanyakan alamat sorga yang mereka tuju.

Aku juga ingin mati syahid, Pak. Ingin satu sorga bersamamu. Hanya, aku tak cukup berani meledakkan diri macam keluarga saleh itu. Menurut Apa, bagaimana jika aku rajin mengaji saja setiap sore seperti yang kau lakukan dulu? Atau mungkin aku juga perlu bersedekah kepada para abang becak, nenek jompo, dan banyak orang biar dermawan macam engkau? Oh ya, hampir lupa, sepertinya dulu Apa tak pernah berhenti melafalkan salawat dalam waktu senggang? Haruskah kucoba semua itu?

Apa, aku kangen sekali kepadamu. Seandainya Tuhan tidak menyuruhmu pulang terlalu cepat, tentu akan kucerikan padamu kisah-kisah lucu sambil kupijit betis kakimu. Karena aku sudah cukup dewasa, aku ingin sekali menemanimu mengaji di beranda rumah. Aku tidak akan encrakan lagi. Rasanya akan bagus kalau kita mendaras Quran berjamaah sambil menunggu magrib.

Eh, sudah hampir magrib! Sudah dulu ya, Pak. Baik-baik di sorga. Tunggu aku menyusulmu ke sana, tapi agak lama karena aku mau menabung dulu pahala biar tiket sorga cukup untuk kubeli. Aku tidak bisa kalau harus bom syahid seperti keluarga itu, takut, Pak. Sampaikan salamku kepada mereka ya kalau Apa bertemu pas sedang ngabuburit di sorga. Apa jangan rindu padaku, itu berat, biar aku saja!

Salam sayang,
Cucumu yang manis.

 

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.