alt
Ilustrasi Ramdan

Sesungguhnya aku belum mengatakan apa-apa. Entah yang tercetak dalam buku, irama lagu, atau beberapa laku. Banyak hal yang sebenarnya masih kusimpan di dalam sebuah kotak, ini bayanganku saja, mungkin di dalam kepala atau di balik dada. Persoalannya adalah sebuah momentum yang sungguh terbuka. Tidak disamarkan kelambu sutera atau salah satu jenis sastra. Banyak hal yang telah dilakukan orang-orang besar, ia telah selesai dengan ‘aku’-nya. Sehingga, mereka tidak perlu mempertimbangkan waktu. Sebab segala hal yang dihadapi mereka sangat mendesak. Jarak sangat pendek dan waktu sangat cepat. Maka, lihatlah ketika mereka bergerak, terlihat terburu-buru. Entah hadir dalam sebuah pertemuan atau sekadar menghadiri sebuah undangan pernikahan. Meskipun membuatku ragu, apakah mereka benar-benar terjaga atau malah terganggu?

Mereka memiliki kualitas tersendiri. Sepanjang pengetahuanku, hanya ada satu kunci ketika seseorang terlihat pintar, cerdas, dan menguasai. Siapa pun orangnya, entah berhaluan kanan atau kiri, mereka memegang kuncinya sendiri-sendiri. Meski mereka memutuskan sikap dengan keyakinannya masing-masing. Dengan cara revolusi, senyap, atau bahkan melenyapkan eksistensinya: Hasan Al Bana, Soekarno, Semaoen, Kartosoewirjo, Mohammad Hatta, Fidel Castro, Che Guevara, Hitler, Saddam Husein, Homeini, Gus Dur, Thomas Alva Edison, Maxim Gorky, Honore de Balzac, Abraham Lincoln, Stalin dan Kurt Cobain.

Aku memang belum mencapai kepekaan semacam Helen Keller, misalnya. Sejauh ini ia telah menceritakan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Tetapi belum ditunjukkan betapa bergantungnya ia kepada buku. Tidak hanya untuk kesenangan dan pengetahuan yang diberikan buku kepada pembaca, tetapi juga untuk pengetahuan yang sampai kepada orang lain melalui mata dan telinga mereka. Kenyataannya, buku terasa lebih bermanfaat bagi pendidikannya daripada hal-hal lainnya, sehingga ia harus mengingat kembali saat pertama kali ia mulai membaca. Buku bagi mereka bukan sekadar teks tanpa pengaruh kuat terhadap cara berpikir. Justru karena bacaan yang dikhatami dari berbagai referensi itulah mereka dianggap memili derajat dan martabat. Perbedaannya adalah cara menautkan. Itu saja.

Semisal rahasia yang terbenam dan baru akan diungkapkan ini, tidak terkait dengan pertarungan Biarawan Sion dan Opusv Dei terhadap kemungkinan Yesus Kristus menikahi Maria Magdalena dalam The Davinci Code yang ditulis Dan Brown. Jika seorang jenderal memiliki ajudan setia, maka orang yang dipercaya adalah tunggal. Inilah yang terjadi dalam penyelesaian novel prosais “Kota Tujuh Stanza”. Pertama-pertama, aku bukan seorang jenderal bintang lima. Meskipun kawan-kawan menyematkan panggilan “Jenderal”, itu pun gara-gara sebuah lagu tentang Petuah Jenderal Soedirman yang diciptakan tahun 2015.

Di sini, aku ingin menjelaskan soal peran Sinta Dewi Vaira yang lebih dikenal dengan panggilan Jojo. Ia memiliki peran yang sangat vital di balik prosa yang kutulis. Sebelum ada konsep acara Sampurasun – Raamfest, aku lebih dulu mengenalnya dengan beberapa kerja sama dan proses kreatif komunitas. Pada suatu malam di sebuah kedai –banyak peristiwa yang kemudian kedai kopi dijadikan sebagai kumpulan suluh api ungun yang dibawa orang-orang kreatif Tasikmalaya untuk dibakar bersama. Ia memperlihatkan bahan skripsi yang akan dijadikan novel. Sejak malam itu, banyak peristiwa aneh juga yang kemudian novel tersebut belum terbit hingga hari ini.

Hanya saja, aku menemukan sebuah data yang memantik perhatian, soal labirin Tasikmalaya yang notabene sebagai kubah kota santri. Sebuah kota kecil yang terlihat semacam ceruk bermuka gelap yang justru ada di dalam cahaya. Aku tertarik pada halaman skripsinya tersebut. Dalam pikiranku, ia dapat dijadikan sebagai narahubung untuk menggali rahasia-rahasia. Semacam kerja intel yang mengurai sebab-sebab dari narasumber langsung yang sulit diwawancarai, apalagi hanya diajak bicara hahahihi. Padahal, ia memiliki rencana untuk bekerja di ibu kota. Aku memintanya untuk membantu dalam penggarapan prosa dan teknis acara. Dan mengejutkan, “Ok, aku terlibat, tapi setahun!” jawaban lugasnya cukup menenangkan. Maka, beberapa judul dalam prosa “Kota Tujuh Stanza” ada karena proses pertalian narasumber yang diikat Jojo. Misal, pada judul Maha Manvantara dan Larasati merupakan hasil eksplorasi yang sangat privat.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.