Seorang tua yang selalu berada di bawah lampu perempatan alun-alun itu tidak lagi membuka halaman-halaman daftar muridnya. Sepeda yang disandarkan pada bahu trotoar dengan plank “Menerima Kursus Bahasa Inggris dan Jepang” di belakang sepedanya pun tidak lagi terlihat. Ia memang tidak pernah membunyikan klakson manual sepedanya, seperti pedagang keliling ice cream walls yang nada-nadanya terngiang hingga lintas generasi. Begitu juga Pak Mmelmi yang kemudian menjadi sejarah bagi pribadi. Karena garis peta hidup yang telah dibuatnya mengantarkan tujuh lirik, album lagu, dan buku pada kenyataan.

Sambaran kilat mendadak menghajar pemancar yang mengakibatkan sinyal seluruh alat komunikasi, televisi, dan radio, tidak lagi mengantarkan suara dan gambar kepada para pemirsanya. Persis sebuah kabar yang datang tiba-tiba dan tentu saja mengejutkan.

Orang-orang yang sering mendapati atau berpapasan dengannya ketika lampu merah berhenti tidak lagi melirik ke arah kiri.  Ia baru pulang ketika lampu stopan telah berwarna kuning pada pukul 22.00 WIB. Namun, ia benar-benar pulang dan tidak akan pernah kembali duduk bersimpuh di bawah lampu perempatan  Citapen, Kota Tasikmalaya lagi. Ya, selama-lamanya.

Salah sosok yang telah memberi pengaruh besar terhadap multikarya anak-anak muda Tasikmalaya telah meninggalkan harta kekaryaannya. Ia adalah salah satu gravitasi yang menarik perhatian anak-anak muda Tasikmalaya untuk bergotong royong dalam mengangkat tanah kelahiran melalui karya multiliterasi.

Sosok multitafsir setelah diceritakan berbagai kisah hidupnya dari Don Uyung Aria. Manusia unik yang telah khatam menjalani kemapanan hingga memilih bahu jalan. Sosok yang pernah menjadi pegawai bank, mantan suami, dan parlente itu tidak pernah menyesal. Sebab falsafah hidupnya tidak suka dengan perandaian. Ia tidak segan-segan memilih bahu jalan untuk mengawali langkah baru dengan menjadi guru tanpa nomor induk. Cita-cita mulianya adalah membangun sekolah tingkat menengah atas untuk berbagi keahlian bahasa mancanegara dan matahari terbit. “Ingin membantu pemerintah dalam dunia pendidikan,” tiru Uyung ketika Almarhum Pak Mmelmi sering mencurahkan kegelisahannya.

Ada peristiwa ajaib ketika sekumpulan anak muda memantik api kecil yang kemudian membakar suluh semangat yang berserakan. Dalam rentang waktu selama kurang-lebih 120 hari, mulai 17 Agustus 2017, meluncurkan video multiliterasi “Sampurasun”. Dilanjutkan peluncuran album lagu, buku, website, foto, dan sketsa yang bersumber dari tujuh lirik sebelum akhir tahun, 16 Desember 2017. Seluruh peristiwa yang bagi pribadi adalah spektrum yang memberi warna dalam hidup bahwa harapan masih ada untuk menjadi satu warna sumber cahaya. Seluruh peristiwa itu kemudian dirumahkan pada laman: raamfest.com. Namun, setelah acara pada akhir tahun tersebut semua komunitas yang terlibat bercerai-berai. Sibuk dengan urusan masing-masing yang mendesak dan tidak dapat dihindari. Denyut yang dijaga dalam spirit siklus sampurasun – raamfest hanya berdetak pada lamannya saja.

Hingga suatu peristiwa tidak terduga kemudian menyatukan kembali mereka yang telah berjalan ke arah masing-masing. Jika gelombang pada radio bergemuruh, kemudian frekuensinya digeser pada garis yang tepat maka suaranya menjadi sama lagi. Suara-suara dari balik kotak muncul dengan jelas untuk meneriakkan kembali sesuatu yang tertunda; memvisualkan Tasikmalaya dalam sebuah film.

Bahkan terkadang, kematian seseorang justru menarik kembali tali-temali kekerabatan, pertemanan, dan pernikahan yang telah jauh. Bisa saja ketika semasa hidupnya ia sendirian, sepi, dan tanpa percakapan hangat di atas meja makan.

Padahal, orang-orang dalam pertemalian tadi tahu bahwa ia membutuhkan semua itu. Meskipun selama hidupnya ia tidak meminta untuk ditemani, dikasihani, ataupun dipura-purai dengan kebaikan. Ia butuh kejujuran setiap orang yang dikenali ataupun tidak. Sebab sesuatu yang dipaksakan seringkali terasa tanpa getaran.

Lihat saja photoshoot terakhir Pak Mmelmi bersama Supercharger Band untuk Kompilasi Album Lagu “Satu Frekuensi”. Dibidik Fiat Purnama pada pukul 04.00 pagi masih bersedia memenuhi keinginan Pasukan Raamfest (Pasraamfest). Sebagaimana Fiat yang mengaku tidak mengenalnya, begitu juga dengan saya yang tidak pernah berkomunikasi. Akan tetapi, saya, Fiat, dan semua pihak kemudian dengan bahagia mengabadikannya. Menjadikannya bagian dari sejarah gerakan kreativitas anak-anak muda Tasikmalaya adalah sebuah penghormatan.

Ilustrasi @gebbybagaskaras

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here