DARI kejauhan, hanya cahaya lampu-lampu yang menyelamatkan kota itu untuk tak disebut tenggelam. Angin tiba. Angin yang terlihat sudah begitu tua bangka. Ia seperti menghela nafasnya yang mulai lambat, satu-dua, seusai mengunjungi kota demi kota, melewati negeri demi negeri. Ia terlihat begitu lelah, semacam ingin rebah atau istirah dari keperihan barang sejenak saja. Begitulah!

Tetapi kukira, ia harus berpikir ulang sekalipun untuk tidur sebentar. Mungkin sebab sebuah kota yang dikunjunginya kini, adalah sebuah kota dengan seribu cerobong asap. Mesin bergemuruh siang-malam, pagi dan petang. Maquiladoras [1]!! Selamat datang di dunia beban [2]!!

Hari sudah malam, Senor! Dan di malam-malam seperti inilah sebuah jalan raya kerap menyergap, sehabis sepanjang siang menyembunyikan sebilah pedang di balik pinggang. Diiringi salak anjing, ya salak anjing! Juga letusan pistol, ya… yang entah berapa ratus ribu kali lagi ia akan berdesing.

“Percayalah, bau kotamu akan semakin asing, Ernest! Terlebih Kota itu kini dipimpin Walikota yang serupa tikus got!” Ia mengingat kata-kata itu sesampainya di pekarangan sebuah rumah. Sembari memperhatikan teras, tempat dulu bermain kuda kayu bersama ayahnya sewaktu kecil. Chery, serta cemara-cemara yang telah tumbang.

Kemudian terlihat pintu rumah dibuka oleh seorang lelaki tua yang membalikkan badan, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam. Terakhir, lelaki tua itu membanting pintu, lantas menuju mobil bak yang juga tua yang tengah terparkir di halaman, di samping taman.

“Hei, rupanya kau pulang juga, anak berandal. Musim dingin yang berkah, Maria!” lelaki tua itu menyapa Ernest.

“Ya, Senor!” ucap Ernest dingin, setelah terdiam agak lama.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here