“Membaca naskah Sang Jenderal, seperti berkelana dan berpetualang dalam suasana di kota kelahiran tercinta. Ada juga cerita pengembaraan yang selalu bermuara pada kerinduan sebuah keluarga kecil. Menarik, setelah sekian lama kornea mata tidak menjelajah karya sastra, kisah yang tersirat terasa dekat di mata. Sempat tertawa kecil mendapati ada secuil tokoh dengan nama yang sama dan peran yang disamarkan. Untuk sebuah pembelajaran, demi Kota Tasikmalaya, kita pikul karya ini bersama-sama. Semangat sahabat!” – Adith  Hiracahya (Ilustrator dan Founder URGTSK).

Naskah sebelum dieditori dan diotak-atik hingga revisi keempat; cetakan pertama dibaca oleh Adith Hiracahya, pendiri URGTSK. Saya dikejutkan endorsementnya yang disnapgramkan. Saya pikir sebuah keajaiban ketika saya sendiri masih perang batin dengan kata-kata. Bertarung dengan pasukan kalimat yang berseliweran semacam anak-anak panah. Menelusuk ke dalam pikiran, perasaan, dan suhu tubuh. Saya cukup terkesima ketika Che Adith – begitu saya sering memanggilnya – membaca  tamat naskah yang belum matang itu. Namun, ia merasa naskah tersebut cukup representatif untuk dipetik dari pohon pikiran si empunya naskah.

Ia juga memberi saran beberapa hal soal akhir cerita dalam buku “Kota Tujuh Stanza”, yang kemudian memantik gagasan untuk mendaulat Iwok Abqary sebagai editor. Diskusi beberapa hari dengan Adith merupakan pencerahan tersendiri bagi saya. Barangkali inilah jalan kekaryaan yang tidak serta-merta terlahir begitu saja. Harus ada beberapa fase yang harus dilalui sehingga kelahirannya tidak terpaksa. Apalagi melalui proses cesar semacam seorang ibu hamil yang membelah perutnya agar sang bayi menghirup udara segar.

Saya kirimkan kepadanya karena bertugas sebagai head ilustrator raamfest. Terjadi kesepakatan untuk menggambarkan tujuh judul sepinggan prosa realis panjang tersebut. Semata-mata agar cerita dari awal hingga akhir, senafas. Sebab harus membaca naskah utuh. Bukan berarti mengabaikan 7 ilustrator lainnya. Seluruh pasukan raamfest (baca: pasraamfest) memang dibagi tugas dengan waktu yang mendesak. Dalam waktu singkat; tim penulis, 7 ilustrator, 7 fotografer, 7 videografer, dan 7 band-talent, menyelesaikan tugas bersama-sama, pada 16 Desember 2017. Butuh 120 hari menyelesaikan karya berjamaah ini, sejak peluncuruan video multiliterasi “Sampurasun”, pada 17 Agustus 2017.

Jika ditelisik lebih jauh lagi, saya sendiri bertemu Firman Maulana yang bekerja sama dalam penggarapan video multiliterasi “Sampurasun” di markas URGTSK. Kerja sama inilah yang kemudian memantik karya jawaban dalam acara raamfest. Rencana Saya sering bertemu Firman Maulana (Sukapura Project) sejak saat itu. Pertama kali bertemu dengannya pada awal tahun 2016 di markas URGTSK Jalan Sukarindik Kecamatan Indihiang. Hasrat mengangkat tanah kelahiran melalui karya fotografi dan videografi membuat saya terkesan. Gaya pengambilan sudut pandang mata lensanya membuat saya takjub dan tercengang. “Ternyata ada juga anak muda lokal yang menggunakan kamera dengan kualitas internasional,” puji saya ketika menonton karya-karya video dokumenternya.

Ia mengajak kolaborasi dalam sebuah garapan karya audiovisual tentang Tasikmalaya. Sebuah ajakan yang kemudian saya tanggapi dengan senang hati dan langsung dieksekusi. Saya memang telah bosan jika seorang teman membicarakan ide besar, tetapi tidak pernah mewujudkannya. Berbuat sesuatu tidak selalu dimulai dari titik nol kilometer ibu kota, dan pulau paling timur atau barat. Mewujudkan harapan dapat dilakukan mulai dari tanah kelahiran. Meski memiliki latar belakang berbeda, tetapi memantik gagasan pada gelombang yang sama. Rencana cetakan kedua bakal lebih berwarna.

Seseorang yang tinggal di sebuah perbukitan mengatakan bahwa saya terlalu berpikir keras demi sebuah buku. Ia mendeteksi urat syaraf terjepit di bagian belakang leher dan menyarankan untuk direfleksi aagar mengantisipasi akibat yang fatal. Selama menyelesaikan garapan buku memang terjadi siklus hidup yang tidak beraturan. Rasa kantuk datang menyapa ketika adzan awal berkumandang atau melewati waktu shubuh. Menjaga irama pikiran memang sangat sulit karena tertekan garapan. Namun, ada energi lain ketika fisik dan psikis dikuras selama 120 hari, semangat kawan-kawan lain menjadi atmosfer. Sehingga, terselesaikanlah buku yang lahir dalam waktu singkat.

alt
Ilustrator by Adith Hiracahya

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.