Tentang Sajak yang Bukan Melulu Soal Hujan

Dua pohon kaktus masing-masing menggenggam kelingking kecil dari tubuhku yang menggigil
atas kemungkinan dan ketidakpastian
Mereka terlihat hanya diam, tapi berbicara melalui degup dan derap
Meski peluh, tanpa lenguh

Sementara, aku menapaki tangga-tangga menuju luar angkasa
Mengejar kemungkinan sesekali meraba kepastian
Dua pohon kaktus menuntun rapuh kakiku yang mulai meracau dalam temaram
tetap diam, namun bertahan

Pada kala yang sulit dipahami,
segera kumemeluk satu, dua pohon kaktus
lalu melebur perlahan di udara tanpa sementara

Bandung, Agustus 2016

Seorang Perempuan dan Laki- laki Patah Hati yang Saling Menemukan Satu Sama Lain

Mereka bertemu di sudut kota, sebuah toko buku tua. Di antara buku- buku usang berbalut debu dan kenangan. Saat matahari sore mengirim sinarnya melalui jendela bundar yang memancar pada rak berkarat dan lembaran prosa bernyawa.

Ada sejumput haru setelah pilu. Keduanya percaya pada kata- kata, pada doa. Seiring detik dan degup yang melaju.

Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk saling menyelamatkan dan menyembuhkan setelah lama jeda.

Bandung, September 2017

Aku Tidak Pernah Benar-Benar Menyukai Senja

Aku tidak pernah benar-benar menyukai senja
ia datang terlalu singkat, lalu seenaknya
menghilang di balik pekat
Besoknya, kembali dengan senyum jingganya
yang menawan
Membuat siapapun jatuh cinta
dengan ketiba-tibaannya
Bahkan lagi dan lagi
Seperti adiksi yang tak sudah-sudah

Aku tidak pernah benar-benar menyukai senja
Kadang ia muram, berubah abu-abu
Seringkali muncul bersama tangis hingga deras
Sesekali merajuk, membuat bingung
seolah berkata, ‘Aku tidak apa-apa,’
Sampai waktunya sembunyi bersama gelap
Menyisakan teka-teki sesaat dalam hiruk-pikuk
manusia-manusia yang menyimpan harap

Aku tidak pernah benar-benar menyukai senja
Sebagaimana aku menyukaimu
dan keresahan-keresahan kita
yang rumit
dan berlarut-larut
dari senja sebagai mula

Sebuah Ucapan Selamat pada Tengah Malam

Apa yang lebih menarik dari
sebuah kisah cinta pertama
Jatuh sejatuh-jatuhnya
Patah sepatah-patahnya

Bagaimana dengan kecupan ringan,
bertubi-tubi hingga jauh
pada sebuah pikiran manusia
serta jiwa yang melekat padanya?

Bandung, Februari 2018

Tulisan ini pernah dimuat di laman medium. com/@inshonia dan gunyam.com

Image credit: Billion Photos on wallpaper.wiki

 

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here