“Demikianlah, imajinasi memahkotai pengalaman-pengalaman tanganku. Dan tanganku memperoleh keahliannya dari tangan bijak orang lain yang—juga dipandu oleh imajinasi—telah membawaku pada jalan yang belum kukenal, membuat kegelapan menjadi terang di hadapanku, dan meluruskan jalan berkelok,” Helen Keller di ujung tulisan ‘Aku Melihat dengan Tanganku’. Akhir-akhir ini, suara-suara masa kecil terngiang. Terkadang terdengar melengking, gember, dan desau saja. Apalagi jika bukan soal petuah-petuah, entah dari orang tua atau seorang ustadz ketika mengaji. Padahal, saya tengah menyaksikan karya film “Sadrah” yang disutradarai seorang kawan, Rian Bungsu.

Lelaki yang dikejar-kejar polisi beserta seorang warga itu berusaha lari sekencang embusan angin. Ketika ia berlari, justru berlawanan dengan imajinasi. Ia membayangkan dirinya berada dalam dekapan sang ibu. Suara seorang ibu memang direkam bumi dan langit. Getarannya terus abadi meski sang anak memilih jalan keliru. Satu nasihat orang tua kerap tidak dihayati seorang anak. Bukan persoalan penyesalan datang melalui pintu waktu dari arah belakang. Namun, petuah akan benar-benar menyerap ketika seorang anak mencari jalan ke luar dari gua tergelap.

Saat terdesak, lelaki yang diburu itu berbelok ke arah masjid. Ia pun melaksanakan sholat. Para polisi menunggu di luar. Di sini, saya teringat seorang suku Badui yang kencing di samping masjid. Para sahabat emosional karena kelakuan tak beradab di tempat ibadat. Sedang sang Nabi SAW tenang-tenang saja. Membiarkan seorang Badui itu menyelesaikan hajatnya. Setelah itu, diberi tahu cara yang benar. Pelajaran agung yang membalas cara tidak beradab dengan cara paling berkesan.

Adegan unik ketika seorang warga mendesak kedua polisi, “Cepat tangkap, Pak Polisi!”

“Sssstt … Jangan gurung gusuh! Dia sedang sembahyang, undang-undang melindungi siapa pun yang beribadat,” jelas sang polisi kepada seorang warga yang ikut mengejar. Begitu juga ketika salah seorang polisi mengingatkan teman polisi dan seorang warga untuk membuka sepatu di luar batas suci masjid. Ini merupakan pesan yang sangat dalam karena selain menjunjung tinggi hukum negara, juga mempertanggungjawabkan hukum Tuhan.

Seorang polisi yang belum sholat kemudian menjadi makmum seorang lelaki pelarian. Diikuti sahabat polisi lainnya. Hanya Tuhan yang tahu, ketika para abdi negara beribadah dengan penjahat di mata hukum saat itu juga. Pertimbangan kedua polisi itu atas nama kesadaran kepada Tuhan. Sedang yang berjaga di luar masjid merupakan seorang nonmuslim adalah pertanggungjawaban sosial. Di sinilah harmoni kehidupan terjadi, bahwa hablumminallah dengan hablumminannas tetap terjaga. Artinya, sebuah keputusan mesti masuk akal, tidak sekadar menyerahkan begitu saja kepada Tuhan, tapi ada usaha.

Lelaki yang menjadi imam kedua polisi saat masbuk (mengikuti sholat seseorang yang telah lebih dulu, sedang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat). Apakah lelaki itu menyerahkan diri atau melanjutkan berlari? Apa yang terjadi ketika sang imam mengucap salam terlebih dahulu? Aku sambungkan paragraf awal dengan kalimat sakti Helen juga. Kenikmatan surgawi bisa diperoleh melalui sentuhan. Karena di dalam sentuhan terdapat cinta kasih dan akal budi. Setelah meminta ampun kepada Tuhan, ia menyerahkan diri setelah kedua polisi mengucap salam kemudian.

Semua orang adalah pejuang. Berani memulai lagi meski dari nol ataupun negatif lima. Aroma orang-orang demikian, tercium dari cara berpikir dan mengukir cerita. Tentu saja mereka bukan orang sempurna, jelas! Akan tetapi, mereka selalu berusaha menambal kebocoran atap kepalanya agar tetap hangat ketika musim hujan datang. Kesimpulannya, suasana boleh hampa, tetapi pikiran mesti menyala! Jangan tolak jika pikiran semacam Minke yang menganggap Nyai Ontosoroh sebagai gundik saja. Pikiran dan hatinya mesti perang batin ketika mengatakan “cantik tanpa tandingan” kepada si Indo, Annelies. Ia menganggap dirinya sendiri sebagai Pribumi tidak tahu diri. Atau bahkan, adakah keajaiban dari peristiwa Minke di dalam rumah Nyai? Temukan ajaibmu!

“Dalam kondisi apa pun, kau harus melakukan sholat. Apalagi dalam keadaan terdesak, agar hatimu tenang, Nak!” nasihat sang ibu. Kalimat sakti seorang ibulah yang membuka pintu langit dan bumi. Ketika seorang anak mengulurkan tangan terakhir kali, baik kepada Tuhan dan dosanya sendiri demi sebuah pintu kesempatan, sekali lagi. Meskipun pintu itu berjeruji dan harus dimulai dari penjara.

“Copeeeeeeett!” begitulah cerita film ini dimulai.

Silakan saksikan cerita utuhnya pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=OWOneWrO0yc&feature=youtu.be

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.