“Buuuk, buk, braaakkk!” perut Badrul dihantam pukulan-pukulan telak kedua teman sekelasnya. Ia menangis sekeras-kerasnya. Entah kenapa, niat melaporan ke Bu Guru diurungkannya. Ia pun hanya menuju bangku paling belakang dan diam. Kebetulan Bu Euis, guru kelas satu, sedang mengambil kapur di kantor.

Ketika Bu Euis masuk kelas, suasana kelas hening sekejap, seolah tidak terjadi apa-apa. Badrul terisak sambil memegang perutnya.

“Kenapa kamu, Dul? Sakit perut? Mau pulang sekarang?”

“Ngga, Bu. Tadi…,” belum selesai bicara, Badrul sudah dipelototi Iwan dan Imron yang memukulnya.

Hari mulai siang, jam di dinding kelas menunjukkan pukul 11. 45.

“Anak-anak, Ibu akan menulis di papan tulis, jika bisa menyebutkan kata yang ditulis Ibu di depan, boleh pulang!” kata Bu Euis sambil menulis kata pertamanya.

Isakan Badrul mulai berhenti, entah ilham dari mana, ia membayangkan pohon Sawo.

“Sawo, Bu!” teriak Abdul dari belakang. Sementara teman-temannya yang berada di depan papan tulis, menengok ke belakang.

“Ya, benar! Kamu boleh pulang, Dul!” Bu Euis menyilakannya untuk pulang siang itu.

Mata Iwan dan Imron tidak melotot lagi,

“Duh, Wan, aku menyesal sudah memukul Badrul tadi,” sesal Imron sambil menundukkan kepalanya.

“Ya, aku juga sama,” balas Iwan.

“Besok, kita minta maaf kepada Badrul. Dia sudah pulang dan kita belum bisa jawab kata-kata yang ditulis Bu Euis,” keluh Imron.

Tubuh Badrul paling cengkrang di antara teman-temannya. Di sekolah sering diejek dan dipukul tanpa alasan yang jelas, terutama oleh Iwan dan Imron. Badrul tidak pernah bisa melawan, ia memilih diam dan melupakan kejadiannya. Hebatnya lagi, ia tidak pernah dendam kepada kedua temannya itu.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.