SEORANG LELAKI YANG TERBARING DENGAN NISAN TANPA NAMA

“Laa illaa ha illalllah,
Laa Illaa
Ha
illalllah,
Laa
illaa
ha
illal..llah,,,.”

deru haru
Senyap lindap
Di atas pembaringan, ia melipat jarak. Napasnya patah dan terengah.

Pada subuh yang agung, ia membangun peristirahatan terakhirnya
dari tanah merah dengan nisan tanpa nama
juga bebatu yang dilumuti usia
Reranting tegak mengusung takdir.

Dedaun rimbun menyaksikan ziarah dan doa-doa.
Kata-kata menjadi air menjadi mata menjadi duka

Cemas aku mengeja waktu: seberapa dapat aku menujunya ketika ia menuju-Nya?
Ia tak mengucapkan selamat tinggal.

Hanya seulas senyum yang kekal ditimbun tanah.
Waktu enggan menunggu.

Segala yang fana tak lelah ia tebas hingga mengekalkan ia yang tetap hidup di dalam dadaku setelah kematian menghujam dadanya.

Pada subuh yang agung,
waktu membuatnya geming
di dalam kening
di dalam kenang

Dari kepala dan dadanya,
kupetik dua mutiara; sederhana jua bijaksana

Manonjaya, 091217

 

SINDANGKERTA

Suatu hari pada tahun yang entah,
laut ini adalah yang sering kita kunjungi.
Engkau berdiri bersama kami memegang ponsel merahmu.

Di depanmu, seorang bocah bercelana dalam merah menyala
dan seorang lainnya bergaris kuning merah muda.
Mereka tertawa lepas pada laut yang juga lepas.
Dijejaknya ombak, kerikil, pesisir.

Suatu hari pada tahun yang entah,
laut ini adalah yang sering kita kunjungi.
Engkau masih berdiri bersama kami,
erat dengan ponselmu hitammu.

Di depanmu, seorang anak lelaki berkemeja kotak-kotak putih lahap dengan mie ayam yang ia pesan.
Waktu itu gerimis.
Jejak hujan menempa ombak, kerikil, pesisir.

Suatu hari pada tahun yang entah,
laut ini adalah yang sering kau kunjungi.
Waktu itu senja, bias cahaya menjejak ombak, kerikil, pesisir.
Engkau berdiri tanpa kami, tanpa ponsel, dengannya bertaut lengan.

Sindangkerta,
Suatu hari pada tahun yang entah,
laut ini adalah yang tak akan kami kunjungi (lagi).

Manonjaya, 29-01-16

 

RUANG SUNYI

Pertemuan kita adalah percakapan bisu.
Ruang temu bagi pikiran-pikiran yang berbicara sendiri.
Kamu duduk di kursi dekat pintu.
Aku bersender pada kursi di depan televisi.
Di antara kita: meja, setoples makanan,
juga dua kursi kosong menjadi amat riuh dari biasanya.

Pembicaraan seperti apa yang harus kusemai denganmu?
Haruskah kuawali dengan, “Apa kabar?” atau kubilang saja,“Hey, aku rindu!”
Aku tertawa dalam hati merutuki mulut sendiri.
Sebegini gugupkah aku bertemu kamu?
Kucatat dalam-dalam; cinta bisa mendatangkan penyakit lemas lidah.

Aku, kamu, kita sibuk menonton drama Korea milik saudaramu.
Kuamati wajahmu diam-diam.
Sementara kata-kata di dalam otakku berdesakan meminta dibukakan jendela.

Mereka berkata-kata sendiri, “Sejak kapan rambutmu berubah warna?” tetapi aku terlalu pemalu, maka hanya bisu yang kulontarkan padamu.

Kita sedang membiasakan diri menjadi asing.
Dekat namun berjarak.
Aku yang sungkan, kau yang enggan.
Aku memilih diam sedang kamu bungkam.

Dulu, kita tak seaneh ini.
Atau barangkali, akulah yang tak benar-benar mengenalmu; seberapa sepi ketika kamu menjadi sunyi.

Manonjaya, 09-07-16

 

MENJADI TABAHMU

“Kepada perempuan paling tabahlah pada akhirnya aku akan menyerah,” ujarmu.
Sejenak kemudian, kamu menutup pintu, mematikan lampu.
Membiarkan ruang tamumu disesaki kekosongan yang semarak.
Malam-malam berikutnya, selain percakapan sepi, yang kudapati hanyalah bohlammu yang temaram.

Aku cemas, kamu menggigil, tetapi tak kunjung pemberani memberimu yang paling ingin; sebuah pelukan.
Aku hanya menjadi tamu tanpa ruang.
Menumbuhkan diriku, bunga di antara rerumput liar pekaranganmu.
Yang jika suatu pagi kau ingin membuka pintu, menyudahi pertapaanmu,
Aku ingin tetap di sana.

Menjadi tabahmu yang memakan segala sepi.
Tumbuh bersama waktu-waktu menunggu.
Berganti kelopak-bergugur daun.
Berubah warna-dimakan usia,
Bersitahan terhadap segala cuaca.

Manonjaya, 160316

 

NYALA UNTUK YUYUN

Di antara pepohon rindang, semak belukar, dan ilalang.
Di sela bebunga liar, gugur daun, juga rerumput.
Ada mimpi yang terkoyak dihabisi berahi.

Usiamu masih empat belas saat kepala-kepala itu menidurimu dengan bau arak.
Melucuti seragam lusuhmu yang satu-satunya.
Menggagahi cita-citamu, membenamkannya menuju selangkangan.

Rintihmu tertahan melampaui air mata.
Deru napas dan cucur keringat menyisakan ingatan tetang buku PR-mu juga ibu.

Tetapi, Sayang, kau bisa apa?
Mereka sama banyaknya dengan usiamu.

Manonjaya, 110516

 

TAMU

Kesekian kali ia berkabar padaku,
lewat matahari, angin, reranting, dan tanah merah.
Tak terhitung pula kudapati ia pada malam; berbulan atau kelam.

Ia kerap mengetuk pintu, tiba tanpa suara.
Hanya derai air mata semacam menjadi pertanda
perihal ia yang senang sekali bertamu tiba-tiba.
Namun, adakah yang tak mengerti kebiasaannya?

Ia adalah penamu yang tak mengenal musim,
apalagi usia.

Manonjaya, 120116

Tentang Lupy Agustina Dewi

Perempuan pecinta buku dan gemar menulis hal-hal sederhana dalam blog pribadinya. Anak perempuan yang masih tinggal dengan orang tuanya ini, lahir di Tasikmalaya, 24 Agustus 1992. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi, Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2015.

alt
Biodata Singkat Lupy Agustina Dewi

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here