alt
Ilustrasi Kustriadi Agung

Menekur Hujan

Hujan turunlah, sebab hari ini aku ingin menghirupmu melalui udara,

menciummu melalui air, dan merebah di tanah yang kaubasahi.

Hingga nanti terlelap akalku meliar imajinasiku.

Suaramu yang sendu meredam kegelisahanku.

Membias segala luka nurani.

Hujan ku kecap kau di jiwaku yang basah,

syukur ku di antara alurmu.

 

Pohon Pisang

Oh … Manusia yang selalu menduga-duga atas

dunia yang fatamorgana.

Mata lelah mengucap tangis, senyum lelah

menetes darah.

 

Nyanyian Akar

Kamu cermin mengajak aku tertawa

Kamu wanita mengajak aku menangis

Kamu dunia mengajak aku berambisi

Kamu itu siapa? Dari berbagai wujud yang kusebut,

hanya hamparan air yang terkadang

memburu sudut-sudut kepala.

O, kini aku tersadar sebentar, dunia hanya untuk ditinggalkan. Menanam, menyiram, bertumbuh, bercabang, berbuah, jatuh, tumbuh kembali.

Maka berbahagialah.

 

Sajak Putus Asa

Setelah merekatkan nasib, aku harus pergi,

meninggalkan segala riuh dan menancap di antara senja.

 

Di Beranda Kota

Aku malu melihatnya bisu

di antara roda yang didorong para bocah itu.

Aku haru melihatnya tersenyum di mimbar.

Sementara tangis nenek dipikul botol-botol plastik itu.

Aku murka melihatnya menyeka air mata palsu.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.