alt
Ilustrasi Ihsan Jarot

Melihat Bulan Tenggelam

Aku terduduk di tebing curam

yang di bawahnya deras ombak

yang berasal dari langit—karena langit

dan laut selalu bersekutu dan bersetubuh di sini.

Aku menatap rembulan yang jatuh perlahan

memasuki samudera dingin. Membuat isi lautan penuh.

 

Sebelum rembulan benar-benar mati karena tenggelam,

Aku melayarkan perahu kertas

dari surat-surat dengan alamat yang jelas

namun aku simpan rapat di laci-laci lemari

karena aku tak berani menaruhnya di kotak pos

atau mengantarnya sendiri.

 

Bertaruh dengan gelombang,

Semoga tak terbawa ombak dan kembali menuju pantai

atau terseret, menghantam karang kemudian hancur berkeping-keping.

Aku berharap perahu itu tenggelam dalam tenang.

Terbawa rembulan dan diami dasar yang gelap dan kelam.

 

Bandung, Januari 2017

 

 

Pesan-Pesan Singkat

Kita benar-benar diam.

Kau dan aku menjadi bisu.

Dibatasi berbagai hal.

Langit di matamu,

langit di mataku

tak pernah benar-benar sama.

 

Kata-kata,

Tempat emosi melekat tanpa nyata dilihat.

Ada bunga mekar disingkatnya kabar.

Hujan yang jatuh tak redam bahagiaku,

karena satu pesan darimu.

Meski tersadar diri;

Langit di matamu,

langit di mataku

tak pernah benar-benar beda.

 

Kata-kata,

tempat harapan tumbuh menuju kenyataan.

***

Sepertinya kausengaja membiarkan jeda itu.

Cipta rindu yang uji kesabaran.

Meski tiap harinya aku mengutuk kecil.

Dan aku membiarkan seutuhnya rindu.

Menjamah dan meniduriku.

Sebelum aku lampiaskan

dengan pesan-pesan singkat yang jarang ini.

 

Bandung, November 2016

 

 

Menonton Film Cerdas

Rangkaian gambar berjalan membingungkan,

Terekam segala kisah dari sisi lain kehidupan.

Berawal dari nyanyian tentang camar

yang terbang menuju awan.

Semua terlihat janggal saat harmonika bersuara

mengikuti langkah sang camar.

Seseorang enggan berlari, nampak berhati-hati.

 

Naskah-naskah seolah terhafal dalam satu malam,

karena semuanya terlihat diam, tidak bisu.

Tangan dan kaki lebih banyak bicara dibandingkan semua.

Hampir hening saat perjalanan ini kunikmati.

Hanya suara-suara latar yang menggema.

Dan dalam sebuah scene mereka benar-benar bicara.

Tidak semestinya.

 

Kata-kata tersirat jelas dalam makna yang tak kudengar,

tak kumengerti.

sampai hampir di penghujung adegan,

semuanya nampak begitu saja.

tentang kisah asmara, tentang setara, tentang rasa

yang disamarkan malu-malu

atau  dengan ciuman yang penuh nafsu.

semua terlihat dari perspektif yang berbeda,

sampai nama-nama pemeran berenang menuju permukaan.

 

Bandung, Oktober 2016

 

 

Sejenak

Aku meronta dalam ramainya kota.

Jalanan dan dada berkongsi untuk menjadi sesak, desak.

 

Lelaki yang terus berjalan dengan mata sebuah arloji.

Kulihat di sana jarum jam lebih cepat berjalan.

Perempuan yang membawa berpuluh-puluh kantung kresek,

yang di dalamnya ada kantung-kantung kresek lain.

Yang tidak ada di sana hanya anaknya.

 

Aku hanya diam, menghalangi langkah dari orang-orang

yang seakan tak ada esok hari untuk menuntaskan.

 

Mari sejenak lupakan dan tinggalkan apa yang kaupakai,

kita telanjang tanpa usah malu-malu.

Apa kautahu? Waktu adalah sesuatu yang tak bias berhenti,

dan kita tidak ditakdirkan untuk mengejarnya.

 

Bandung, September 2017

 

*) Salah satu puisi terpilih dalam lomba menulis puisi dari Ellunar Publisher yang dibukukan dengan judul buku “Esensi” tahun 2018.

 

Temaram

 

Pandangmu bias

dan aku tidak ada

***

Jemarimu menari-nari dengan lentiknya.

Aku mengintip paling depan di celah pintu yang hampir tertutup.

Tak bias kubeli tiket, penjualnya hanya kau saja.

Tapi kecantikanmu tak bias diukur dari

lubang besar atau kecil. Alami.

 

Sehabis pentas kau melenggang ke luar

melambai tangan tanda perpisahan.

Mataku jadi hujan dan genangan,

besok mungkin celahnya sudah ditutupi.

Aku menunggu di pintu ke luar

melihat awan-awan yang serupa mataku.

Tidak ada besok. Dan sudah selesai.

Aku berharap tidur lebih awal

dan lama menuju terjaga

 

Nanti kuintip kau dari jendela.

Saat terlelap, mandi, makan dan sakit hati.

Jangan kaumarahi, karena aku tak ada.

Jangan marah-marah sendiri nanti kauluka.

 

Kutitipkan segala sayang di bantal

dan selimutmu. Jangan kau terkejut nanti

karena keasingan ini.

 

Dalam lelap mungkin aku remang

di antara orang-orang yang berlalu-lalang

tidak jadi peran utama karena aktingku biasa saja.

 

Sorotmu temaram

dan aku tidakada.

***

Rupa-rupanya aku terlambat terlelap

bahkan tidak berkedip pun pejam.

Aku masih mengingat lentikan jemarimu

yang bergoyang-goyang. Menyelaraskan.

 

Aku membolos tidur malam pertama

malam kedua aku lupa jadwalnya

malam ketiga alarmku tak menyala

malam-malam selanjutnya aku masih

membayangkan kaumenari.

Saat ini aku sibuk menulis dirimu

besok aku membacanya di kamar mandi

atau saat di sini sunyi sepi

lusa aku menuliskanmu lagi

dan hari-hari selanjutnya aku tiada

 

Tasikmalaya, 2017

 

 

Tentang Penulis:

Ihsan Fadlil yang memakai nama pena ‘ihsan jarot’ (semua huruf kecil dan tidak dipisah), merupakan laki-laki asli dari Tasikmalaya yang kini sedang menumpang hidup di Bandung untuk menyelesaikan pendidikannya di jurusan Desain Interior Universitas Komputer Indonesia. Lahir di Tasikmalaya, 2 Mei 1994. Mulai menulis sejak kelas tiga SMK, kemudian mulai menekuni sastra dari tahun 2014. Bergabung dengan beberapa komuitas sastra di media sosial.

Narahubung

Instagram: @lakuna_

Blog: mencarilakuna.blogspot.com

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.