alt
Ilustrasi Ramdan

ASMARANDANA

Kulantunkan sebait tembang asmarandana

Mengalun

Menghantar hari

Yang dibekap pilu

 

Hari untuk pulang

Untuk bertemu

Di atas bukit

Pekuburan puisi bersemayam

 

Kurawatkan batu nisanmu

Sebab hari sekarang

Untuk pulang

Untuk bertemu

 

DANDELION

Pada gurun pesisir yang luka

Lalu dandelion berkejaran diburu angin utara

Aku menertawakan ensiklopedia kematian

Yang kau bacakan diam-diam

 

Tibalah juga

punggungmu lenyap di ujung jalan

Sementara aku

menunggu di taman binatu

Sudah mengabad kutempuh kesunyian

 

Sebab,

bukan kakimu terlampau ringkih

Hanya nasib kian perih

 

PESTA

Biar sumbang suara

Aku bernyanyi

Melantunkan hidup yang luka

Di utara

Ramai-ramai bersorai

Kau yang punya mata sebilah

Bakar saja Jakarta

 

Katanya sudah meleleh Surakarta

Mari datang malam nanti

Bulan sudah dicelupi darah

Di Halte Klender

Boleh depan ruko jalan Aksara

Kita berpesta

 

Mari Sudahi

Tuhan sudah pergi

Dari Kayama

Pun Lombogia

 

Penculikan,

Bantai-membantai

Sampai ke Kelei

Kau bawa nyawa

 

Di Sayo

Sepuluh nyawa hilang

Kepala mereka bocor

Ditancap panah timah

 

Sintuwu lemba

Ritual kematian

Bersama sorak sorai air  mata

 

Mari kita sudahi

Atau Tuhan pergi lagi

 

Setelah Istanbul

Lampu-lampu Istanbul meremang

Tanah selalu lembap

Pasak-pasak kecil berteman dengan dekut burung hantu

 

Pada kesunyian jembatan Bosporus

Aku malah teringat orang-orang dalam novel Jules Verne

Mereka mengembara ke ujung dunia

 

Seperti aku yang meninggalkan kota

Sambil hujan turun

Kemejaku basah

Persis mata seorang tukang sumur

 

Tepat saat persimpangan

Setelah danau

Aku melihat beberapa pohon cemara,

Kuburan,

Dinding beton,

Jalanan yang kosong

 

Malam sudah lewat

Siang lebih menyedihkan

Sebab ladang-ladang jagung yang ku lihat

Seperti tanah tandus

 

Ke arah Tenggara

Di belakang kota

Berdiri garnisun militer

Mengingatkanku pada tahun-tahun yang lalu

Tentara kali pertama datang

Menyeret ayah

Yang tak pernah kembali

 

(terilhami dari novel The Red-Haired Women karya Orhan Pamuk)

 

TUNA

Sore hari

Aku duduk di atas rerumputan pendek

Di depan danau tenang

Matahari menebar bayang

 

Beberapa jarak dari ku

Terlihat dua orang Tunawisma dan Tunasusila

Berjalan mendekat

Namun nelangsa

Terdengar sambil bercakap mereka

Tetiba si Tunawisma itu bertanya aneh padaku

begini bunyinya:

“kalau koruptor Tuna apa?”

 

“Ikan Tuna mungkin?

Namun mereka sama sekali tak ada gunanya”

Cela si Tunasusila

 

Aku kaget,

Mereka pun kembali jalan terhuyung

Lama-kelamaan hilang

Di telan bayang

 

Tentang Penyair

alt
Gus Salim

Gus Salim yang memiliki nama lengkap Agus Salim Maolana, lahir di Tasikmalaya, 21 Agustus 1997. Sejak kecil menetap di Kota Tangerang bersama keluarganya, sekarang menempuh pendidikan di jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi. Ia juga aktif di organisasi internal jurusan, yaitu di Himpunan Mahasiswa Jurusan DIKSATRASIA dan sekarang menjabat sebagai ketua umum. Mulai menyenangi membaca karya sastra saat kelas 3 SMK dan semakin menyenangi saat sudah masuk kuliah.

Narahubung 083187527274 (WA)

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.