Istilah Bahasa menyatukan kita, memang benar adanya. Ada nilai- nilai tertentu bagi yang mampu berkomunikasi baik menemukan ‘bahasanya’ sendiri dan mengawinkannnya dengan bidang lain. Adanya profesi sebagai copy writer hanya salah satu bukti nyata bahwa kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan. Selain di media, hampir semua perusahaan memiliki seorang copy writer atau setidaknya bagian yang bertugas perihal copywriting. Bukan hanya PR, copy writer dipandang perlu untuk berkomunikasi melalui media tulisan dengan klien atau customer atau sekelompok orang yang memiliki potensi yang cukup baik sebagai target market sekarang atau kemudian.

Selain copy writing, yang menarik dari Bahasa dan bisnis adalah branding. Bagaimana sebuah brand atau merek dengan citra, kredibilitas, karakter, kesan, persepsi dan anggapan bisa tertanam sedemikian jauh dan lama di benak seorang konsumen. Seperti ‘odol’ yang menjadi sebutan untuk pasta gigi bagi banyak orang. Faktanya odol adalah sebuah merk pasta gigi jaman dulu. Mungkin saat nenek saya masih remaja. Bahkan jauh sebelumnya. Dulu, seringkali beliau bertanya atau menyuruh cucunya pergi ke warung untuk membeli odol-pasta gigi, meski akhirnya yang dibeli adalah produk yang sama namun merek berbeda.

Kasus lain adalah menyebut air mineral dalam kemasan dengan aqua. Lagi- lagi Aqua hanyalah sebuah brand. Hal ini adalah bukti berhasilnya sebuah brand bertahan cukup lama di benak para target market-nya. Hanya satu kata singkat, namun dampaknya tidak singkat sama sekali.

credit: wanitaindonesia.co.id
Salah satu potongan film AADC 2, Cinta mengenakan Sejauh scarf.

Kata- kata bisa membuat penasaran dan menyihir banyak orang. Tak terkecuali dengan pilihan kata untuk nama atau brand suatu produk. Brand dengan prefiks ‘Se-’ akhir- akhir ini menarik perhatian saya. Bermula dari beberapa tahun lalu, sebuah kain batik yang memiliki penikmatnya tersendiri dibuat oleh para pengrajin dari Sumba, Bali dan Jawa. Sejauh Mata Memandang, signature dari seorang fashion stylist Chitra Subyakto. Terdengar klise namun sangat unik, puitis, dan manis. Sejauh, batik dengan motif kontemporer yang sebagian besar motif- motif unik dari hal- hal kecil di sekitar. Seperti kain batik bermotif ayam. Bagi para penikmat film AADC 2, scarf Sejauh menjadi pelengkap kecantikan Cinta, Dian Sastro. Sejauh Mata Memandang, mungkin bagaimana sang pemilik ingin ‘anak-anaknya’ selalu ada di hati dan pandangan semua orang dalam rentang jarak apapun.

Sejauh Mata Memandang hanya satu dari sekian banyak brand yang mampu bertahan. Dalam bidang lain seperti kuliner, banyak pula yang memulai bisnisnya dengan menggunakan prefiks se-. Sebut saja, Serasa. Bisa berarti satu rasa. Satu rasa yang sama. Ehm! Tapi di balik makanan sehat, yakni salad bar dan catering. Nama yang cukup singkat namun cukup merepresentasikan maksud dan tujuannya, kuliner sehat. Tidak jauh berbeda, Sejiwa hadir dengan es kopi susunya. Sejiwa, satu jiwa. Satu jiwa yang sama. Para penikmat kopi berkumpul dan menikmati berbagai macam kopi dari sebuah coffee shop di daerah Progo ini. Semua bisa berawal dari ngopi dan kecintaan yang sama terhadap kopi. Seperti sebuah percakapan acak yang mengasyikan, mungkin?

Serasa salad bar terlihat cukup ramai. Foto @se.rasa

Branding hanyalah sebuah awal dari membangun sebuah bisnis. Di antara berbagai macam brand yang ‘kebarat- baratan’, baik Sejauh, Serasa, atau Sejiwa memiliki pesonanya masing-masing. Orang yang mendengar akan merasa tertarik dan membuat penasaran dan bertanya-tanya akan produk seperti apa yang ditawarkan. Dengan pilihan atau padanan kata yang unik dan terdengar manis sebagai branding bisa menghadirkan kesan tersendiri di mata para konsumen. Karena pada dasarnya, manusia selalu tertarik pada hal- hal baru dan tak biasa.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.