Tubuh seorang lelaki terhanyut ke dalam pusaran di tengah lautan. Ia berusa menggapai-gapai ranting yang menggayut di dekatnya. Napas lelaki yang berusaha ke luar dari tarikan pusaran itu tersenggal-senggal. Ia berlari menuju sebuah pintu yang ketika dibuka, berada di sebuah kamar kenyataan. Tidak lama bangun dari mimpi, sejenak terdiam, menguap, dan mengumpulkan nyawa yang masih melayang di langit-langit kamar. Semangat hidup kemudian retak dan patah-patah. Apalagi, dompet yang masih berada di saku belakang celana tinggal beberapa lembar dua ribuan. Ganjalannya sangat terasa dalam posisi duduk di atas kursi, tempat ia menyulam mimpi. Tubuh terkuras pekerjaan selama hampir sepekan dan kekuatannya mulai luluh-lantak. Niat hati pergi ke dokter pun urung karena jangankan untuk membayar dokter, membeli makan pagi di warung depan kost saja harus mengutang semangkuk sayur lodeh. Sepagi itu, ia berniat merebus mie dengan sisa nasi semalam.

Dalam keadaan yang tidak karuan, Rama memaksakan diri pergi ke kantor demi menjaga absensi yang dapat berisiko pada penangguhan gaji. Meskipun ia kaget dengan jarum jam yang menunjukkan pukul 07.30. Sebenarnya, tubuh masih terasa remuk, tetapi ruh selalu mendorong untuk tidak pernah luruh. Meski beberapa kali hampir ambruk, tetapi selalu ada penyangga. Entah apa namanya. Mungkin rasa takut kepada Bos, dipotong gaji, atau mempertahankan pagar terakhir hidupnya agar dapat mengisi perut selama sebulan. Harga kebutuhan, semakin hari melambung ke bulan. Keadaan tersebut membuat terengah-engah seorang Rama yang bekerja di sebuah perusahaan percetakan. “Apalagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan?” Ia mencoba memberi semangat kepada dirinya sendiri.

Jika mengingat jalanan yang macet, diperkirakan baru tiba di kantor setengah jam kemudian. Ia pun terpaksa berangkat. Mata tajam sang Bos menerobos ke celah-celah pikirannya, mengawasi setiap gerak-geriknya. Mulai membuka pintu hingga duduk di tempat kerja, Rama membayangkan sorot killing softly mata sang Tuan Bos. Tentu saja ia harus siap dengan iringan lagu sumbang dari nada-nada fals Bosnya itu.

“Huuuuhhh…” Rama menarik nafas dalam-dalam dan membuang perasaan kalut pada ruang kelam. Kepalanya terasa berat semacam menanggung batu dengan berjalan ke atas bukit, tetapi ia tetap mencoba optimis menghadapi hari itu.

“Hmmm… Berangkat atau membiarkan tubuh menerima haknya?” Keraguan berwujud sosok yang menggoda pikirannya untuk tidak berangkat. Sebelum benar-benar beranjak ke kamar mandi, bara api semacam menempel di balik punggungnya. Ia merasakan panas dan pendaran berwarna kuning langsat memantul-mantul ke dinding-dinding kamar mandi. Meski guyuran air membasuh bagian atas kepalanya, tidak meredam hawa yang membuat tubuhnya tidak merasakan air dingin.

Beberapa Minggu terakhir, cuaca memang kurang bersahabat dengan tubuhnya yang tidak memiliki pertahanan militer dalam menghadang musim. Malam hari sering digunakannya untuk ngopi di sebuah kedai yang suasananya temaram. Dinding-dindingnya ditumbuhi akar yang merambat hingga ke langit-langit yang menaungi dari berbagai cuaca.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.