Siapa yang mengira jika kebiasaan generasi 90’an di Indonesia dengan saling bertukar biodata yang ditulis pada kertas binder atau lose leaf warna-warni antarteman akan berevolusi menjadi data-data pribadi yang saling ditukar bukan hanya dengan teman bahkan dengan orang asing di dunia maya? Fenomena yang sudah menjadi budaya, bisa dijumpai pada halaman Friendster, MySpace, kemudian Facebook. Atau sahabat pena yang kini berevolusi dengan hanya ketikan jemari dengan balasan pada waktu yang relatif singkat pada Email atau instant messenger seperti YM, BBM, Whatsapp, WeChat atau Line. Lalu kehadiran diary yang terekspos dalam bentuk blog di halaman WordPress, Blogger, Tumblr dan lain-lain.

Ternyata, tidak hanya makhluk hidup, benda mati seperti media literasi, baik itu membaca maupun menulis terus berevolusi sesuai dengan kebutuhan manusia. Media literasi ini benda mati yang membantu manusia untuk lebih hidup. Selain sebagai demand atau permintaan akan tempat atau rumah kedua. Seperti hukum ekonomi, adanya demand selalu diikuti supply atau penawaran. Kebanyakan media, baik dalam maupun luar negeri ini sama-sama bertujuan membuat wadah lain yang relevan dengan kebutuhan dan budaya baru yang tercipta hingga abad 20.

Jika menurut KBBI, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu: — computer, serta kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.[1] Literasi lama mencakup kompetensi calistung. Sedangkan literasi baru  mencakup literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif.[2]

Dunia dan segala isinya seolah konstan namun sesungguhnya kita bergerak dinamis seiring perubahan-perubahan yang datang silih berganti. Bentuknya bisa sama juga berbeda. Adanya revolusi industri 4.0 menjadi tanda pergerakan yang terus terjadi.  It’s both enchanting yet terrifying. Jika dulu kebutuhan manusia hanya sebatas menulis dan membaca, semakin hari kebutuhan manusia dalam dunia literasi semakin tidak terbatas. Hal ini bisa menjadi ancaman sekaligus peluang bagi para pengguna internet khusunya dan teknologi pada umumnya.

Dalam sebuah sesi diskusi beberapa waktu lalu yang diadakan oleh salah komunitas edukasi untuk para pelaku kreatif, Lingkaran, menurut Tita Larasati seorang akademisi dari Institut Teknologi Bandung merangkap sebagai Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF), literasi digital menjadi salah satu poin sekaligus pion penting dalam bertahan di era Industry 4.0. Karena bukan hanya sekadar menulis dan membaca, literasi digital mencakup berbagai data, media, dan sudut pandang serta cara berpikir seseorang dalam menghadapi berbagai fenomena serta problematika di tengah kemajuan teknologi yang sangat massive beberapa tahun terakhir.

Jika beberapa tahun sebelumnya cita-cita anak Indonesia terbatas pada ingin menjadi dokter, polisi, guru, PNS, bahkan astronot, profesi lain seperti Youtuber merupakan salah satu profesi yang menjadi cita-cita anak-anak masa kini. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kemajuan teknologi membuka peluang-peluang baru di antara ancaman-ancaman yang menghadang. Youtuber hanya salah satu contoh dari kemunculan berbagai peluang dalam circle lapangan pekerjaan yang selalu hadir dalam perihal bias dengan jumlah pengangguran.

Fenomena revolusi industri 4.0 dengan literasi digital dengan momoknya masing-masing memberikan pilihan yang dapat menjadi teman atau lawan. Menjadikannya peluang atau ancaman. Dengan adanya statistik yang menunjukkan budaya akan penggunaan smartphone dalam mengakses internet saat smartphone kini menjadi kebutuhan primer sebagian besar manusia. Dilansir dari Global Digital Report tahun 2018 oleh WeAreSocial yang bekerja sama dengan Hootsuite, 60% pengguna internet di Indonesia menggunakan smartphone sebagai alat dalam mengakses internet. Indonesia menjadi negara ke dengan pengguna internet sebanyak 132 juta jiwa, jumlah tersebut merupakan jumlah pengguna internet yang cukup besar karena lebih 50% dari total masyarakat Indonesia. Selain itu, Indonesia menjadi negara keempat dunia dengan durasi rata-rata 8 jam 51 menit dalam penggunaan internet setiap harinya. Peringkat ini di bawah Thailand, Filipina dan Brazil pada peringkat pertama.  Peluang untuk menjadikan revolusi industry 4.0 dengan memperdalam literasi digital seharusnya menjadi titik cerah. Maka dari itu, kebutuhan untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mengintegrasikan hal tersebut harus terus dilatih, salah satunya dengan menulis.

[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasi

[2] http://www.uinjkt.ac.id/id/perlunya-literasi-baru-menghadapi-era-revolusi-industri-4-0/

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.