alt
Berguru Pada Jarak – (Illustrator: Rizki Koko).

Tuailah padi antara masak

Esok jangan layu-layuan

Inilah kami antara Nampak

Esok jangan rindu-rinduan

 

Bukan lebah sebarang lebah

Lebah bersarang di pohon kayu

Bukan sembah sebarang sembah

Sembah pusaka adat melayu

(Sumber pantun: indosastra.com)

Orang-orang diajak ke pelataran masa lalu. Duduk melingkar dalam suasana senja menuju malam yang beku. Berbalas pantun diiringi irama akordeon, mengingatkan masa jaya pimpinan sang Pegon. Warna-warna kuning menguasai dinding. Rakyat jelata bergairah untuk menari Inang. Mereka semakin buncah menunjukkan kebisaan sastra lisan, diiringi nada-nada harmoni yang semakin menghegemoni. Rakyat biasa dengan para raja berada dalam alas yang sama. Berpasangan dengan para penari anggun di atas panggung.

Sebelum menyatakan diri bergabung ke tatanan nusantara, Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang berbeda pemerintahan. Bersikukuh untuk tidak bergabung dengan pelukan ibu pertiwi, berdiri sebagai negeri atas inisiatif Van Mook dalam Negara Sumatera Timur. Berebut kuasa kerap memantik retakan dengan mengalirkan darah atau tipu muslihat pihak ketiga.

Barangkali karena karena ketimpangan yang terang-terangan. Merasa keadilan dijadikan timbangan untuk diperjualbelikan. Kejayaan hancur dan megobarkan perang saudara. Simpan dalam benak sejarah masa lalu, ambil hikmah untuk dijadikan pelajaran generasi cerdas. Kekuatan retas akibat dari penyakit rakus raja-raja. Sebuah negeri yang memiliki sejarah hancur lebur, terus berulang hingga kini. Masa kelam semestinya tidak dibawa ke masa depan. Demi meninggalkan musim tandus masa lalu dengan hujan kemajuan. Hati-hati, mata-mata cerkas tengah mengintip dan mengawasi agar bangsa ini membelah diri.

Di teras masa lalu, sabda sultan disyairkan dan dipantunkan. Semua orang bahagia karena kasta di antara raja dan rakyat jelata pada satu garis strata. Lihatlah, mereka hanya butuh perhatian yang jujur! Bukan diiming-imingi emas dengan kilauan palsu. Tidak perlu membuat perasaan mereka melebur.

Tidak heran jika di masa kini, negeri ini kerap meratapi. Mempertaruhkan banyak nyawa demi kejayaan imitasi. Lihat kesultanan dan kerajaan yang mengukir jejak legam! Membekas dalam jejak yang mengantarkan catatan hitam pada secarik kertas yang hampir terbakar. Suasana pagi yang tenang dengan air yang jatuh ke bumi, dapat memanjangkan usia negeri. Subur, lebat, dan melindapkan sabana negeri dewa-dewi.

Dari titik sebuah banner besar berdiri (Lubuk Pakam), sekira berjarak 677 km, yang jika ditempuh dengan kendaraan sekitar 16 jam 15 menit, terdapat sebuah wilayah bernama Bukit Tinggi. Di sanalah, tanah kelahiran seorang revolusioner yang sepanjang hidupnya memilih hampa dari cinta seorang perempuan. Bukan hampa dari itu saja, tapi penerimaan sesama anak bangsa yang memiliki cita-cita sama; merdeka! Konsep merdeka bagi dirinya bukan sekadar sebagai hadiah (baca: dengan cara diplomasi dengan Jepang dan masa Agresi Militer Belanda II). Ia memilih konfrontasi ketimbang kompromi. Baginya, bangsa Indonesia layak merdeka 100%. Oleh sebab itu, ia berseberangan dengan empat sekawan–Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Amir Syarifudin.

Ia rakus belajar. Pada usia belia, ia mampu menafsirkan Alquran dan didaulat sebagai guru mengaji. Pascapulang pendidikan dari Belanda (Harlem), ia menjadi guru bagi anak-anak buruh tani yang bekerja di perkebunan teh yang dikelola Belanda. Kenyataan satire bangsanya yang dipadupadankan dengan paham marxisme, menjadikan dirinya sebagai revolusioner sejati. Seluruh hidupnya dicurahkan demi kemerdekaan yang tidak dengan menengadahkan tangan.

“Dari dalam kubur, suaraku lebih lantang daripada di atas bumi,” katanya. Ia diburu bangsa sendiri dan asing karena dianggap berlawanan. Padahal, konsep republik negara ini berasal dari buah yang jatuh dari pohon pikirnya ke bumi pertiwi. Kematiannya misterius dengan akhir cerita tragis yang menurut beberapa rujukan, mati di tangan bangsa sendiri.

Tidak heran jika ia sangat langka dipajang wajahnya di perayaan-perayaan. Ketika ia berdiri di depan Tuhan sebagai muslim, tetapi di depan banyak orang bukan muslim, Ibrahim Datuk Tan Malaka, mengaku kepada dirinya sendiri. Sejatikah ia?

SOFTHIA. Seseorang berhak tidak percaya dengan keyakinan yang lain. Sebagaimana pemahaman Rene Descartes, Spinoza, Leibzniz, dan Wolff yang dapat ditemukan dalam pemikiran Plato dan Aristoteles. Bagi Thomas Hobes, Jhon Locke, Barkeley, dan David Hume berbeda lagi. Kelompok pertama dalam kaum rasionalisme, dengan argumen kuatnya memiliki kelemahan. Begitu juga kelompok kedua yang berada di pihak empirisme, memiliki argumen kuat dengan kelemahan-kelemahannya. Sumber kehidupan bagi kedua kubu tersebut persoalan titik pandang. Mereka memulai dari dalam dan luar raga. Sebagaimana kaujadi siluet atau transparan. Kehendak menerjemahkan matahari dengan gelap dan terang. Bisa dari titik keyakinan diri sendiri yang diperkuat para filsuf atau bukan. Mungkin juga tanpa mereka, kautelah percaya antara kesepakatan dua titik pandang tadi, terdapat sudut liyan. Lalu mereduksinya untuk dijadikan pelajaran tanpa jadwal yang ditempel pada dinding sekolahan. Dalam pembagian waktu, misalnya, kesepakatan hanya ada siang dan malam. Akan tetapi, bukankah janari dan senja juga bagian dari nama waktu?

Kesultanan Deli dan Serdang, Tan Malaka dengan empat sekawan, hingga antarpaham, adalah gambaran pemikiran yang kerap dijadikan pemisah. Padahal, jika benar-benar belajar dari setiap peristiwa atau tanda-tanda, terdapat benang merahnya. Barangkali itulah perumpamaan air dan minyak tidak pernah melebur, yang dapat dijadikan pelajaran bahwa keberagaman sebenarnya warna-warna yang berasal dari sumber cahaya yang sama; matahari. Persis tanah air yang jatuh dari surga, Indonesia.

Begini saja, sebelum memberi salam untuk bertualang ke negeri biru yang lain. Berhentilah sejenak, merangkum seluruh peristiwa dengan memadukan seluruh indera! Menerjemahkan berbagai jenama untuk menjadi satu arti dan dihayati sepanjang masa. Siapa pun dapat menjadi seorang penemu. Paling tidak, menemukan alur hidup yang paling tepat. Apalagi, jika dibersamai orang-orang pilihan. Tidak sekadar pengikut, tapi benar-benar rela. Sebab puncak tertinggi kebersamaan bukan sekadar ketertarikan, melainkan kesetiaan.

Hingga tulisan ini diturunkan sebagai renungan empat hari selama berada di Deli Serdang. Salam Indonesia Raya!

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.