Jika benar-benar menggali sosok guru yang memiliki inovasi pembelajaran dengan penguatan literasi, sebenarnya sangat banyak. Hanya saja terkadang, kehadiran mereka terbenam semacam matahari singgah di sebelah barat punggung bumi. Pengembangan literasi yang terintegrasi dengan pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan muridnya sangat variatif. Oleh sebab itu, Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud RI meluncurkan buku praktik baik literasi sekolah yang berjudul “Merayakan Literasi Menata Masa Depan: Kumpulan Praktik Baik Literasi di Sekolah”, Jumat, 27 Oktober 2017. Bertempat di Plaza Insan Berprestasi Gedung A Kemendikbud pada pukul 09.00 pagi WIB. Kegiatan peluncuran ini merupakan rangkaian dari Festival Literasi Sekolah 27-29 Oktober 2017.

Menurut Hamid Muhammad, Gerakan Literasi Sekolah masih memiliki pekerjaan rumah yang berat dan penting, salah satunya adalah bagaimana menumbuhkan gerakan literasi yang berkesinambungan, konsisten, dan masif, agar dampaknya terjadi secara sistematis. Terutama, literasi perlu tak hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca 15 menit semata, tetapi harus lebih terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Untuk itu, guru-guru perlu mengembangkan metode inovatif dan kreatif untuk mengembangkan pembelajaran dengan strategi literasi. Hal ini dibutuhkan untuk mendampingi proses pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka, juga untuk menjadikan proses pembelajaran menyenangkan (Pengantar Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI).

Sedang Sofie Dewayani sebagai penyunting member pengantar bahwa sebagian kisah dalam buku ini menggambarkan upaya guru sebagai petani yang lihai menyiasati keterbatasan di sekolah. Mereka mengolah lahan, membuang batu-batu dan gulma bernama tantangan lalu menyulapnya menjadi potensi. Mereka melakukan ini melalui kegiatan literasi yang menarik minat siswa, seperti berbincang tentang dan menganalisis kopi, melontarkan pertanyaan untuk membuat kegiatan membaca menarik, menggiatkan apresiasi seni, dan kegiatan lain untuk menghidupkan buku. Dengan upaya kreatif dan inovasi, guru-guru ini menumbuhkan tunas literasi dari benih berupa mereka yang berkebutuhan khusus dan siswa dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Kreativitas dan inovasi itu tumbuh dari kecintaan mereka terhadap siswa, kasih-sayang kepada buku dan semangat yang begitu besar untuk melihat sang tunas tumbuh dan menyongsong dunia.

Buku yang kemudian dibagi menjadi lima bab yang terdiri dari sub tema; Menumbuhkan Lingkungan Kaya Literasi, Menumbuhkan Keasyikan dalam Membaca, Menumbuhkan Jejaring Literasi, Menumbuhkan Literasi, dan Menguatkan Siswa, Refleksi: Menumbuhkan Gerakan Literasi yang Berkelanjutan.

Berdasarkan resensi yang ditulis Handoko Widagdo (salah penulis indonesiana.tempo.co) bahwa Bagian satu, Menumbuhkan Lingkungan Kaya Literasi berkisah tentang upaya-upaya untuk menumbuhkan minat baca dengan membangun lingkungan yang merangsang anak-anak membaca. Upaya-upaya tersebut tidak sekadar menyediakan bahan bacaan, tetapi juga mengadakan berbagai kegiatan untuk menarik anak cinta membaca. Karin Karina dan Ika Irawati menyuguhkan cara lomba-lomba yang berhubungan dengan buku. Marlina Gufron, Fajar Rosdiah dan Sugiharti menyampaikan pengalamannya menggunakan berbagai upaya. Sedangkan wiwik Indriyani mengintegrasikan budaya baca dalam kurikulum.

Dalam hal menumbuhkan keasyikan membaca, Iin Indriyani menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk merasngsang siswanya membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sedangkan Rudi Wijaya mengisahkan pengalaman di sekolahnya dimana pembelajaran Bahasa Inggris menggunakan buku bacaan untuk kegiatan independent reading. Pratiwi retnaningsih menyoroti pentingnya guru menjadi teladan dalam membangkitkan keasyikan membaca bagi siswa. Agnes Budi Kuntari membagikan pengalamannya dalam melibatkan semua pihak dalam menumbuhkan keasyikan membaca. Mawarni secara khusus menunjukkan penggunaan Buku Berjenjang dalam membantu anak-anak kelas awal untuk meningkatkan kemampuan dan kesenangan membaca.

GLS tidak saja terkurung dalam kelas-kelas atau sekedar di sekolah-sekolah Gerakan ini telah menjadi sebuah gerakan masal di berbagai tempat. Oleh sebab itu secara alami jaringan literasi sekolah juga berkembang. Melalui jaringan inilah para pegiat literasi saling mendukung dan saling belajar.  Vudu Abdul Rahman mengisahkan pengalamannya menerbitkan komik dengan sebuah jaringan di Hongkong. Dharmawati membagikan pengalamannya menjangkau wilayah perbatasan NKRI dengan Gerakan Guru Perbatasan dalam menyebarluaskan program literasi. Sulastri membagikan pengalamannya tentang literasi di Jepang.

Buku ini juga menyajikan pengalaman-pengalaman guru dalam menggunakan literasi untuk menguatkan siswa. Literasi ternyata sangat baik untuk membantu belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Diyar Ginanjar, Ardanti Andiarti, Kartini Damanik, Titin Sulistiawati dan Faiz Ahsoul mengisahkan pengalamannya menggunakan literasi untuk menguatkan siswa berkebutuhan khusus.

Iin Indriyani dan Sofie Dewayani dalam epilog bersama pada buku ini menegaskan soal Kompetisi dan Kolaborasi: Membangun Komunitas Belajar. Menurut mereka, saat ini terdapat banyak salah anggapan tentang kompetisi. Kompetisi umumnya dipertentangkan dengan semangat kolaborasi. Seolah-olah, semangat kompetisi merusak kebersamaan, menghancurkan harmoni, dan memunculkan persaingan tak sehat. Bagaimanapun, praktik kompetisi yang hanya melihat pada capaian akhir saja dan mengabaikan penghargaan terhadap proses tentu dapat berdampak destruktif bagi siswa. Namun kegiatan kompetitif yang didesain dengan baik dapat mengembangkan kemampuan berkolaborasi dan kerjasama. Dalam kegiatan menambahkan bintang pada pelajaran matematika di atas, siswa berkompetisi antar kelompok melalui kegiatan kolaboratif di dalam kelompok; mereka bekerjasama untuk meraih tujuan yang sama, yaitu meningkatkan ketelitian. Dalam mencapainya, mereka berkomunikasi, saling membantu, mengecek pekerjaan, dan mengingatkan teman. Hal ini tidak saja meningkatkan kemampuan berkolaborasi, namun juga melatih kepekaan emosi dan social (Hal. 208).

Manusia adalah makhluk kompetitif. Motivasi peningkatan diri seseorang sering berawal dari keinginan untuk menjadi lebih baik, seperti orang lain, atau bahkan lebih baik. Kita tak dapat memungkiri bahwa lingkungan sosial kita selalu menghadirkan tolok ukur (benchmark) berupa standar sosial tentang prestasi dan kesuksesan yang kemudian mendefinisikan kualitas hidup dan kinerja setiap orang. Sekolah adalah kawah candradimuka tempat setiap siswa mengukur kompetensi dirinya: bagaimana dia memahami dan mengenali potensi dirinya, bagaimana ia meningkatkan kompetensi dirinya untuk dapat diterima di masyarakat; bagaimana ia menghitung resiko kegagalan yang akan terjadi, menetapkan tujuan, lalu merencanakan strategi untuk mencapainya. Seluruh pengalaman nyata dalam hidup membutuhkan kompetisi dan kolaborasi dalam proporsi yang seimbang dan menyehatkan. Kompetisi dan kolaborasi tak hanya sekadarpendekatan pembelajaran; keduanya adalah mekanisme manusiawi untuk bertahan dalam kehidupan (Hal. 210).

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here