Kami ingin pemikiran-pemikiran filsuf dan tokoh-tokoh sunda di masa lalu dikenal oleh masyarakat dunia, sama seperti kita yang pada saat ini kebanyakan hafal teori dan pemikiran para filsuf dan tokoh negara lain.

–Moch. Irvan Efrizal.

Terkadang, miniatur alam di pusat kota merupakan bentuk lain tipu daya sebuah generasi ke generasi berikutnya. Semacam penegasan halus yang menandakan bahwa suatu hari tidak ada lagi alam yang sebenar-benarnya. Maka, dibangunlah taman-taman kecil yang kemudian atas hasrat manusiawi lebih cepat bosan ketimbang dinikmati. Barangkali, semua pihak bertanggung jawab atas ketidakseimbangan alam yang kemudian istilah anomali akan beriringan dengan tumbuh-kembang anak-anak hari ini dan nanti.

Balahujan menahan keberangkatan di sekitar Pom Bensin Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Hampir setengah jam berlalu, tidak terasa melihat jarum waktu telah menunjukkan pukul 15.20 WIB. Saya sengaja membawa anak-anak untuk berkunjung ke sebuah tempat. Mereka mempersiapkan diri dengan membawa tas gendong masing-masing.

“Kita mau renang di sungai, Abi?” tanya kedua anak saya.

“Ya!” jawab saya singkat. Mereka langsung menggunakan pakaian renang dengan riang.

alt
Aanak-anak bermain dengan ikan-ikan di kolam Self Learning Institute (Dok. Vudu).

Sebenarnya, saya memenuhi janji ketika bertemu dengan Moch. Irvan Efrizal, pendiri Self Learning Institute. Pertemuan berlangsung di Rumah Kopi Baretto Jalan Galunggung – Kota Tasikmalaya. Berniat untuk mengunjungi dalam rangka silaturahmi, selain menindaklanjuti percakapan dalam berbagi pengalaman dan kegelisahan.

Beberapa hektar lahan Perhutani, ia bersama timnya menyulap wilayah tersebut menjadi zona konservasi dan edukasi di daerah Malaganti, Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Perjalanan dapat ditempuh sekitar 45 menit dari Kota Tasikmalaya dengan melewati dua anak sungai sebelum benar-benar tiba di tempat.  Banyak hal diperbincangkan dengan Rizal soal gagasan yang menurut saya brilian. Mengembalikan orang-orang berguru pada hutan. Paling tidak, ia mencoba untuk pulang ke rumah dirinya: Alam.

“Kebudayaan akan melahirkan ketaatan dan kedaulatan untuk membangun kesejahteraan melalui alam dan lingkungan.” — Self Learning Institute.

alt
Tumbuhan yang ditanam peserta sebelum pulang (Dok. Vudu).

Menurutnya, kepercayaan diri bangsa yang kaya raya akan ragam kebudayaan, kearifan lokal dan nilai-nilai falsafah mulai luntur. Perlu dipertanyakan, tetapi kepada siapa? Nilai-nilai tidak tercermin dalam tata laku keseharian, baik dalam dunia pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan kehidupan masyarakat. Degradasi pemahaman jati diri bangsa merupakan penyebab utama kemunduran peradaban sebuah bangsa. Permasalahan multidimensional yang tidak hanya merusak tatanan dunia pendidikan, tetapi juga menjalar pada sektor-sektor vital pembangunan pertumbuhan nasional. Hingar bingar kemajuan ekonomi, dan politik peradaban suatu bangsa yang selama ini banyak didewakan, ternyata tidak menimbulkan dampak yang signifikan. Hal ini terjadi lantaran pembangunan sosial, politik dan ekonomi tidak diiringi dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan terkesan monoton, begitu-gitu saja, dan hanya menjadi ritus formal program pemerintah dalam menuntaskan wajib belajar 12 tahun. Sedang realitas dunia pendidikan hari ini semakin pilu karena tidak mampu membekali peserta didik dengan kemandirian dan karakter mandiri. Beberapa pihak disibukkan dengan studi banding ke luar negeri, sementara lupa bahwa bangsa ini berbeda potensi.

“Bagi kami, ini adalah sebuah ironi tersendiri, andai saja pola pendidikan kita tidak segera berubah untuk lebih percaya diri dengan kearifan lokal dan karakter bangsa sendiri, maka pendidikan tak ubah hanya sebuah mesin pendaur ulang kemunduran peradaban bangsa,” katanya berapi-api.

alt
Jangan kotori udara dengan polusi!

Dampak buruk anggapan mencintai budaya luhur bangsa dan berjuta kandungan, nilai, ajaran, spirit yang menjadi kearifan lokal di dalamya dipandang sebagai tindakan yang kuno, kampungan, dan mistis. Bahkan, tidak sedikit yang dianggap menyimpang dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal, seluruh modal sosial itu tak ubahnya sebuah cermin yang memberi gambaran cara masyarakat dapat melalui hari-hari untuk menjadi bangsa pemenang.

Dalam upaya mengatasi kegelisahan itu, Self learning Institute berkomitmen untuk memberikan sumbangsih dengan menjadi sebuah lembaga pendidikan nilai dan karakter yang berbasiskan lingkungan, kebudayaan, dan kearifan lokal. Berupaya meracik sebuah kurikulum, metode, dan pendekatan yang memadukan keharmonisan antara ilmu pengetahuan, lingkungan, dan kebudayaan.

“Dalam istilah kami biasa disebut Science, Nature, Culture in Harmony. Keterpaduan antara komponen itu diharapkan menciptakan ruang pembelajaran yang lebih aktraktif dan mengasyikan, karena setiap peserta didik akan diajak untuk berpetualang, Journey to the Past, Change the Future,” jelas Rizal.

Pada umumnya, beberapa metode didapatkan dari beberapa sumber ajaran leluhur yang ditemukan dari naskah-naskah sunda kuno. Seperti Naskah Amanat Galunggung, Sewaka Dharma, Carita Parahyangan, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian koleksi perpustakaan nasional. Selain itu, bersumber langsung dari untaian cerita folklor kepercayaan masyarakat, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih berlaku dan masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat adat maupun masyarakat tradisional.

Seperti yang tertuang dalam ajaran Opat Kalima Pancer yang berbicara bahwa manusia harus manunggal dengan tanahnya, airnya, udaranya, dan mataharinya. Self Learning Institute adalah sebuah proses pengolahan jiwa, yang bermakna ngaji diri. Sebuah petualangan spiritual dalam mengenal dan mengolah potensi diri, agar kehidupan lebih berkualitas dan bermakna. Self Learning Institute tak lebih dari sebuah rumah sejati yang siap menampung kerinduan setiap orang untuk belajar bersama dalam mematangkan diri, menikmati keheningan, hembusan udara segar, dan gemericik air. Sejenak merefleksikan diri, belajar memaknai perjalanan hidup, saling berbagi energi dan spirit,bahkan sesekali mencoba berpetualang bersama ke masa depan.

Metode pembelajaran yang digunakan Self Learning Institute adalah metode Adventure Based Learning / Education yang dikemas dalam beberapa kegiatan dan program pelatihan di antaranya:

  • Ecological Learning & Leaderhsip Training
  • Nature Education
  • Spiritual Journey
  • Historical and Culture Discussion
  • Biodiversity Education
  • River Education
  • Mountain education

Setelah Rizal panjang lebar menjelaskan, saya kehilangan jejak anak-anak. Rupanya mereka beralih ke sungai yang terdapat sebuah curug. Saya sebenarnya mengajak anak-anak agar mereka bersedia bermalam di sana suatu hari. Cara paling sederhana mereka belajar dalam suasana alam yang damai adalah bermain dengan air, udara bersih, dan tumbuhan yang disahabati.

alt
Saya bersama Moch. Irvan Efrizal.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.