Barangkali mudah mengatakan bahwa seorang tenaga kerja wanita dan anak jalanan sebagai kaum marjinal. Sebab yang mengatakan hal tersebut tidak berada dalam posisi mereka yang menganggap lebih baik secara kasta sosial. Padahal, mereka tidak pernah berpikir menjadi kaum terpinggirkan atau dikasihani. Mereka memiliki harga diri dengan caranya sendiri, makanya memilih bekerja ke luar negri atau bertarung dengan terik matahari.

Banyak hal yang melatarbelakangi keputusan seorang tenaga kerja wanita dan anak jalanan memilih arahnya masing-masing. Latar belakang ekonomi, kasta, inferioritas, atau bahkan kesempatan mengenyam pendidikan terputus di tengah jalan.

Saya pribadi memiliki pengalaman bersentuhan dengan anak-anak pemulung sampah dan jalanan ketika membantu seorang kawan yang mengasuh mereka di Tasikmalaya. Banyak hal juga yang saya temukan dalam kehidupan mereka. Cara bertahan hidup dengan memilah sampah plastik, menjual suara, dan berdagang kecil-kecilan. Mereka bukan tidak berdaya, tetapi dilahirkan dalam lingkungan seperti demikian adalah nasib yang kemudian memengaruhi kesehariannya.

Risman yang putus sekolah sejak enam sekolah dasar kemudian menjadi seorang anak yang mengikuti kegiatan saya dengan berbagai komunitas. Terkadang mengikuti rapat di trotoar, berdagang cilok di tengah pembahasan soal kreativitas, dan tiba-tiba hadir di perpustakaan sekolah; tempat saya mengajar. Ketika beranjak remaja, ia kemudian membantu teman-teman yang berusia di bawahnya untuk belajar di tempat pos ronda. Risman memiliki kemampuan matematika yang baik, meskipun belajar otodidak. Suatu hari, ia saya beri kesempatan mengajar selama satu jam di kelas. Betapa merasa bahagia dan bangga, hingga mengunggah dokumentasi dirinya sedang mengajari anak kelas empat sekolah dasar pada laman facebooknya. Sekarang, ia telah berusia 20 tahun; memilih bekerja di bagian dapur sebuah restoran. Selama saya mengenalnya, ia memiliki perhitungan dalam hidup. Cara bertahan hidup di jalan dengan menabung di tempat kios, bekerja menjadi penunggu warnet agar bisa bermain game gratis, hingga diberi pilihan melanjutkan sekolah atau bekerja. Sejak awal, ia memang tidak memiliki niatan untuk melanjutkan sekolah, tetapi langsung mencari pekerjaan dengan ijazah SD yang dimilikinya. Beberapa kali, ia ke luar-masuk tempat kerja, hampir dapat dikatakan tidak betahan. Namun, selalu mudah mendapatkan pekerjaan baru. Ia memiliki kemampuan yang tidak biasa dengan anak-remaja seusianya. Beberapa hari yang lalu, ia menghubungi saya dan mengabarkan ingin menerbitkan buku yang ditulis pada blog pribadinya. Selain itu, ia telah memiliki tiga ekor kambing serta rumah panggung yang dibeli dari hasil jerih payahnya.

Bahkan, saya pun berteman dengan Lentera Al-Jazhiran (Nama Pena), seorang TKW yang bekerja di Taiwan, sejak tahun 2011. Pertemanan terpintal gara-gara sebuah antologi yang di dalamnya terdapat karya saya dan dia. Tidak sebatas itu, ia pernah memberi modal penerbitan buku untuk anak-anak asuh yang saya bina dalam gerakan literasi anak, tahun 2011. Ketika pulang ke Indonesia, ia mendirikan penerbitan indie di Yogyakarta. Masalah kedua identitas sosial yang saya amati sendiri, yaitu soal motivasi dan passion. Anak-anak pemulung, jalanan, dan TKW yang lain, mungkin belum terlalu berusaha keras ke luar dari zona abu-abunya.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.