Do you ever fell in a relationship and felt like, “I stay with the wrong person”?


Pada masa remaja yang menggelora, aku pernah memiliki sekitar tiga kekasih dalam periode yang berbeda. Sekarang, ketiga-tiganya sudah jadi mantan. Salah seorang dari mereka adalah cinta pertama yang akan aku ceritakan di lain waktu. Mereka menyenangkan sampai saat ini, sebab kami masih berhubungan baik. Tidak untuk balikan, tapi seru-seruan, saling meledek kebodohan masing-masing di masa lalu.

Peristiwa kandas kisah cintaku dengan mereka tentu saja diiringi cucur air mata. Aku sampai mewek-mewek nggak mau makan, susah tidur, lalu ujug-ujug rajin tahajud, ehm. Lihatkan siapa yang pada akhirnya selalu direpotkan pas lagi susah selain teman? Ya, pasti Tuhan. Hahaha. Manusia mah gitu (eh aku aja meureun).

Semua peristiwa putus itu membuat aku sadar bahwa ada hal-hal yang berulang. Entah apa sebabnya. Misalnya, kata-kata,
“Kamu terlalu baik buat aku, Py.”,
“Aku gak baik buat kamu, gak pantes buat kamu.”,
selalu menjadi kalimat pamungkas untuk mengakhiri hubungan kami. Sejak itu, aku kok jadi mikir, apa jangan-jangan para mantanku doyan sama nenek sihir dan nggak suka perempuan baik?

Meski sering sulit move on, aku tetap go on. Lagu-lagu galau macam Jika Cinta Dia Geisha, kuputar ratusan kali. Semangatku bangkit. Aku kembali membara, kemudian merasa amat religius dengan berpikir,
“Allah lebih tahu bahwa dia orang yang tidak baik untukku.”
Lebih-lebih, entah dari mana asalnya aku menemukan quote yang kupegang teguh selama masa galau,
“Sebelum bertemu orang yang tepat, Tuhan akan mempertemukanmu dengan orang yang salah.” Beuuuhhh! Ciamik betul ‘kan? Tuhan betul-betul bersama orang yang patah hati! Sejak itu aku yakin, kalau para mantan adalah bagian dari orang yang salah yang dikirim Tuhan supaya aku belajar. Keyakinan yang terbit kerana sakit dan dendam. Serem amat anjay.

Eh, tapi betulkah mantan pacar itu adalah “orang yang salah”? Kok aku enak sekali mengatai-ngatai bahwa seseorang salah padahal hakikat manusia itu tak selalu benar. Maka, menganggap mantan pacar sebagai “orang yang salah” dan tak baik, tidakkah terlihat semacam diskriminasi?

Bagaimana jika situasinya dibalik? Sudikah dianggap “orang yang salah” oleh si mantan pacar sebab kalian putus? Sudikah dianggap tidak baik oleh rekan-rekan mantanmu karena hubungan kalian tak berjalan mulus? Ya enggaklaah gue maahh. Harga diri, Mamen!

Jadilah, dalam kurun waktu semedi untuk membuat tulisan ini, aku berpikir bahwa sesungguhnya tak ada yang betul-betul menjadi salah dan benar. Aku percaya, setiap orang yang dikirim Tuhan ke dalam hidup seseorang memiliki misi masing-masing.

Beberapa orang datang untuk tinggal ada pula yang sekadar singgah. Setiap perjumpaan akan meninggalkan jejak sebagaimana perpisahan memiliki bekasnya sendiri. Jika pada akhirnya tak bersama, bukan berarti ia orang yang salah. Barangkali menurut Tuhan, justru aku yang salah.

Bagaimana bisa? Ya bisa saja, namanya juga kehendak Tuhan. Salah dalam memberikan proporsi cinta, misalnya. Buat si mantan 90, buat Tuhan cuma 10, itu pun masih dikurangi dengan keengganan. Bisa juga si mantan itu sebagai alat cambuk. Setahuku, banyak patah hati yang menumbuhsuburkan mimpi. Rasa sakit itu semacam memberikan kesadaran bahwa ada yang lebih penting dari sekadar cinta yang belum pasti. The point is, apa yang aku dapat di luar, berasal dari dalam aku.

Kegagalan memiliki hubungan yang adem dan awet, membuatku berpikir bahwa keberhasilan sebuah hubungan merupakan perkara kesiapan dan kerelaan. Aku sadar, pacarku di masa lalu, datang pada saat aku belum berhasil membahagiakan diriku sendiri. Mereka hadir ketika aku masih bersikukuh mendapatkan seseorang yang mampu memberi aku kebahagiaan dan rasa nyaman. Ironisnya, kedua hal itu tak kuciptakan dalam diriku lebih dulu. Menyedihkan bukan? Aku bahkan menggantungkan rasa bahagia dan nyaman kepada orang lain. Aku sama sekali tak siap membahagiakan diriku sendiri.

Mereka juga tiba pada masa Negara Api berkuasa. Ego yang kokoh, pengendalian diri yang payah, rasa posesif yang parah. Aku benar-benar belum rela untuk berbagi peduli kerana masih ingin menjadi prioritas diri sendiri.

Finally, when I fall in a relationship and feel like, “I stay with the wrong person”, it’s not about that person. It’s totally about my self. Relakah aku membahagiakan diri bersamanya? Sudikah berbagi emosi dan saling memprioritaskan? Mampukah aku menerima dengan lapang segala ketidaksempurnaannya?

Tuhan tak pernah mempertemukan kita dengan orang yang salah. Ia mempertemukan kita dengan orang-orang yang telah Ia pilih kemudian meminta kita untuk memilih siapa yang paling kita butuhkan. Ia memberi kita keleluasaan memilih seseorang yang dengan kehadirannya membuat kita mampu menjadi kita yang lebih mumtaz.

Nah, kalau setelah baca ini kamu jadi ikut-ikut ngawur semacam aku, itu juga murni kebebasan pilihanmu. Sumpah, nulis ini amunisinya loba pisan. Di antaranya indomie ayam bawang super pedas, tapi hasilnya begini saja.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.