Seorang penonton akan lebih fokus kepada para pemeran di atas panggung dan di dalam layar. Tanpa sadar telah meraibkan pemeran sebenarnya, yaitu mereka yang telah berjuang mempersembahkan sebuah pertunjukan itu sendiri. Meskipun demikian, mereka yang masih sibuk ketika para penonton menikmati sebuah pertunjukan, tidak lantas bersedih hati. Sejenak mereka berhenti, ketika isakan, tawa, dan tepuk tangan para penonton riuh-rendah karena terhanyut garapan yang telah dipersiapkan lama, bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga. Para pejuang tangguh yang wajah-wajahnya berupa siluet, memang berada di balik cahaya, tetapi senyumannya terlihat berjaya.

Sosok di balik layar acara Sampurasun – Raamfest, Yudha Suhaibar mulai tertarik pada kamera sejak 2015 awal. Pria kelahiran 1 September 1995 tersebut lebih tertarik video karena menyukai audiovisual. Pertama kali bersentuhan dengan komunitas kreatif karena salah satu temannya memenangkan program photo of the week dan photo of the month yang digagas Firman Ochim (Sukapura Project). Ia kemudian diajak ikut berkontribusi membuat video klip “Petuah Jendral Sudirman – Alternative Version” untuk acara Sampurasun (17/8/2017).

Selama penggarapan video endorsement untuk acara Sampurasun, ia mulai kenal dengan banyak orang kreatif Tasikmalaya. Ia pun merasa terpanggil untuk melanjutkan kerelawanan dalam acara Raamfest.

Yudha berinisiatif mengajak Ipung, Tedi dan Fahmi karena mereka dapat berkontribusi di wilayah audiovisual. Apalagi Tedi, salah seorang temannya yang tinggal di Banjar dan kurang kegiatan kreatif di sana. Pada akhirnya, Tedi dapat berkontribusi karena ingin berkegiatan sesuai hobinya .

Selain menyukai multimedia, Yudha suka berkegiatan alam bebas (naik gunung) dengan komunitas “Meumpeung Ngora”. Melihat semangat pergerakan Raamfest, ia tulus memaksimalkan kemampuan yang dimiliki.

Ia merasa bangga dapat bergabung dalam acara yang menurutnya  sangat menggelegar. Ia berharap agar kegiatan ini tidak pudar. Bahkan, ia berharap kepada tim yang telah tergabung dapat melahirkan regenerasi. Sampurasun – Raamfest dapat menjadi siklus acara tahunan dengan konsep-konsep baru. “Jika diberi umur panjang, saya akan berusaha terus berkontribusi,” semangatnya berkobar di sela-sela ngopi.

Selain bertugas dalam Tim Behind the Scene, Yudha membantu Wak Nawy untuk menjalankan tugas multiperannya. Mulai garapan acara Sampurasun hingga Raamfest memang tidak ada air minum dan makanan, tetapi pengganti hal tersebut adalah kebanggaan. Lapar yang ia rasakan saat menjalankan tugas untuk berlangsungnya acara tidak menjadi alasan untuk mengeluh. “Saya makan satu kali ketika acara berlangsung hari itu,” akunya sambil terbahak-bahak. “Bahkan, bukan hanya lapar, tapi dia tidak mandi karena saking sibuknya,” lanjutnya.

Untuk menambal keseharian, Yudha memiliki sampingan dengan menjadi seorang fotografer dan videografer pernikahan. Tanpa disadari, terlibat dalam acara Raamfest telah melupakan perkuliahannya. Bukan berarti tidak mendapatkan pelajaran, justru banyak hal yang diserap selama terlibat. Ia sadar bahwa membagi waktu itu perlu, sebab hidup persoalan adil dalam menyelesaikan hal-hal yang sedang dan akan digarap.

“Terima kasih kepada Fiat, Depot Kamera, Tedi, Provid Studio yang telah memfasilitasi tangan besi dalam memegang kamera,” pungkas Yudha malam itu.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here