Siapa aku? Pertanyaan dasar siapa pun ketika berselibut dengan dirinya sendiri karena sadar bahwa hidup harus beridentitas dan terintegritas dengan tujuan yang jelas. Namun, usia terus berlanjut yang berdampak pada ingatan karena banyak peristiwa berdesakan dalam lahan kepala. Terkadang, tujuan yang belum tercapai terendapkan dan kemudian teramnesiakan. Begitupun seorang anak lelaki yang bertanya-tanya tentang nama yang tidak dimilikinya seperti yang lain. Sang kakek tidak pernah memberitahu nama si anak lelaki tersebut. Ia kemudian mencari namanya sendiri. Dengan caranya sendiri. Apakah ia kemudian menemukan yang dicarinya? Atau bahkan, merasa sia-sia.

Curiosity killed the cat. Kadar keingintahuan (dalam bahasa gaul anak-anak sekarang serig dikenal dengan ‘kepo’) seseorang berpotensi menggiringnya ke arah bahaya. Meskipun curiosity bocah dalam Onomastika (dalam tradisi Yunani Kuno, onomastika adalah ‘hari pemberian nama’) menggiringnya ke arah yang tidak berbahaya, namun akhirnya tidak juga memuaskan tanda tanya dirinya, (Olwin Aldira Perry: 2014).

Sebuah ulasan pendek dari film “Onomastika” karya Loeloe Hendra ini terpilih untuk diputar di Festival Film Solo 2014, Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2014, Jogja-NETPAC Film Festival 2014, dan Singapore International Film Festival 2014. Dan pada akhir bulan Januari ini, Onomastika berlaga di segmen Generation Kplus di Berlinale, 2015, (Reino Ezra: 2015).

Sutradara kelahiran 23 April 1987 ini kini tinggal di Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, “Saya baru buat dua film pendek dan satu project presentasi untuk film panjang pertama, Kang. Prosesnya sekarang masih script developing. Saya buat film di Kutai, judulnya Onomastika, cerita tentang anak yang ngga punya nama. Terus film pendek yang kedua, saya buat film di Jogja judulnya Lost Wonder. Nah, project yang panjang judulnya Tale of the Land cerita tentang anak perempuan dayak korban konflik,” jelas Loeloe ketika dihubungi melalui whatsaap di Singaparna.

Biography

Loeloe studied television studies at Indonesian Institute of the Art Yogyakarta. He has directed several short films including Onomastika (2014) which screened at 65th Generation Kplus Berlinale International Film Festival, Best Short Film Indonesia Film Festival 2014, Singapore International Film Festival 2014, Short-shorts Film Festival & Asia, Tokyo- Japan 2015, Interfilm Berlin 2015. He participated in Southeast Asia Film Lab, Singapore 2014. His short film LOST WONDERS (2015) nominated in Silver Screen Award Singapore International Film Festival and his latest short film TIGU has just finished in 2017. TALE OF THE LAND is his first feature project that participates in Torino Film Lab 2017 (Sumber: pro.festivalscop.com/director/hendra-loeloe). (Vudu Abdul Rahman).

 

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.