Pertama kali tiba di Rumah Hijau Denassa disambut dengan buah Pisang Muli yang mengantarkan pikiran ke masa kecil. Teringat ayah yang kerap mengajak ke kebun untuk mencerabut singkong tiap akhir pekan. Kebun yang hampir sama; rindang, teduh, dan saat itu merasa bertualang ke dalam hutan. Mencari buah-buahan, dipetik langsung atau terjatuh dari pohonnya untuk dimakan langsung.

“Kelas komunitas!” sapa Denassa.

“Hai ….” jawab anak-anak riuh.

“Apa kabar?” Tanya pendiri RHD itu.

“Luaaaaar biasa!” jawab anak-anak semakin nyaring.

Begitulah cara Denassa menyapa anak-anak, pendiri Rumah Hijau, Gowa, Makasar, Sulawesi Selatan, yang didirikannya sejak 2007. Kehangatan komunikasi Denassa dengan anak-anak sangat terasa ketika tiba di lokasi, (Selasa, 31/7/2018). Jujur saja, lapar menghegemoni saat berada di pelataran Mapasomba. Selain itu, ingin istirah sejenak untuk merebahkan tubuh karena perjalanan Tasikmalaya – Jakarta – Makasar, yang hampir menempuh sekitar 14 jam. Irna alias Daeng Ratang dengan Anggi, kedua relawan RHD mengantarkan para musafir ilmu literasi sains menuju Bimbi Room yang lokasinya berada di lantai 2. Sebuah ruang yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dan diskusi. Di atas meja panjang tersedia hidangan jagung rebus dan makanan ringan khas Borongtala. Sedang lantai pertama digunakan sebagai ruang perpustakaan RHD.

Penyelenggara, peserta, tamu undangan, dan beberapa pejabat pusat serta daerah melingkar kulu-kulu di tengah tumbuh-tumbuhan Rumah Hijau Denassa. Getar suara Denassa, menelusuk ke dalam dada anak-anak juga orang-orang. Gerak raga tidak akan terjadi jika dorongan dari dalam tidak pernah meletup. Semacam magma yang terus mendorong lapisan tanah terdalam hingga terluar. Berawal dari tanah galian bahan batu bata. Seorang Denassa tergerak batinnya untuk menyelamatkan wilayah tersebut menjadi lingkungan konservasi. Percakapan Denassa dengan ibu-bapaknya yang telah menebang pohon mangga adalah tunas gerik batinnya. Ia kemudian berikrar untuk memiliki tanah seluas 1 hektar itu untuk menanam mimpi-mimpinya. Rumah Hijau Denassa melaksanakan gerakan pemulian (penanaman dan pembibitan) terhadap ratusan jenis tanaman, sejak 2007.

Lahan konservasi tersebut berada di sebuah wilayah yang memiliki asal usul, Mappa Karannuang secara etimologi berasal dari dua kata Mappa dan Karannuang (makassar). Mappa bermakna menguatkan, mengukuhkan, menegaskan, menetapkan. Sedangkan Karannuang bermakna kebahagiaan, kegembiraan. Menguatkan kebahagiaan merupakan salah satu makna dua kata ini. Mappa dan Karannuang berdasarkan asal usul lain, merupakan dua nama. Mappa merupakan nama dari ayahanda Denassa dan Karannuang merupakan nama kecil ibundanya. Lalu nama ini digabungkan untuk mengabadikan nama mereka pada kawasan yang melintasi beberapa areal tanah di Kelurahan Tamallayang dan Desa Bontolangkasa, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi-Selatan, Indonesia.1

Berbeda dengan beberapa orang yang tidak memiliki lahan seluas RHD. Mereka hanya mampu memanfaatkan ruang-ruang publik, semisal di Kota Tasikmalaya. Terkadang meminjam halaman rumah warga atau saung di tengah sawah. Tidak heran jika Denassa memperlakukan anak-anak penuh perasaan. Sebab selama mendirikan komuntas literasi, beberapa orang tidak asing dengan dunia anak. Selain memang mengajar juga di sekolah dasar, menengah, dan atas. Denassa benar-benar menggunakan jiwanya ketika berkomunikasi dan melayani anak-anak, baik bermain dan belajar. Put your heart into teaching sebagaimana jargon Pakde Iman Suligi, pendiri Kampoeng Batja Jember, Jawa Timur.

Denassa memiliki kemampuan berkisah di depan anak-anak. Kumpulan kisah tanaman dari presfektif sosiologi, ekonomi, dan kultural sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keberlansungan tanaman.2 Denassa bertekad untuk menyelamatkan tanaman endemik dan langka, tanaman asal Sulawesi khususnya. Anak-anak akan lebih tertarik dengan cerita ketimbang diceramahi. Imajinasi mereka akan berlesatan ke berbagai dimensi sesuai kisah yang disampaikan Denassa.

Ia merasa menjadi seorang musafir yang tengah dahaga akan perbaikan lingkungan sepanjang kegelisahan perjalanannya. Ia mesti menebus utang pada energi, meski tidak merusaknya sama sekali. Bagi Denassa, raga lingkungan pun mesti dilayani seperti berlaku kepada manusia karena mereka pun memiliki nyawa. Pandangannya jauh ke sebuah dimensi yang anak-anaknya dapat makan, minum, atau istirah di bawah pohon bambu yang ditemani lagu gemerisik daun di masa depan. Manusia bagaimana pun saktinya, ia perlu karbohidrat. Ia tidak ingin meninggalkan anak-anaknya kelaparan dengan beragam makanan yang disediakan alam. Oleh sebab itu, ia pun memiliki lahan persawahan yang luas dengan cara tanam tradisional sebagai bekal untuk anak-anak kehidupannya.

Selepas wisata reliji ke masjid tertua Katangka, Jalan Syekh Yusuf, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa, untuk mengenal lebih dekat jejak Kerajaan Gowa. Denassa berkisah sejenak sebelum menziarahi Makam Syekh Yusuf Al-Makasari, Pohon Lontar yang berdiri di atas tanah masjid merupakan benih yang ditanam dari Rumah Hijau Denassa. Talasalapang merupakan sebuah jalan di mana seorang Barista bernama Saldi meracik Kopi Malino. Pohon Tala yang tumbuh berjumlah sembilan itu, konon tinggal berjumlah delapan karena tumbang. Ah, banyak sekali kisah yang mesti dipungut dari setiap perjalanan.

Tautan:

  1. MappaKarannuang (Dikutip dari tautan: http://rumahhijaudenassa.blogspot.com/2012/02/mappakarannuang.html, pada tanggal 7 Agustus 2018).
  2. Latar Belakang (Dikutip dari tautan: http://rumahhijaudenassa.org/konservasi-tanaman/, pada tanggal 5 Agustus 2018).

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.