alt
Ilustrasi Komunitas Sketsa Langit (@sketchofthesky)

Baiklah, ini penting dibagikan kepada khalayak. Bahwa memulai langkah itu mesti dengan keberanian. Ya, apalagi jika bukan dengan mental demikian. Saya tidak tahu lagi istilahnya selain itu. “Jika mati; dengan berani. Kalau hidup; dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita,” kata Ma’in sang pemimpin muda dalam “Larasati” yang ditulis Pramoedya. Mesti dijalani dengan alur keyakinan yang jelas dan terarah, tidak serta-merta membabi buta juga. Resapi saja puisi Jalaludin Rumi, “Mereka bilang, ‘Cahaya Tuhan ada di mana-mana.’ Tapi orang-orang bertanya: ‘Di manakah cahaya itu?’ Orang yang tidak peduli mencari ke kiri dan ke kanan, tetapi sebuah suara berkata: ‘Lihat saja, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan’.”

Memelihara media digital tidak lantas akan mendapatkan keuntungan dan kaya. Hal ini bukan sekadar usaha juga. Tidak semacam dagang yang produk berbeda ditukar dengan materi lainnya. Bagaimana mungkin berada di antara masyarakat digital, jika tidak tahu letak portal. Sebagaimana dalam kehidupan nyata, apa yang dapat diberikan dalam kehidupan bermasyarakat? Memang ada perbedaan yang sangat kental antara maya dengan nyata. Perlu keterampilan juga mental yang sangat mumpuni agar tidak terjerumus. Bahkan, terbius informasi menyesatkan hingga memengaruhi pola pikir yang telah tertata. Coba perhatikan! Pemerintah, lembaga, dan komunitas cyber tengah berjuang dalam peperangan berita atau informasi hoax.

Melawan itu bukan dengan mengalahkan orang lain. Namun, berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Saya pikir setiap udara yang kautembus dengan meninggalkan bau atau wangimu akan memengaruhi orang-orang yang telah dilewati. Bahkan bisa jadi, kabar itu sampai hingga orang-orang yang akan menjemputmu di depan. Dititipkan lewat angin, diliukkan sayap burung, atau apa saja hingga pesan dari orang-orang masa lalu diterima baik orang-orang masa yang akan datang.

Sebuah media digital alternatif anak muda (raamfest.com) ini hanyalah sebuah harapan. Entah cara apa lagi menyalakan harapan itu di tengah era digital brutal. Hidup atau mati, suluh-suluh ketidakwarasan yang kering mesti dibakar. Biarkan ungun, menerangi gelap, dan paling tidak ada manfaat. Apalagi jika bukan menemani ketakutan orang-orang yang tidak betah dalam gelap. Jangan sampai ngungun!

Biarkan merangkak, tertatih, dan terjatuh hingga siapa pun tiba pada tujuannya, harapannya, dan mimpinya. Begitulah raamfest.com hadir untuk menjadi bagian dari kehidupan. Meskipun kebrutalan dan kebinalan menguasai dunia digital.

Hanya dengan spirit ‘Satu Frekuensi’, bumi ini akan sampai pada Imagine yang diangankan John Lenon. Dan, jujur saja saya berani merawat rumah hantu (raamfest.com) ini, mulai dari minus tiga juta. Ya, masih minus hingga hari ini. Tidak apa-apa, bukan sebagai pengusaha, tetapi menjadi bagian semesta.

Kali ini, media digital anak muda ini berusaha berbagi oksigen dengan memberi penghargaan sederhana. Meskipun, hanya sebuah T-Shirt raamfest.com – satu frekuensi (limited edition) dan foto wajah para pengulas atau reviewer yang disketsa oleh Komunitas Sketsa langit (@sketchofthesky).

Persembahan ini untuk menjaga semangat para pembaca setia Pasraamfest (Sebutan pembaca setia raamfest.com). Cara memantik para pembaca ini cukup sederhana, dengan memilih salah satu tulisan pada laman raamfest.com untuk direviu atau diulas dengan 5W + 1H + Kesan. Minimal 500 kata/words. Hanya saja yang unik, sayembara tersebut berdurasi 1 x 24 jam, mulai tanggal 2 Juni 2018, pukul 18.30 WIB.

Akhirnya, setiap orang atau komunitas nyata dan maya memiliki pengaruhnya masing-masing. Persoalannya, apakah membawa virus positif atau negatif? Jadi, hidup hablumminannas adalah saling memengaruhi pada kebaikan atau keburukan. Itu saja.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.