“Jangan khawatir. Semua akan berjalan lancar,” kata petugas eksekusi.

“Justru itu yang kukhawatirkan,” balas si terpidana mati.

Percakapan petugas eksekusi dengan terpidana mati yang ditulis Orlando van Bredam dalam kumpulan cerita sangat pendek Amerika Latin itu barangkali dialami Sinta Ridwan ketika divonis sebagai Odapus. Salah satu penyakit yang pernah dibacanya itu kemudian menjadi kenyataan hidup yang menghinggapi tubuhnya; lupus. Sinta pun harus rela menjadi seekor kupu-kupu sebagai lambang Komunitas Odapus yang bertarung dengan penyakit berwajah seribu.

Kejujuran seorang gadis lupus dalam membuka kelambu rahasia hidupnya tidak tanggung-tanggung. “Buku Berteman dengan Kematian”, sangat tulus dan jujur ceritanya. Tidak ada rahasia; siapa pun dapat larut dan langsung mengenali setiap jengkal kehidupan Sinta Ridwan. Bahkan, sangat telanjang. Benar-benar telanjang. Saya terkesima ketika keributan kedua orang tua yang kemudian dihardiknya dengan kalimat yang menggetarkan jagat raya. Saya pikir lebih menyakitkan daripada sikap Malin Kundang.

Akan tetapi, Sinta bukan manusia yang dikutuk menjadi batu itu. Justru, Sintalah korban ketidakharmonisan hubungan ayah-ibu dan terpaksa membanting gitar akustik kesayangannya. Ia terbang menjadi kupu-kupu dengan kepakkan sebelah sayap. Meskipun begitu, Sinta adalah dirinya sendiri, bukan Dewi Shinta dalam cerita Ramayana, apalagi bersuamikan seorang Prabu Rama Wijaya. Saya menemukan frekuensi yang sama ihwal kesetiaan Sinta dalam “Berteman dengan Kematian”  ketika dikunjungi seorang lelaki dan berniat merudapaksanya. Begitu juga dengan Dewi Shinta yang diculik Rahwana, seorang raja Alengka. Sang Dewi digoda, dirayu, dan diakali agar mempersembahkan mahkotanya di atas pangkuan sang raja yang bertepuk sebelah tangan. Sinta dan sang Dewi tidak goyah dengan rayuan maut seperti itu, keduanya mempertahankan kesuciannya. Saya sangat respect dengan memoar dari seorang odapus yang memiliki kesetiaan pada dirinya, keyakinannya, dan kehormatannya. Tabik!

Tentu saja, saya sangat lebih menghormati lagi ketika Sinta bertarung dengan serangan lupus yang membabi-buta. Belum, hantaman kebutuhan sehari-hari, kuliah, dan berobat demi mempertahankan hidup. “Hidup harus hidup – Si Hidup,” begitu ia menulis motivasi untuk dirinya sendiri. Ia berusaha keras membagi waktu untuk menjadi pekerja paruh waktu, kuliah, dan bicara dengan bahasa karya.

Selain memberi celah baru bagi para pengidap lupus, Sinta mengingatkan siapa saja yang mengidap penyakit langka sekalipun agar tidak terjebak pada prasangka kepada Sang Pencipta. Siapa pun memiliki kesempatan untuk memanfaatkan sisa waktu untuk berguna antarmanusia. Saya merasakan sebuah pesan yang sangat dalam dari buku ini, yaitu menjadi bermanfaat dalam sisa waktu yang tidak dapat terduga; sebelum kematian datang tiba-tiba.

Sosok Sinta Ridwan dalam “Berteman dengan Kematian” adalah ia yang dicintai orang-orang. Selain mewakafkan seluruh ruang kamar pribadinya, ia juga menjadi sebuah celah yang dicari setitik cahaya bintang bagi orang-orang; mereka yang odapus atau tidak.

“11 Januari 2010. Genap sudah 25 tahun usiaku. Dan, lonceng kehidupan bertalu merdu di hati yang dipenuhi harapan, seperti bernyanyi pada langit untuk tetap menghiasi hidup agar terus hidup.” Kontemplasi Sang Dewi yang ingin hidup seribu tahun lagi itu kemudian tenggelam ke dalam inti bumi hidupnya:

Adakah yang lebih indah dari kematian? Apakah ada manusia yang terobsesi pada mati? Adakah yang mau berteman dengan kematian? Apakah ada yang ingin menyelam di laut mati? 

Kisahnya terdokumentasikan dalam buku cetakan ketiga setebal 363 halaman yang diterbitkan Penerbit Ombak, 2011.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here