Penyesalan terjadi karena tidak pernah yakin untuk mencoba terlebih dahulu beberapa arah mata angin yang menunjukkan pada alamat tujuan atau tersesat. Melahirkan sejarah bukan karena kata-kata, tetapi atas nama perbuatan.

Totalitas adalah prinsip yang melatarbelakangi dirinya untuk tetap berjuang dan hadir dalam dinamika kehidupan. Perempuan yang baru menyandang gelar sarjana ilmu politik tersebut sangat bimbang soal pilihannya sendiri. Ia lebih aktif mendalami dunia seni peran mulai duduk di bangku SMA, sejak tahun 2010.

“Berawal di dalam kelas, saya berpidato dan dipaksa seorang guru untuk masuk kegiatan ekstrakulikuler teater. Akhirnya, saya mencoba bergabung dengan sekelompok orang yang terlihat melakukan pembodohan. Bayangkan saja, siapa yang tidak terkejut ketika saya dilatih vokal A I U E O dengan teriak lantang, tapi masih dikatakan bahwa itu salah,” ungkap Sinta Vaira, kesal.

Sebelum belajar seni teater perempuan yang masih single itu, belajar seni bela diri karate dan tarung drajat (boxer). Jika dibandingkan seni bela diri dan seni teater, mungkin terpikir lebih rumit olah raga tarung. Belajar bela diri selama 4 tahun tidak pernah bertemu dengan penantang atau lawan, hanya menghadapi dengan seragam dan guru yang sama. Bermodalkan menjual makaroni di sekolah sejak 2010-2011. Mengerjakan tugas gambar orang lain bahkan tugas sekolah bagi teman yang tidak paham dan malas. Menjual visi dan misi sekolah untuk murid yang kesiangan dengan harga 1000 per satu lembar. Penghasilan tersebut menjadi modal utama untuk pergi latihan seni bela diri dan seni teater.

Pada tahun 2012, ia mulai jatuh cinta pada seni teater dan akhirnya pilihan untuk menjadi ‘orang bodoh’ terus berlanjut. Ia pun meninggalkan seni bela diri yang ditekuninya karena merasa bertemu lawan yang tidak ditemukannya dalam seni bela diri, yaitu ‘kebodohan’. Terutama, peperangan antara cinta pada seni teater dan mata pelajaran di sekolah. Dampak yang terjadi adalah membuatnya bolos pengayaan (belajar tambahan sekolah untuk menghadapi UAS dan UN). Demi latihan teater untuk latihan pementasan di Kemenpora RI, Jakarta. Bersama teater dongkrak pada acara sumpah pemuda, seperti gempa yang mengguncang Tasikmalaya sehari sebelum Raamfest diselenggarakan.

Jojo, panggilan popular Sinta Vaira, diguncang celotehan Wakasek Kesiswaan yang melarangnya untuk berangkat ke Jakarta. Pada detik itu, ia menangis di hadapan guru-guru, “Mungkin tangis ini adalah kecintaan saya pada teater yang ‘bodoh’ itu!”

Ia berangkat atas nama cinta dan hatinya pada seni bukan atas nama sekolah. Karena cinta dan hatinya tidak perlu ijazah. Entah pembodohan apalagi yang harus ia jalani ketika lulus SMA. Teman seteater di sekolah sibuk sendiri. Ia tetap menjalani ‘kebodohan’-nya meskipun dengan terpaksa menimba ilmu yang dianggapnya bermusuhan; seni dan politik. Ia merasa orang paling bodoh ketika masuk ke wilayah selibut pikiran, “Siapa nantinya yang akan mati? Seni, politik, atau saya?” gumamnya.

Prodi ilmu pemerintahan mengingatkannya saat itu, “Pemerintah tidak perhatian terhadap seniman di kota ini”. Ia merasa dilema hingga jarang kuliah bahkan ujian, tapi ia masuk kelas filsafat ilmu suatu hari. Seorang dosen menjelaskan pohon filsafat yang menjelaskan nalar, akal, intuisi, imajinasi, bahkan spriritual. Semua itu telah dipelajarinya dalam seni teater, “Ilmu pemerintahan mencakup seluruh bidang tergantung kacamata apa yang akan kita gunakan, secara ilmu di politik tidak berkata bahwa seni adalah musuhnya, tapi mengapa secara jabatan mereka tidak pernah damai ?” alibinya.

Barangkali takdir Sinta harus kuliah di sana untuk menjawab kepenasaranan yang menjadi persoalan di antara seni dan politik. Jawaban itu terungkap dengan sendirinya saat pemerintah mendukung bidang seni dan memfasilitasi mereka untuk berkarya, sejak 2015.

“Mereka damai, tapi justru saling meracuni dalam kedamaian. Saya selalu berandai-andai jika orang seni belajar politik dan orang politik berkesenian, saya yakin yang diharapkan Soekarno terwujud. Tidak akan ada lagi demonstrasi tentang penuntutan hak atau sekadar protes terhadap kebijakan,” Sinta menjelaskan panjang lebar.

Pertanyaannya terjawab ketika ia melihat dan merasakan pergerakan positif yang tanpa disadari pergerakan mereka akan menjadi kebijakan baru bagi dunia politik. Mengkritik dengan menunjukkan kemampuan mereka demi membenahi penataan suatu wilayah dan regenerasinya.

RAAMFEST menjawab tepat saat ia berusaha lulus S1 Sarjana Ilmu Politik STISIP Tasikmalaya tentang perlawanan yang dihadapinya semasa SMA. Sekarang, ia katakan ‘keliru’ kepada orang yang tidak menemukan lawan. Menurutnya juga ‘keliru’ bagi mereka yang hanya demonstrasi tanpa pergerakan untuk perubahan.

“Negara ini tidak butuh otak matematika yang picik, tidak butuh pemberontakan orasi demi sebuah pemberitaan, tapi aspirasi-aspirasi anak-anak muda yang SATU FREKUENSI,” pungkas Sinta berapi-api.

–Penyunting: Vudu Abdul Rahman.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here