Sungguh menyedihkan, rasa nasionalisme, semangat patriotisme, nilai-nilai kebangsaan, kecintaan warga bangsa ini terhadap tanah air Indonesia hampir memudar. Hal ini dapat dilihat dari hasil   tes wawasan kebangsaan (TWK) pada seleksi PNS di berbagai kementerian, yang tahun ini menunjukkan trend ketidaklulusan peserta adalah akibat capaian hasil tes wawasan kebangsaan masih rendah. Meskipun, menurut berbagai sumber, passing grade untuk TWK paling rendah jika dibandingkan mata uji yang lain.

Dalam pandangan penulis, penyebab capaian hasil TWK peserta tes banyak tidak lulus. Temuan tersebut mengindikasikan nasionalisme di kalangan peserta tes yang notabene usia muda masih rendah. Meskipun bersifat kasuistis, tapi hal ini sungguh menyedihkan. Diakui, bahwa mereka kebanyakan lulusan SLTA atau sarjana, yang pernah diajarkan materi tentang Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, sejarah nasional lndonesia, budaya nasional, pendidikan kewarganegaraan, dn lain sebagainya. Namun, seiring dengan spesialisasi pendidikan dan jurusan yang ditempuh di perguruan tinggi oleh masing-masing, maka ada kecenderungan materi wawasan kebangsaan ditinggalkan, dan fokus pada materi kuliah sesuai jurusan, dan hampir tidak disentuh lagi. Akibatnya, mereka kehilangan memori tentang wawasan kebangsaan, meskipun materi keahlian baik ketika ada TWK.

Sejatinya, materi wawasan kebangsaan menjadi watak, jati diri, kepribadian dan milik setiap insan yang mengakui lndonesia sebagai tanah air dan tumpah darahnya. Terlebih bagi mereka yang lahir, hidup, dan atau  mengisap penghidupan dari kekayaan dan bumi lndonesia. Jadi, tidak hanya untuk kepentingan tes.

Dulu, saat penulis menjadi guru PPKn dan guru PSPB, atau guru sejarah, bangga menemukan anak didik yang hafal sejarah, rumusan demi rumusan Pancasila, termasuk butir-butir P-4. Penulis pun bangga menemukan anak yang hafal pasal dan isi pasal dan ayat dari UUD 1945. Begitu juga dengan nama-nama provinsi, ibu kota, nama gunung, nama sungai, nama suku bangsa, dan lain-lain. Seluruh aktivitas dilakukan lewat pendidikan dan pembelajaran melalui tes lisan dan pengulangan-pengulangan.

Melihat fenomena akhir-akhir ini sangat menyedihkan, tidak banyak anak didik yang memiliki fitrah kebangsaan yang mengakar dan mendalam. Peduli terhadap piranti kebangsaan dan tergerus arus global dan melupakan jati diri kebangsaan.

Sejatinya guru merefleksi kembali makna dan tujuan pendidikan. Sejatinya, wawasan dan nilai-nilai kebangsaan ditanamkan dalam setiap pembelajaran dan berkesinambungan. Di perguruan tinggi disajikan pada setiap semester yang ditata dalam sesi-sesi wawasan kebangsaan. Ingat, bahwa pembentukan watak kebangsaan membutuhkan internalisasi secara berkesinambungan. Untuk mengeksplorasi ilmu, sekarang banyak jaringan untuk dijadikan sumber. Namun, untuk menginternalisasikan nilai dan wawasan kebangsaan, tidak banyak teladan yang bisa direferensikan. Menyedihkan, jika justru yang katanya pembesar negeri tergelincir dalam polemik kebangsaan yang justru mendorong kaum muda tidak peduli dengan bangsanya sendiri.

Patut direnungkan soal jumlah kaum muda yang masih memiliki rasa, kebanggaan, dan cinta tanah air? Berapa banyak pula yang memiliki rasa dan tenggang rasa bahwa lndonesia adalah negara yang beragam dalam satu tujuan, dan bukan negara agama? Dan masih banyakkah yang bangga dengan bahasa persatuan, yaitu bahasa lndonesia? Semoga, ingat NKRI harga mati, tapi jangan digadaikan hanya karena kehilangan jati diri.

Ditulis Dr. H. Dadang Yudhistira, S.H., M.Pd. (Pembina Gerakan Literasi Sekolah Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya)

alt
Foto Tim BTS Raamfest

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.