Sejak memilih jalan sungai, ia menyerahkan sebagian hidupnya mengalir ke arah muara. Melalui lekuk-lekuk yang membelah daratan-daratan, jalan-jalan, hingga tepian-tepian yang dipadati kaum marjinal.

Dia membaca kenyataan tentang anak-anak sungai yang semakin berwarna gelap. Tidak ada lagi remaja-remaja perempuan yang mencuci pakaian, mandi di pinggir kali, atau sekadar berceloteh dengan riak-riak. Apalagi bidadari yang meninggalkan selendang di tepiannya. Apakah dia akan mencuri selendangnya untuk dijadikan pengantin?

Laku-laku yang direkam melalui mata lensa yang dibawanya kerap menangkap percakapan hulu dengan hilir yang tidak pernah jernih. Seorang bapak pemanggul dagangan, petani, seorang anak jalanan, pengemis, hingga seorang model mantan Miss Indonesia. Ia abadikan tanpa beban, lepas dan benar-benar mendengar Robert Frank ketika berkata, “Satu hal yang harus terekam dalam sebuah foto adalah kemanusiaan seketika itu.”

Belajar meracik kata-kata yang digemarinya, “Fajar tidak akan datang tanpa melewati kelam malam” yang ditulis Kahlil Gibran. Berceloteh dalam beberapa poster dengan berperan sebagai Rangga dalam film “Ada Apa dengan Cinta”. Namun, ia jadikan sebuah kampanye tentang aliran-aliran sungai yang semakin pekat dan beracun. Seorang kawan mengungkapkan renungannya, “Sungai itu adalah jalan pikir.” Jika demikian, pikiran orang-orang sangat kotor, sebab kenyataan sungai semakin keruh dan tidak laik untuk dijadikan sumber kehidupan.

Dia sendiri sering berteriak melalui lagu-lagu undergroundnya, “Sungai bukan tempat sampah, tapi rumah ikan.” “Wahai manusia-manusia bijaksana, boikot sampah!” pada sebuah pertunjukan di atas panggung yang disaksikan orang-orang bingung. Ketika dia berhenti di sebuah persimpangan, kepalanya tertunduk. Memandangi sebuah gang dengan menggumamkan pertanyaan persis yang dikatakan Jalaludin Rumi, “Mereka bilang, ‘Cahaya Tuhan ada di mana-mana.’ Tapi orang-orang bertanya: ‘Di manakah cahaya itu?’ Orang yang tidak peduli mencari ke kiri dan ke kanan, tetapi sebuah suara berkata: ‘Lihat saja, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan’.”

Bait-bait di atas merupakan deskripsi seorang Zebugh Abdul jabbar yang keterlibatannya dalam theme song Raamfest sebagai deklamator. Inilah bait-bait yang ditulis dan disisipkan di antara lirik yang ditulis Abe The Melodrama.

Kita adalah manusia-manusia yang berkarya dengan warna-warna yang berbeda. Namun, kita satu frekuensi dengan satu tujuan yang sama, demi kota kita tercinta; Tasikmalaya. Seperti halnya kata Bung Tomo di masa lampau, “Bersatulah! Berkaryalah, wahai manusia-manusia tangguh!

Perangainya yang bertolak belakang dengan janggut lebat pada dagunya; antara tambun dan tanggon. Akan tetapi, kharismanya sangat besar ketika berada di atas panggung, apalagi ketika membacakan sebuah puisi yang diiringi musik underground Riverside Clean Days.

“Boikot sampah! Sungai bukan rumah sampah, tetapi rumah ikan,” kalimat sakti yang legendaris jika manggung dengan bandnya. Biasanya lagi, ia ditemani Pung The Melodrama untuk sekadar menyerap inspirasi di setiap waktu kosong keduanya. (Vudu Abdul Rahman)*

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.