alt
Spektrum Langit 1996 dalam Album Satu Frekuensi – (Desain Cover: Kiken DemonsArtDevil)

Taklukkan kalimat pertama. –Duddy RS.

Buku bukan sekadar benda mati, ia merupakan kepanjangan tangan para pemikir meski raganya telah melebur dengan bumi. Bisa saja pembaca bercengkerama dengan si empukarya atau membantah buah pikirnya yang paling inti. Keduanya adalah sebuah upaya yang kerap tidak disadari seorang pembaca bahwa ia tengah melatih akal yang tumpul menjadi terasah. Lihat perbedaan seorang pembaca dengan yang bukan di sepuluh tahun mendatang! Ini soal masa depan yang ada di genggamanmu atau orang. Bagi seseorang, membaca buku adalah obat untuk menghilangkan penat, kepala berat, dan meriang. Barangkali ketika otak diajak bekerja untuk menyerap informasi (teks dan konteks), udara yang diantar darah akan mengalir deras ke muara sungai kepala. Bagi yang lain, bisa saja berbeda. Membaca buku tidak dapat dilakukan setengah-setengah. Kekhusyukkan dalam membaca harus dijaga agar konsentrasi dalam memintal alur tidak terputus. Itu pun pengalaman dari seorang penulis yang konsentrasinya dapat terganggu jika tidak mempertahankan kekhusyukkannya dalam membaca.

Berdasarkan penelitian yang disampaikan Kepala Perpusnas, Syarif Bando, bahwa rata-rata daya baca per hari masyarakat Indonesia sekitar 2 – 4 jam. Sedang menurut Unesco, standar per hari sekitar 4 – 6 jam. Sedang negara-negara maju dapat menghabiskan 6 – 8 jam. Membaca buku dalam satu hari, disarankan 1.500 halaman (dikutip dari nasional.tempo.co Waktu Baca Masyarakat Indonesia Hanya 2 – 4 Jam Per Hari). Sepersekian dari novel “Musashi” karya Eiji Yoshikawa, yang versi Jepangnya 26 ribu halaman (wikipedia). Bagi Hermawan Aksan, pembaca buku tergolong manusia aneh di Indonesia. Padahal, membaca napas bagi penulisan. Tulisan akan bertambah kaya, gaya tulisan akan terasah. Maka, membacalah karena aktivitas tersebut merupakan udara bagi penulis hebat. “Ketika satu cerpen tertunda, kau bias menulis cerpen yang lain,” pungkas Hermawan.

Setiap individu memiliki level bacaan masing-masing, tetapi untuk sampai pada level menulis, seseorang butuh level bacaan yang tinggi. Menulis secara sederhana memindahkan gagasan yang ada di kepala ke dalam tulisan. Seperti sederhana, tetapi tidak semudah itu. Banyak faktor dalam membuat karya tulis sangat sulit. Seseorang memiliki kemampuan bercerita kepada temannya yang sangat menarik. Namun, sebuah gagasan ketika dituliskan, justru menjadi rumit. Meskipun seseorang tersebut memiliki banyak ide yang luar biasa. Barangkali, ia hanya memiliki kemampuan verbal semata. Level menulis yang serius dibutuhkan membaca yang serius juga. Jika level intelektual seseorang capaiannya Z, ia mesti berjuang untuk menggapai level bacaan Z. Siapa pun dapat menjadi penulis hebat jika memiliki kemampuan atau daya baca yang hebat juga.

Tulisan adalah gagasan, jenisnya apa pun –puisi, prosa, cerpen dan novel juga gagasan. Sebuah novel karya Mochtar Lubis berjudul “Harimau-harimau”, misalnya. Sangat baik dibaca untuk anak-anak dalam rangka mengampanyekan budaya baca dan cinta lingkungan. Pemburu di hutan, kemudian diburu harimau. Suasana hutannya sangat menarik.

Acep Zamzam Noor berpendapat bahwa memahami puisi dan memahami prosa ada bedanya. Ini disebabkan karena bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan prosa. Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit dibanding memahami prosa. Kerumitan ini terjadi karena cara melukiskan pengalaman dalam puisi biasanya berlapis-lapis, tidak langsung atau runtut seperti halnya dalam kebanyakan prosa. Penyair tidak sekadar memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembacanya tentang apa yang ingin disampaikan, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi, keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya (dalam Proses Kreatif Menulis Puisi pada acara Residensi Literasi Digital: 2018).

Ia melanjutkan bahwa kemampuan berpuisi seperti mencipta, menikmati, mengapresiasi serta mengkritisi  memang tak dapat dilepaskan dari pengaruh kuat lingkungan di mana seseorang tinggal. Adapun lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Jika ketiga lingkungan tersebut memberikan pengaruh yang baik dalam mengembangkan minat, sikap, keterampilan seseorang terhadap puisi, maka tidak mustahil bakat orang tersebut akan berkembang dengan baik pula. Interaksi seseorang dengan ketiga lingkungan tersebut akan menciptakan atmosfer yang sehat bagi kegiatan apresiasi dan proses kreatif.

Belajar puisi kepada ahlinya –Acep Zam-zam Noor– memang terkesan menjadi tidak rumit. Beberapa hal yang harus diingat dalam rancang bangun puisi, menurutnya, yaitu  unsur-unsur bahasa yang kita kenal sebagai kata, frasa, irama, diksi, bait, simbol, metafor, majas dan seterusnya. Unsur-unsur tersebut merupakan perangkat yang terdapat pada sebuah rancang bangun puisi. Unsur-unsur tersebut semacam konstruksi yang akan menyangga sebuah bangunan, juga sekaligus menjadi elemen estetik yang akan membuat bangunan tersebut nampak bagus dan indah. Meskipun begitu tidak ada keharusan bahwa unsur-unsur tersebut harus selalu lengkap, atau kadar dari unsur-unsur tersebut mesti sama menonjolnya. Bisa saja sebuah puisi hanya memerlukan sebagian dari unsur-unsur tersebut, atau unsur tertentu lebih menonjol ketimbang unsur lainnya.

Tugas membuat karangan yang kerap diperintahkan guru menuju libur panjang, ternyata membuat tidak senang beberapa anak. Termasuk, cerita masa sekolah Agus R. Sarjono yang ditulis ulang Joni Ariadinata dalam bukunya “Aku Bisa Nulis Fiksi”. Perhatikan tema-tema berikut: Berlibur di Desa, Berkunjung ke Rumah Nenek, dan Berdarmawisata. Tema-tema familiar, tidak ada masalah, tapi justru itulah akarnya bagi masa sekolah dasar seorang Agus R. Sarjono. Pada tema pertama, ia kesulitan membuat karangan karena sejak kecil hingga dewasa tinggal di Bandung. “Bagaimana mungkin menulis tentang liburan di desa, sedangkan aku tidak memiliki desa?” ungkap Agus, seperti yang dikutip Joni. Sedang masa kecil Agus yang dihubungkan dengan tema kedua, bermasalah juga. Sebab ia tinggal di dalam rumah neneknya, yang kamarnya tidak lebih dari sepuluh langkah. “Bagus! Jadi kau sudah libur, Buyung? Kalau begitu, mulai besok, kaulah yang jaga toko!” perintah ayah Agus dengan kumis tebal, senyum lebar, dan teriakannya yang lantang. Bagaimana pula berdamawisata jika harus menjaga toko? Agus R. Sarjono berada dalam keadaan yang mahasulit, tapi itulah alasan ia menjadi seorang penulis ternama. Keadaan tersebut tidak menghalanginya untuk bertualang dengan kekuatan imajinasi. Ia membaca beragam buku sebagai modal menaklukkan tiga tema dari sang guru.

Pendapat Joni Ariadinata tentang kualitas karya tulis, senada dengan Aslan Abidin, “Maka marilah kita bertanggung jawab untuk itu, dengan senantiasa meningkatkan bobot tulisan kita lewat membaca, membaca, dan membaca. Setelah itu, barulah kita berproses untuk menulis, menulis, dan menulis. Ismail Raji Al-Faruqi dalam bukunya “Cultural Atlas of Islam” yang dikutip Joni Ariadinata, bahwa bahasa Al-Quran yang menggabungkan syi’ir (puisi) dan saj’ (prosa bersanjak) dengan sangat bagus dan fasih, dalam cara yang “Tidak mungkin ditiru sama sekali”. Selain kesempurnaan bunyi, kepadatan makna, kekuatan imaji yang menimbulkan efek “Keterpakuan, daya kejut, dan kekaguman”. Pesan sangat dalam bagaimana seorang penulis mempelajari Al-Quran dengan kemahabahasaanNya.

Ia melanjutkan penjelasannya bahwa kemanusiaan, cinta, keadilan, kebenaran—dan seribu satu macam kisah anak manusia yang berhubungan dengan itu—adalah inti tema yang selalu digarap ulang oleh setiap pengarang di seluruh dunia. Tak pernah jenuh dan bosan. Dalam arti kata, secara tematik, materi karya sastra  pada dasarnya telah habis. Lastas pertanyaannya, di manakah letak kreativitas? Bukankah kreativitas selalu mensyaratkan pencarian? Dan pencarian, tentu saja meletakkan padang-padang perburuan pada sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah digarap, atau diketemukan orang.

“Jangan remehkan bahasa Indonesia!” nasihat Harlis Kurniawan dalam bukunya tentang cara cepat mahir editing. Coba perhatikan skripsi mahasiswa-mahasiswi jurusan bahasa Indonesia dengan jurusan lain. Terdapat perbedaan mencolok dalam penulisan skripsinya karena berkaitan dengan aliran linguistik (ilmu bahasa). Tidak sederhana untuk menulis skripsi atau tesis yang memerlukan keterampilan salah satu aspek bahasa; menulis khususnya. Pendapat Harlis sangat penting diserap calon atau yang telah terbiasa menulis untuk melakukan penyuntingan sendiri atau dengan bantuan ahli. Hal tersebut penting dilakukan agar tulisan-tulisan dapat tersampaikan pesan-pesannya. Tidak membuat bingung para pembaca yang berniat menambah informasi dan wawasan.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.