Ia yang selalu mengucap salam sebelum mengetuk pintu pagi, siang, dan malam. Sebagaimana memandangi mata anak-anak yang selalu memancarkan masa depan. Ia adalah harapan meski keadaan genting atau suasana perang. Matahari dari balik punggung bumi mata mereka tetap ada. Aku percaya orang tua hebat tidak selalu terlihat baik. Aku pun percaya menjadi anak cahaya tidak selalu berpendar di ruang terang.

Kebenaran adalah rahasia semacam telik sandi yang sulit memecahkannya. Aku percaya bahwa cinta tidak pernah hadir dalam bentuk-bentuk. Ia hanya berupa terjemahan-terjemahan. Pada kenyataannya, cinta selalu didefinisikan dangkal dalam pengakuan-pengakuan.

Kedipan dari satu cahaya yang kemudian bersembunyi. Ia adalah cinta yang tidak pernah hilang. Seperti percakapan seorang bayi dengan sang pemilik rahim. Dalam satu nafas. Dalam satu tubuh. Dalam satu ruh.

Sebuah Tafsir adalah salah satu lirik yang digubah Supercharger dalam kompilasi album “Satu Frekuensi. Salah satu lirik dari bagian cerita dalam novel “Kota Tujuh Stanza” karya Vudu Abdul Rahman. Diterjemahkan sebuah band yang digawangi Cesar Akbar, Prabug, Kudik, dan Lupy tersebut bergenre alternative rock bernuansa 90an.

Pak Malik menengadah ke arah langit, ia bukan memandangi purnama dan kerlap-kerlip bintang malam itu. Hanya memastikan lampu stopan berwarna kuning dan tidak berubah-ubah. Jika lampu stopan tidak berganti merah dan hijau, ia membalikkan sepedanya, pulang melewati bahu malam. Sebuah percakapan gaduh di dalam dadanya sepanjang jalan, “Aku percaya bahwa orang tua hebat tidak selalu terlihat baik. Aku pun percaya menjadi anak cahaya tidak berpendar di ruang terang.”

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here