Dipikir-pikir, orang-orang yang berjiwa besar itu adalah mereka yang tersembunyi di sebuah ceruk bumi. Mereka tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. Seringkali berwujud di luar dugaan penglihatan. Bisa saja seorang perempuan tua yang memanggul bakul makanan. Ia mengantarkan makan siang untuk seorang lelaki tua yang setia mendampingi sepanjang hayat. Keduanya bertemu di sebuah galengan sawah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tuhan mempertemukan mereka ketika berpetak-petak tanah ditanami. Seluruh benih-benih itu disebarkan pada tanah berlumpur yang telah diberi jarak dengan perhitungan alami.

Para pelancong sering mengabadikan mereka karena telah jarang hilir-mudik pada lalu lintas kehidupan kota-kota. Mereka beranggapan bahwa bahasa terindah yang jarang terlihat adalah pertemuan pasutri di antara hektaran padi. Menggamit pucuk daun lalu saling menyuapi. Kenapa mereka pikir hal itu sebuah peristiwa yang mahal? Karena wanita dan lelaki tua itu didoakan seluruh makhluk di sekitar dengan bahasa paling sederhana. “Saling merawat,” seekor burung bercericit kepada pasangannya.

Tanjakan jalan, nafas patah-patah, dan liukkan lajur semacam ular. Berpadu dengan desing mesin kendara. Para musafir berpacu dengan waktu. Menuju sebuah menara yang menjulang di puncak. Mengantar gelombang bercabang pada sebuah ketinggian. Semacam jaring laba-laba seorang nelayan yang berusaha menangkap ikan. Pada suatu saat, siapa pun akan berhadapan dengan wajah lebam langit. Pipi-pipinya terlihat tertikam lesatan angan. Angin berlarian pada lalu-lintas ‘antara’. Mereka mengubah haluan awan yang berundak. Bunga-bunga matahari masih tumbuh mekar. Bergoyang-goyang di antara rerumputan liar. Sebelum bintang-bintang berpindah tempat. Mata malam mengintil dari balik kabut. Memandang redup-menyala cahaya-cahaya kecil pada sebuah ceruk. Para ibu muda mulai menyapih. Membiarkan anak-anaknya berlari ke halaman rumah sepi penghuni. Membasahi muka-muka yang belum disentuh mata air dosa. Para musafir berlarian, menuruni bukit dan menerjang ranting-ranting penghadang. “Hujan datang!”

Anak-anak hilir-mudik, naik dan turun bukit dengan ringkih. Membawa tas gendong berisi buku-buku harapan. Bulir-bulir embun berjatuhan bersama beberapa daun kersen yang ranggas. Semilir lembut menyapa para prajurit bumi di depan mata siang. Barangkali mereka berceloteh, meliukkan tubuh ketika beberapa ekor lembu melenguh. Anak-anak perempuan berkulit cokelat sedikit bermuka pucat. Cuaca perbukitan menelusuki pintu-pintu jiwa. Mengajak mereka berlari menuju pecahan-pecahan matahari. Sepasang kekasih mengepulkan percakapan tentang masa depan. Di atas meja dengan akar-akar kalimat yang mulai merambat. Roda gerobak bubur ayam berputar lambat. Didorong sang peniaga yang tulang-tulang kakinya mulai rapuh. Rumah bambu yang dihuni anak-anak ayam mulai rubuh. Bertahan pada turunan jalan yang entah berdiri sampai kapan. Orang-orang memilin nasib di sebuah kampung halaman. Memandangi tujuan dengan mata pikiran. Mengatur perjalanan dengan metronom paling beraturan.

Kisah-kisah yang tumbuh hingga berabad-abad dari seluruh penjuru bumi, hampir sama. Perbedaannya hanya pada sosok yang menceritakannya, selain berbeda asal bangsanya. Sejak Adam diturunkan ke bumi hingga kini, peristiwa-peristiwa pun selalu berulang. Perbedaannya hanya sosok yang hidup di zaman yang terus berganti. Bukan berarti dapat dijelaskan dengan permainan hula hoop semata. Lenggang rotan dapat berputar lama pada pinggang seseorang yang lihai memainkannya. Bukan seberapa kuat ia bertahan, tetapi soal seberapa lama menghendakinya. Selamat menempuh sisa waktu! (Vudu Abdul Rahman)*

alt
Ilustrator: Leo Ruslan Aryandinata

1 COMMENT

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.