Sebuah peristiwa di bawah langit ingatan seorang anak kecil akan menjadi awan legam hingga menjadi hujan deras sepanjang usianya. Peristiwa tersebut akan terus membanjiri pikirannya dengan menaut-nautkan alasan yang kemudian dipahami ketika dewasa.

Kata-kata adalah senjata. Sejak dulu mereka kerap digunakan untuk berbagai kepentingan. Tak ada yang lebih berbahaya dari kata-kata. Ia bisa menjadi pedang tajam yang dapat merobek hati. Ia bahkan dapat menjadi api yang membakar sebuah kota.

Kota kecil yang ruah dengan petuah para kyai, tak mampu terpadam dari bara api kata. Gagas masih 11 tahun saat ia melihat asap hitam mengepul memenuhi langit di kotanya. Kata-kata telah berhasil menyulut orang-orang yang tak paham pada permasalahan. Api kemarahan meluluhlantakkan bangunan pertokoan sebuah etnis. Tahun 1996 kala itu, Tasikmalaya diliputi asap hitam kesalahpahaman yang dipantik oleh kata-kata.

Gagas sudah bukan lagi anak kecil berusia sebelas tahun, ia kini telah menjelma seorang guru bagi anak didiknya. Gagas mendapati murid-muridnya telah dimakan kata-kata yang semakin ganas. Perputaran zaman, membuat kata-kata bergerak lebih cepat. Berita-berita di televisi, media sosial, seolah tak bosan menyuguhkan aneka kejahatan dan gosip murahan. Tak lupa kebencian dan caci maki menjadi bumbu wajib di dalamnya. Gagas semakin sangsi, bisakah anak-anak ini menjadi generasi emas bagi bangsanya? Saat mereka lebih cepat mempelajari media sosial ketimbang pelajaran-pelajaran di kelas? Gagas benar-benar harus melakukan sesuatu.

Kota kecilnya yang dulu bersahaja, kini lebih sering dirundung dusta dan duka tentu saja. Meski kata-kata bekeliaran sesuka hati, namun ia tak mampu menembus benteng kokoh rutinitas. Gagas mulai kehilangan jiwa ketika ia dapati kata-kata tak lagi bergulir di halaman-halaman rumah. Sapa ramah sekadar basa basi antar tetangga seolah hanya tinggal sejarah.

Di bagian ketiga ini, penulis mulai memberikan titik terang. Sejak awal, Gagas memang telah mencandui kata-kata. Kata-kata juga yang membuatnya mengunjungi berbagai belahan Nusantara. Namun, kenangan masa kecilnya tentang langit Tasikmalaya yang lebam, membuat ia menyadari bahwa kata-kata memilki dua mata pisau. Ia ingin kembali membakar kota ini seperti puluhan tahun silam. Tetapi tidak menjadi api besar yang menghanguskan. Hanya semacam menjadi unggun.

“Aku akan membakar kota ini lagi!” gumamnya. “Bukan untuk membakar kemanusiaan. Tetapi menjadi api unggun yang membuat orang-orang melirik dan memantik kepenasaranan. Mengajak mereka yang menghampiri untuk menggenggam harapan bersama-sama,” sebelum mematikan lampu, ia melanjutkan racauannya di bawah selimut kesadarannya.—Membakar Sebuah Kota, Kota Tujuh Stanza

 Dan unggun itu ia nyalakan dari ruang tamu rumahnya. Dikelilingi rak-rak pohon dan kitab-kitab dari berbagai penjuru mata angin sebagai penunjuk jalan. Gagas menciptakan belantara kata-kata bukan sebagai amok namun pelita. Gagas tetap mencintai kata-kata, ia menjadi kata-kata yang akan menyibak asap kelam dari langit kotanya.

alt
Foto Rizky Rukmantara (@rizky.rizkyrukmantara)

dikirim oleh Lupy Agustina Dewi

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here