Masa lalu seorang anak yang berada di bawah garis kegetiran, kemiskinan, dan keterhinaan terkadang membentuk mental kuat seiring tumbuh-kembangnya. Seorang anak tersebut pasti bukan orang biasa yang sekali jatuh lalu melenguh. Ia pasti memiliki kemauan tinggi yang jarang dimiliki seorang anak yang seharusnya berada di dalam kelas sebuah sekolah dasar.

Anak perempuan itu lahir di Bantul, Yogyakarta, 4 Desember 1963 yang diberi nama Kiswanti. Pada masa kanak-kanaknya, ia mengalami kondisi yang tidak semujur teman-temannya. Ia selalu makan sesaji hingga warga khawatir bahwa ia akan jadi orang yang tidak waras  karena makan persembahan. Kiswanti yang miskin, memengaruhi pihak sekolah, ia tidak bisa menjadi anggota perpustakaan.  Begitulah salah satu kisah yang diceritakannya di depan para tamu dari berbagai negara. Ia sampaikan di atas podium Wadah Global Gathering, Hotel Millenium, Jakarta, 22 – 23 Maret 2018.

Berbagi penemuan dalam hidup yang terang dan gelap di depan para tamu dari seluruh negara ditempuh dalam waktu tidak sekejap. Tidak sebentar pula memiliki kesempatan dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara itu. Berbicara di depan tamu yang hadir dari 18 negara, bagi ibu paruh baya ini tidak sekadar sebuah kebanggaan.

Kiswanti bergabung dengan Yayasan Wadah, Parung, Kota Bogor sejak tahun 2008. Acara yang diselenggarakan Wadah Global Ghatering merupakan yang ketiga kalinya. Pada acara WGG pertama di Bali membahas soal kemiskinan, yang kedua di Yogyakarta tentang pendidikan, dan ketiga di Jakarta membahas tentang peran perempuan dalam mencapai tujuan global 2030.

Wadah Global Gathering dengan tema Women: Toarchbearers and Pilars  of Hop  Toward  Achievieng the 2030 Global Goal (SDGS). Pertemuan diikuti dan dihadiri oleh pekerja sosial terkhusus kaum perempuan dari seluruh dunia. Para perempuan itu tentu saja yang memberikan pengaruh kuat  dalam memberikan pengaruh baik terhadap lingkungan dan masyarakat.

Dari 15 pembicara, Kiswanti mewakili Indonesia mengisi sesi 2 dalam Passion for Learning bersama Sonya Stepen – Malaysia, dan Puspha Madhawat – Kalpana  Das, India. Ketiga sesi lainnya, yaitu Zakiyah Samal – Aktivis Perdamaian Pasca Konflik Kristen Islam di Ambon, Goma Devi  Chapagai dan  Sonam  lhamo – Buthan, dan Estrellita Verenio Imelda Sibulan – Philipina (Session 1 Women Power). Witnowati – Bandung, Rachel de Fretes – Papua, Bernatte  Philogene – Haiti (Session 3: Quality Education – Health is Wealth: 1. No Poverty, 2. Zero Hunger). Rasmi – NTT, Dominggas De Jesus – Timor Leste, Sumitra Tamang dan Sita Lohani – Nepal (Session 4: Women  From Afar – Good  Health  and Well – Being).

alt
Kiswanti berfoto bersama dengan para pembicara dari 15 negara.

Sejak Desember tahun 2017, ia dihubungi oleh pihak penyelenggara untuk berbicara  tentang sosok diri dan kontribusi dalam dunia pendidikan di masyarakat. Menurut panitia, penilaian terhadap gerakan literasi di Taman Bacaan Masyarakat Warabal, Parung, Kabupaten Bogor, telah masuk dalam target SDGs 2030 PBB.

“Aku sempat bingung ketika dihubungi panitia karena belum mengetahui tentang SDGs,” kata pendiri TBM Warabal tersebut. Seluruh pembicara  serta  pengurus ECOSOC (Economi dan Social  Council) PBB, serta WIC (Women Internasional Community dari berbagai negara yang kantor utamanya berada di Jerman) dipertemukan pada Rabu, 21 Maret 2018.

“Aku sangat bingung bertemu banyak orang yamg semua bicara dalam bahasa Inggris. Sebenarnya, aku mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, tapi ndak bisa mengungkapkannya,” dalam logat jawa medok ia menjelaskan.

Berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dibantu penerjemah bahasa asing di atas podium bersama pembawa acara,  Miss Katty dari Boston dan dimoderatori Jennifer dari  Amerika. Ia kemudian memulai kisah masa kecil yang terlahir dari keluarga miskin sehingga tidak dapat bersekolah. Ia diajarkan membaca oleh ayahnya yang seorang penarik becak di Yogyakarta dengan cara memotong huruf dari Koran, lalu dirangkai menjadi kalimat.

Keinginan sekolah sangat tinggi ketika telah lancar membaca. Ia mengintip dan mendengarkan dari bilik dinding kelas hanya untuk mengetahui kegiatan belajar setiap hari. Hingga suatu hari, Kiswanti diperbolehkan masuk kelas tanpa bayar SPP. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 70-an, menjadi orang miskin itu sangatlah hina, seakan tidak boleh berada di muka bumi.  Tidak ada siswa yang mendekatinya untuk sekadar berteman dan bermain saat sekolah. Tidak jauh dari sekolah ada pemakaman umum, di salah satu makam terdapat dua pohon asam yang sangat besar. Masyarakat sering menyimpan sesaji yang diletakkan di bawah pohon asam itu dalam rangka hajatan, pesta khitanan, tujuh bulanan, dan pernikahan. Ia sering memakan sesaji yang dipersembahkan warga di bawah pohon asam itu.

Kiswanti menjadi anggota perpustakaan dengan syarat saat jam istirahat dan jam pulang sekolah merapikan buku yang di pinjam, dikembalikan serta mencatat buku yang baru dating saat kelas empat.  Sejak Kiswanti lulus tingkat sekolah dasar pada tahun 1980, ia bercita-cita memiliki perpustakaan gratis. Cita-citanya itu baru terealisasi saat berusia 35 tahun.

Ia juga menyampaikan kegiatannya di TBM Warabal tentang pelayanan peminjaman buku, pendampingan kepada pembaca, kegiatan kelas PAUD, pendampingan belajar baca Alquran, matematika, komputer, bahasa Inggris, menjahit, dan belajar memasak untuk usia anak anak, remaja dan orang tua. Penguatan sisi rohani dilaksanakan melalui kegiatan majlis taklim. Sedang untuk penguatan ekonomi warga, dibentuk unit bersama simpan pinjam. Anak-anak yang pernah mengenyam kegiatan belajar dan mengajar di TBM Warabal, sebagian telah menjadi relawan untuk melakukan kegiatan sosial di TBM Warabal. Sebagian dari mereka telah ada yang mendirikan komunitas sendiri.

Ia menyampaikan juga soal pendekatan dan cara berkomunikasi kepada relawan dan masyarakat. Misi pembelajaran TBM Warabal, yaitu untuk membuka kesempatan dalam mengakses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat. Kemudahan akses informasi yang didapat, mendorong warga untuk membuat kegiatan selanjutnya. Warga terpengaruh untuk berkomunitas dalam rangka saling belajar bersama dari sumber literatur ataupun praktisi yang ada di sekitar.

Learn to Know, melalui kegiatan membaca dan berdiskusi dan saling bertukar informasi berdasarkan bahan bacaan. Kegiatan Warabal; semula hanya memberikan akses informasi berupa peminjaman buku. Setelah berjalan 10 tahun, kemudian berkembang menjadi pusat belajar warga bagi komunitas di sekitar. Terdapat sekitar 12 program kegiatan yang diinisiasi warga saat ini. Secara tidak langsung, komunitas telah menjalankan 4 pilar PBB untuk pendidikan. Learn to Do, setiap warga telah dapat mengekspresikan minatnya dari ketertarikan mereka, mulai berkarya secara terus-menerus dalam rangka belajar sepanjang hayat. Learn to Be, dari inisiasi warga yang disambut warga lainnya, maka terciptalah suasana sinergi. Sehingga, masyarakat dapat membangun rasa tanggung jawab dan menjadi bagian dari suatu komunitas untuk dapat saling berkontribusi.

Kiswanti juga berkesempatan menyampaikan komponen enam literasi dasar yang diinisiasi Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ada beberapa negara yang akan mengadopsi program yang telah dijalankan Warabal yang disesuikan dengan kondisi di negaranya masing-masing.

Kini, Kiswanti yang lulusan sekolah dasar, anak seorang penarik becak, dan menjadi anggota perpustakaan dengan beban merapikan serta mencatat buku-buku baru, telah menjadi seorang ibu. Sosok yang teduh dan member pengaruh yang tidak sekadar untuk kebaikan tempat tinggalnya, tetapi lebih dari itu. Meski menggunakan bahasa Indonesia dengan logat jawa yang masih medok, suaranya bergelombang ke seluruh dunia. Seseorang, keluarga, bangsa, dan negara dapat mengubah perekonomian yang dalam keadaan darurat. Satu-satunya jalan paling jitu untuk maju adalah kemauan tinggi untuk berubah dengan cara belajar. Kiswanti telah membuktikan suatu keadaan yang muskil menjadi mungkin. ia tidak sekadar menjadi matahari yang terbit di Warabal, tetapi juga bagi Indonesia.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.